Kisah Malang Sub-Etnis Kalang [Bagian 1]

0
121
Dr. Abdul Kholiq (baju putih) tengah memaparkan tentang dinamika kehidupan masyarakat Kalang di Kabupaten Kendal. [Foto: Iwan Madari]

Semarang -elsaonline.com Departemen Kajian Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) kembali menghelat diskusi dwimingguan pada Senin, (9/4). Mengangkat tema “Identitas Sub-Etnis Jawa” kegiatan yang dihelat di halaman belakang kantor eLSA itu menghadirkan Dr. Abdul Kholiq, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Kholiq merupakan peneliti masyarakat Kalang, sebuah sub-etnis Jawa yang tidak banyak dikaji para peneliti. Selain Kholiq, diskusi yang dimoderatori Khoirul Anwar itu juga menghadirkan Kepala Departemen Advokasi eLSA, Ceprudin.

Paparan Kholieq, sore itu merupakan bagian kecil dari disertasi yang mengantarkannya meraih gelar doktor di UIN Walisongo. “Kajian keilmuan yang baik itu apabila bisa melahirkan masalah baru sehingga menjadi proyek ilmiah yang berkesinambungan,” pria kelahiran Demak itu membuka diskusi. Karena mengajar di Fakultas Tarbiyah, pendekatan antropologi tentang agama orang kalang kemudian dikaitkan oleh Kholiq dengan konteks dan dinamika pendidikannya. “Karena bicara orang Kalang, berarti bicara tentang cara hidup dan mempertahankan identitas kultural. Kajian ini saya angkat, karena Kalang itu barangkali jarang dikenal, tapi dia eksis diantara kita,” imbuhnya.

Sebagai identitas sub etnis, Kalang itu berasal dari masyarakat Jawa purba. Jauh sebelum Hindu datang, orang Jawa itu sudah punya sistem kepercayaan. “Yang disebut Agama Budhi, percaya pada Sang Hyang Taya, percaya pada kehidupan terkait animisme, dan lain sebagainya. Orang Kalang itu berusaha mempertahankan kepercayaan dan kebudayaan Jawa kuno, meski proses sejarah itu berlangsung dan memengaruhi sosial politik dan budaya masyarakat Kalang itu sendiri,” Kholiq menjelaskan identitas Kalang.

Meski demikian, lanjut Kholiq, ketika Hindu datang mereka memeluk Hindu, tapi setia memeluk Kalang. Kelompok ini memiliki kelenturan. Saat Islam datang, mereka punya kearifan untuk menyikapi perubahan zaman. Yang menarik adalah bagaimana mereka mempertahankan identitasnya hingga sekarang.

Dalam rentang kisah mereka di Jawa, Kalang itu memiliki sejarah panjang. Tapi oleh Belanda, pada awal abad 19 zaman di masa Daendels, orang Kalang itu secara demografi kebudayaan itu dihapus dan dimasukkan dalam Jawa. Istilah kalang itu sendiri ditemukan pada 400an Masehi dan terus berkembang sehingga bagaimana mereka mempertahankan diri itu selalu terbuka. “Karena sudah membaur, agak sulit dibedakan,” terang Kepala Satuan Pengawasan UIN Walisongo.

Berangkat dari catatan Belanda, ia mencermati sebaran orang-orang Kalang. Di tahun 1755, orang Kalang itu ada 3000 an; di Kendal, Pasuruan, Pati, Semarang, Pekalongan. “Pada tahun-tahun tersebut, sensus sudah menyebut orang Kalang. Ini artinya mereka istimewa. Mengapa?” Kholiq seperti tengah bertanya. Padahal, Kalang adalah orang-orang yang tersingkir. Kholiq mengatakan bahwa pada zaman Belanda mereka itu ahli dalam bidang perkayuan, sehingga mendapat posisi tinggi. Makanya di setiap hutan, yang disitu ada usaha jati, maka disana komunitas Kalang itu dibentuk. Belanda berkepentingan karena orang kalang itu dipandang bisa digunakan keahliannya untuk mendukung program belanda, dan itu terjadi juga di era Mataram serta Majapahit. [TKh/001]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here