KH. Ahmad Dasuki Siradj: “…saya belum pernah pergi dari Islam”

0
132

Oleh: Tedi Kholiludin

Selasa, 26 Nopember 1957, anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante sudah memasuki sidang ke III dan Rapat ke-70. “Saudara-saudara jang terhormat, djumlah jang hadir pada saat ini ada 340 Anggota, sedangkan kuorum jang dibutuhkan adalah 335 Anggota, dengan demikian maka rapat saya buka,” kata Sakirman yang saat itu menjadi ketua sidang.

Wakil Ketua V DPR itu kemudian memberikan kesempatan kepada Wongsonegoro, Tresna Sungkawati, Hamara Effendy, Atmodarminto untuk menyampaikan pandangannya seputar dasar negara. Setelah keempatnya selesai, politisi dari Partai Komunis Indonesia (PKI) itu memberikan kesempatan kepada rekan satu partainya. Namanya KH. Ahmad Dasuki Siradj.

Titel “KH” yang melekat pada para fungsionaris PKI pada tahun-tahun itu, bukanlah sesuatu yang aneh. Karena, memang tak sedikit “kiai merah” yang menjadikan PKI sebagai alat perjuangan untuk melakukan revolusi. KH. Dasuki sedikit beruntung. Meski sempat ditahan di Digul, ia masih bisa lolos dan masuk sebagai anggota Konstituante. Takashi Shiraishi menyebut Dasuki Siradj sebagai kawan lama Kiai Misbach. “Kawan lama” Dasuki itu meninggal di Digul.

***

Saat PKI melakukan pemberontakan pada Belanda November 1926, Ahmad Dasuki, kata Siraishi menjadi salah satu yang ditangkap. Sebanyak 1000 orang ditangkap di Surakarta. 500 orang kemudian dibebaskan setelah dilakukan penahanan dan diinterogasi. 417 kemudian dipenjara setelah diadili. 83 orang dibuang ke Digul. Tokoh-tokoh penting PKI Solo seperti Marco, Wirosoeharto, Respati dan Suwarno juga dibuang. Ahmad Dasuki Sastrowidjono, Atmosoemarto, Wiromartono yang saat itu bergabung di Moeallimin dan beberapa dari Medan Moeslimin juga ditangkap dan dibuang ke Digul.

Kebanyakan dari mereka bernasib naas disana. Mangoenatmodjo, seorang guru Islam abangan yang bukanlah anggota PKI yang turut dibuang, hilang terbawa buaya saat sedang mandi di Sungai Digul setahun setelah ia disana. Marco Kartodikromo meninggal pada 1932 karena diserang malaria. Haji Misbach, yang ditangkap sebelum Ahmad Siradj dan kawan-kawan, meninggal terlebih dahulu di Manokwari pada 1926.

Diantara mereka yang tertangkap itu, Haroenrasjid, Sismadi Sastrosiswojo dan Ahmad Dasuki Siradj bisa bertahan hidup. Mereka kemudian kembali lagi ke Surakartaa di hari-hari awal revolusi.

Moeallimin merupakan wadah dari gerakan yang kebanyakan adalah kelompok muslim putihan; guru agama, pengusaha batik, pedagang dan pengrajin. Kebangkitan gerakan Moeallimin terjadi, utamanya pasca tertangkapnya Misbach pada 1923. Ahmad Dasuki termasuk salah satu tokoh penting di Moeallimin yang kemudian menjadi sekutu Serikat Rakyat dan PKI. Dasuki kerapkali mengutip Misbach ketika ia memberikan identitas ideologis bagi Moealllimin.

Kata Shiraishi, keberhasilan PKI Solo memobilisasi kaum putihan melalui Moeallimin ini adalah salah satu kunci sukses mereka. Karenanya, PKI disana terus bertumbuh, baik dalam jumlah anggota mauupun kemandirian. Ini berbeda dengan PKI di Jogjakarta misalnya yang mendapatkan penentangan kuat dari kelompok putihan dan keraton.

***

Beberapa anggota fraksi dari Masyumi kerap menuduh kelompok PKI yang berpotensi untuk menghancurkan masjid dan agama ketika mereka berkuasa. KH. Ahmad Dasuki Siradj merasa perlu untuk memberikan bantahan atas tuduhan ini. “Saudara Ketua,” Dasuki memulai pembicaraan. “Rakyat mengerti bahwa sampai pada detik ini PKI tidak berkuasa; tetapi kenyataan telah menunjukkan bahwa banyak masjid-masjid yang telah menjadi korban pembakaran, orang bersembahyang juga sudah banyak yang dibunuh tetapi bukan dibunuh dan dibakar oleh orang-orang PKI melainkan oleh gerombolan DI dan TII,” katanya menceritakan tentang fakta yang sesungguhnya terjadi.

Dasuki justru merasa heran dengan anggota fraksi Masyumi yang sepertinya meminta agar ada pemakluman dan pengampunan bagi mereka yang ada didalam kelompok DI/TII. “… yang terhormat Saudara K.H. Moh. Isa Anshary juga setuju dengan tindakan pengacauan negara oleh gerombolan DI, TII karena Negara Republik Indonesia bukan Negara Islam,” Dasuki menyesalkan.

Di sisi lain, Dasuki juga mencoba untuk memahamkan kepada kelompok NU tentang hubungan Islam dan Komunisme. H. Moh Thaha dari Fraksi NU sempat mengatakan kepada Dasuki Siradj agar kemabli kepada ajaran Islam. Terhadap hal ini, Dasuki Siradj berkata, “Kepada Saudara yang terhormat H. Moh. Thaha kawan sekampung saya di Solo, saya sampaikan terima kasih atas ajakan Saudara untuk saja kembali kepada Islam. Tetapi Saudara H. Moh. Thaha sendiri tahu bahwa saya belum pernah pergi dari Islam,” kata Dasuki.

Bahkan Dasuki secara meyakinkan mengatakan, pengalamannya 33 tahun bersama PKI justru semakin mengukuhkan bahwa jika kembali kepada Islam itu berarti untuk menjalankan hukum Allah dalam praktek politik, maka PKI lah tempatnya. “Saya menyatakan terima kasih kepada Saudara K.H.M. Thaha yang mengatakan bahwa Di dan TII itu adalah pengkhianat Islam,” terang ayah ahli fisika nuklir (alm) Prof. Achmad Baiquni di akhir paparannya.

Catatan:
Referensi tulisan ini berasal dari buku Zaman Bergerak (Takashi Shiraishi) dan Risalah Perundingan Sidang Konstituante tahun 1957 jilid 6.

Keterangan bahwa KH. Ahmad Dasuki Siradj adalah ayah Prof. Achmad Baiquni diperoleh dari Budiman Sudjatmiko.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here