Konsep Toleransi dalam Islam

0
76
Foto: islam-respon.blogspot.com
Foto: islam-respon.blogspot.com
Foto: islam-respon.blogspot.com

Oleh: Khoirul Anwar

Toleransi dalam kamus Bahasa Arab disebut dengan tasamuh. Tasamuh sendiri secara bahasa memiliki beberapa arti, antara lain mempermudah (at-tasahul), murah hati (al-hilm), memaafkan (al-’afwu). Tasamuh dalam beragama (at-tasamuh ad-dini) artinya adalah menghormati keyakinan (agama) orang lain (ihtiramu ‘aqa`idil akharin).

Keharusan menghormati agama orang lain karena di samping setiap agama mengajarkan kebaikan juga semuanya datang dari Tuhan. Dalam al-Quran ada beberapa ayat yang menjelaskan tentang kebenaran agama-agama lain di luar Islam. Agama apapun jika diamalkan dengan baik maka penganutnya akan diberi pahala oleh Allah Swt. QS. Al-Baqarah 62 menyatakan:

Innal ladziina aamanuu wal ladziina haaduu wan nashoro was shobi`iina man aamana billahi wal yaumil aakhir wa ‘amila sholihan fa lahum ajruhum ‘inda robbihim wa laa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun.  

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin (Penyembah Bintang -menurut penafsir lain- Penyemban malaikat), siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan berbuat baik, maka mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran bagi mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Ajaran masing-masing agama atau disebut dengan syari’at antara satu dengan yang lainnya berbeda, namun semuanya mengandung kebaikan dan menuju pada satu tujuan. Syari’at adalah jalan, sedangkan Tuhan adalah tujuan. Dengan demikian sangat mungkin seseorang menuju Tuhan dengan jalan berbeda yang tidak dilewati oleh orang lain. Dalam QS. Al-Maidah 48 Allah menegaskan:

Li kullin ja’alnaa minkum syir’atan wa minhaajan wa lau syaa`allohu laja’alakum ummatan wahidatan wa lakin liyabluwakum fii maa ataakum fastabiqul khoiroti ilallohi marji’ukum jami’an fa yunabbi`ukum bi maa kuntum fiihi takhtalifuun.

Artinya: “Untuk tiap-tiap umat diantara kalian, Kami berikan aturan (syir’ah) dan jalan yang terang (minhaja). Andai Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepada kalian. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kalian semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian perselisihkan itu.”

At-Thabari menjelaskan bahwa maksud ayat tersebut adalah setiap kaum diberi jalan untuk menuju kebenaran, dan ritual yang dapat dilakukan. Menurut Qatadah sebagaimana dikutip at-Thabari, syari’at itu berbeda-beda. Taurat memiliki syari’at sendiri, demikian pula injil dan al-Quran, masing-masing memiliki syari’at sendiri. Melalui beberapa kitab suci tersebut Allah menghalalkan dan mengharamkan sesuatu sebagai cobaan supaya diketahui siapa yang patuh kepada Allah dan siapa yang mendurhakainya. Sedangkan agama sebenarnya hanya satu, yakni mengajarkan keesaan Tuhan (tauhid), dan ikhlas kepada-Nya.

Qatadah mengatakan: Addiinu waahidun. Wassyarii’atu mukhtalifah

“Agama itu satu, sedangkan syari’at beragam.” (at-Thabari, Jami’u al-Bayan fi Ta`wili al-Qur`an, 2000, 385)

Dengan demikian dapat dipahami bahwa toleransi dalam Islam didasarkan pada keyakinan atas kebenaran semua agama, yakni semua agama datang dari Tuhan dan mengajarkan kebaikan.   

