Kisah Tiga Muslim Karyawan Gereja (1)

0
14

Oleh: Tedi Kholiludin

β€œTo judge something, you have to be there (untuk menilai sesuatu, anda harus mengalaminya secara langsung). Kurang lebih demikian formulasi penting dari catatan Branislaw Malinowski dalam Argonauts of the Western Pacific: An Account of Native Enterprise and Adventure in the Archipelagoes of Melanesian New Guinea. Buku babon Antropologi ini memang mengajak kita untuk memahami realitas. Karya etnografis dari antropolog Polandia tersebut terbit pada tahun 1922 dan di kemudian hari menjadi rujukan penting tentang bagaimana cara menggali data.

Malinowski tak sekadar mengandalkan catatan, arsip, atau dokumen-dokumen tentang tema serupa yang telah ditulis sebelumnya. Ia turun ke Pulau Trobriand di New Guinea untuk memahami Kula Exchange. Dalam sebuah foto, Malinowski terlihat duduk bersama masyarakat Trobriand sembari mendengar cerita tentang adat istiadat mereka. Malinowski mengamati, sekaligus terlibat dalam setiap gerak dan percakapan masyarakat.

Catatan etnografi Malinowski memberi kita pelajaran besar, jika kita tak pernah mengalami, jangan memberi kesimpulan. Meski tak sepenuhnya bisa diberlakukan, tapi pengalaman adalah sesuatu yang tak terbantahkan. Prasangka, biasanya muncul karena mereka tidak pernah mengalami. Tidak ada perjumpaan yang kemudian memberikan kesan.

Tiga orang muslim, Kahar, Shofwan dan Syarif (bukan nama sebenarnya) satu waktu bercerita tentang pekerjaannya. Ketiganya bekerja di sebuah gereja protestan. Shofwan dan Syarif karyawan tetap, sementara Kahar pekerja kontrak. Pengalaman mereka berinteraksi dengan pengurus dan jemaat gereja, membangun sebuah perspektif tentang Kristen dan orang-orang Kristen. Cerita ketiganya tidak bisa dibantah karena disarikan dari pengalaman empirik. Kepada saya ketiganya berkisah tentang bagaimana kehidupan kesehariannya berinteraksi dengan pendeta dan jemaat Kristen.

***

Awalnya, Kahar (45 tahun) hidup di kalangan muslim tradisional yang lebih banyak berinteraksi dengan kelompok abangan di sebuah wilayah Jawa Timur. Meski bukan santri, tapi ia termasuk kategori muslim yang taat. Ayah satu putera itu sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan. Isterinya, Sumiati (bukan nama sebenarnya), berjualan di rumah. Sebenarnya, dari usaha istrinya, kehidupan keluarga Kahar sudah cukup. Tapi Kahar tetap bekerja.

Satu waktu, Kahar diminta bekerja membenahi rumah seorang dokter. Rupanya dokter tersebut adalah seorang warga jemaat gereja. Setelah rampung pekerjaan di rumah sang dokter tersebut, Kahar kemudian ditawari untuk merenovasi gereja. Renovasinya terhitung gigantik, karena tak hanya menambal genteng yang bocor atau membetulkan saluran air yang tersumbat. Kahar ditawari untuk membongkar gereja yang bangunannya sudah sangat lama. Kurang lebih renovasi sekitar 80% bangunan.

Kahar tak langsung mengiyakan tawaran tersebut. Dia berbicara terlebih dahulu kepada Sumiati. Ternyata tidak banyak perdebatan. Tak ada keberatan dari satupun anggota keluarganya. Kahar sebenarnya sudah menduga kalau keluarganya tidak berkeberatan, tapi ia merasa perlu untuk berbagi dengan keluarganya ihwal rencana itu. Tentu saja bukan karena jenis pekerjaannya, tapi tempat dimana Kahar akan bekerjalah yang membedakannya.

Untuk lebih memantapkan langkahnya, Kahar menemui orang yang menurutnya punya pengetahuan lebih soal agama. Tujuannya sama, ia ingin berbagi tentang rencananya bekerja merenovasi gereja. Apakah ia tidak menyalahi syariat jika melakukan hal tersebut. Kurang lebih demikian maksud dan tujuan Kahar. Kahar akhirnya mendapatkan jawaban melegakan. Bekerja membangun gereja bukanlah sebuah pelanggaran terhadap ajaran agama Islam. Akhirnya Kahar bersama 8 orang temannya mulai merenovasi dan membangun gereja terbesar di sebuah kabupaten kecil.

Hingga 2017, Kahar sudah tiga tahun lamanya bekerja. Pengalaman interaktifnya membentuk cara pandang Kahar tentang apa dan bagaimana orang Kristen. Meski ketika belum bersua, Kahar juga tidak punya prasangka buruk tentang Kekristenan, tapi perjumpaan dan dialektika Kahar selama bekerja di gereja, memahatkan sebuah narasi baru.

Setiap masuk waktu sholat, sang pendeta gereja selalu mengingatkan Kahar dan kawan-kawan untuk segera mengakhiri pekerjaannya. Hal yang sama dilakukan ketika bulan ramadhan. Pendeta dan wakil jemaat menawari Kahar terlebih dahulu, apakah akan tetap bekerja (dalam keadaan berpuasa) atau libur. Karena merasa cukup kuat menjalani puasa sembari bekerja, Kahar memutuskan untuk tetap melakukan pekerjaannya. Akhirnya, sang pendeta memutuskan untuk mengurangi jam pekerjaan Kahar tiga hingga empat jam. Ketika lebaran tiba, pengurus gereja memberikan tak hanya bingkisan, tapi satu kali gaji.

Sesekali, Kahar bertanya tentang detail-detail bangunan gereja yang sedang dibuatnya. Mimbar untuk apa, ruang pertemuan kapan digunakan dan seterusnya. Sang pendeta dengan tekun menjawab dan menerangkan apa yang ditanyakan oleh Kahar. Ia pun mulai mengerti, meski hanya terbatas pada urusan fisik gereja, bukan doktrinnya.

Yang membuat Kahar tertegun adalah fakta bahwa selama tiga tahun bekerja, ia tak pernah sekalipun diajak untuk kebaktian misalnya. Alih-alih diajak untuk masuk Kristen, diterangkan apa itu Kekristenan saja tidak. Rupanya, sang pendeta hanya memberikan keterangan sesuai dengan yang ditanyakan Kahar. Sisanya, ia lebih banyak berinteraksi soal kebutuhan gereja saja.
Pada bagian inilah Kahar memiliki pandangan baru tentang Kekristenan. Sebelumnya, lamat-lamat ia mendengar bahwa kerap ada mobilisasi untuk menjadi Kristen. Kabar burung yang meski deras arusnya, tapi tak pernah terverifikasi. Kahar sendiri tidak pernah melihat atau mendengar secara langsung dari pelakunya tentang Kristenisasi itu.

Pengalaman Kahar tiga tahun bekerja di gereja ternyata memberinya pengalaman berharga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here