KH. Dian Nafi’: Toleransi Beragama Seperti Susunan Tower

0
162
KH. Dian Nafi, Pengasuh Pondok Pesantren al-Muayyad Windan Makamhaji Sukoharjo, Jawa Tengah
 KH. Dian Nafi, Pengasuh Pondok Pesantren al-Muayyad Windan Makamhaji Sukoharjo, Jawa Tengah

KH. Dian Nafi, Pengasuh Pondok Pesantren al-Muayyad Windan Makamhaji Sukoharjo, Jawa Tengah

[Semarang –elsaonline.com] Kemajemukan masyarakat Indonesia dengan berbagai macam agama dan keyakinan yang mereka miliki, tujuannya sama, yakni untuk memperoleh kehidupan yang sejahtera sesuai dengan ajarannya masing-masing. Sebab misi yang diusung oleh agama tidak lain adalah sebuah kebaikan. Hal demikianlah yang disampaikan oleh KH. Dian Nafi’ pada acara Workshop Peningkatan Keimanan dan Ketaqwaan Pemuda yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga di Griya Wijata Patemon, Gunungpati, Semarang, Rabu (7/5) kemarin.

Kyai Dian Nafi’ mengatakan tujuan beragama dari semua agama itu tetep satu. Ibaratnya seperti tower, tower itu memiliki banyak sekali elemen yang membuat dirinya berdiri, meskipun banyak elemen yang memperkuat tower terssebut, tetap ujungnya hanya satu. Sehingga elemen satu dengan yang lain saling menyokong dan membentuk sebuah ujung.

“Ibaratnya adanya berbagai macam agama yang ada itu seperti tower, yang memiliki 1 ujung yang harus disokong oleh berbagai elemen, untuk memperkuat tower tersebut diperluakan sekrup sebagai bentuk toleransi antara elemen satu dengan yang lain, ini seperti agama apabila penganut saling toleransi maka tujuannya akan tercapai”, kata Pengasuh Pondok Pesantren al-Muayyad Windan Makamhaji Sukoharjo, Jawa Tengah.

Adanya toleransi, lanjutnya, akan memperkuat perbedaan. Apabila tidak ada toleransi maka perbedaan agama akan selalu menjadikan sebuah konflik yang terkadang berujung pada kekerasan. Perbedaan agama menjadi tantangan bagi pemeluk agamanya, sehingga pemeluk agama dituntut untuk kompleks, semakin banyak perbedaan semakin berat tantangannya

“Tingkat kompleksitas toleransi itu dapat dibedakan, mulai toleransi dalam individu, keluarga, komunitas, bangsa dan negara, sehingga toleransi dalam diri individu itu akan lebih mudah dihadapi apabila dibandingkan dengan toleransi dalam keluarga, begitu juga seterusnya”, jelasnya.

Walaupun demikian, Kyai Dian mengingatkan bahwa dalam toleransi dalam perbedaan agama itu ada batasnya, jangan sampai toleransi itu kebablasan sehingga merusak diri sendiri. “Toleransi itu tetap ada batasannya, jangan sampai toleransi itu kebablasan dalam implementasinya”, tandasnya. [elsa-ol/Wahib-@zainal_mawahib]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here