Praktik Toleransi Nabi Muhammad Saw. dan Sahabatnya

Nabi Muhammad Saw. sebagai penerima risalah kenabian memiliki sikap toleransi sangat tinggi. Diinformasikan oleh sejarawan, ketika tetangga nabi Muhammad Saw. yang memeluk agama Yahudi sakit, nabi Saw. datang menjenguknya. Anas bin Malik meriwayatkan, ketika pembantu nabi Muhammad Saw. yang menganut Yahudi sakit beliau menjenguk dan duduk di samping kepalanya untuk menghibur. Setiap kali Abu Thalib, paman nabi Muhammad Saw. yang memeluk paganism (penyembah berhala) sakit nabi Saw. datang menjenguknya. (Munqidz bin Mahmud al-Saqar, Ghair al-Muslimin fi al-Mujtama’ al-Muslim, tp. tt. hal. 24)

Nabi juga sering bertukar hadiah dengan penganut agama lain. Anas bin Malik menginformasikan, Ukaidar Daumah al-Jandal (pemimpin kota di dekat daerah Tabuk) yang beragama Kristen memberi hadiah berupa pakaian sutra kepada nabi Muhammad Saw., dan nabi Saw. menerimanya. Ibnu Zanjawaih menceritakan, nabi Muhammad Saw. pernah mengirim hadiah kurma bungkusan kepada Abu Sufyan yang menganut paganisme di Makkah. Dalam hadiah tersebut nabi Saw. juga mengirim surat yang berisi permintaannya kepada Abu Sufyan untuk membalas hadiah nabi Saw. dengan mengirim lauk makan. (Munqidz bin Mahmud al-Saqar, Ghair al-Muslimin fi al-Mujtama’ al-Muslim, tp. tt. hal. 24).

Di Khaibar nabi Muhammad Saw. pernah menerima hadiah sate kambing dari Zainab bint al-Harits, wanita Yahudi istri Sallam bin Musykim. Namun, sayangnya hadiah dari Zainab itu bukan hadiah sebagai tanda persaudaraan, tapi hadiah penipuan, sate kambing tersebut mengandung racun. (Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379, vol. VII, hal. 497)

Nabi Muhammad Saw. juga sering menerima hadiah dari para pemimpin politik yang menganut agama berbeda, seperti dari al-Muqauqis (raja Mesir), Ukaidar (raja Daumah), dan Kisra (raja romawi). Al-Muqauqis pernah memberi hadiah wadah yang terbuat dari kaca kepada nabi Muhammad Saw. dan nabi Saw. menerimanya. (Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379, vol. I, hal. 304)

Kepada Umar bin Khathab nabi Muhammad Saw. pernah memberikan hadiah pakaian mahal. Lalu oleh Umar pakaian tersebut diberikan kepada saudaranya yang menganut paganisme di Makkah. (Abu Zakariya al-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, cet. II, 1392 H. vol. XIV, hal. 39)

Salah satu sahabat nabi Saw., Abdullah bin Amr, berpesan kepada pembantunya yang sedang menyembelih kambing nanti kalau sudah dimasak supaya tetangganya yang menganut agama Yahudi dikasih masakannya. Salah satu sahabat berkata kepada Abdullah bin Amr: “(Tetangga) Yahudi? Semoga Allah memberikan kebaikan kepadamu.” Lalu Abdullah berkata: “Aku pernah mendengar nabi Muhammad Saw. berpesan supaya berbuat baik kepada tetangga.” (Munqidz bin Mahmud al-Saqar, Ghair al-Muslimin fi al-Mujtama’ al-Muslim, tp. tt. hal. 25).

Nabi Muhammad Saw. juga sering berdo’a kebaikan untuk pemeluk agama lain. Diinformasikan, ketika ada orang Yahudi bersin di sisi nabi Muhammad Saw. nabi Saw. mendoakannya. (Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Mu’assasah al-Risalah, 2001, vol. XXXII, hal. 356). Ketika Thufail bin ‘Amr al-Dausi lapor kepada nabi Muhammad Saw. bahwa Kabilah Daus tidak mau mengikuti perintah nabi Saw., mereka memilih menyembah Berhala, para sahabat berdo’a: “Semoga kabilah Daus binasa (halakat daus).” Nabi Muhammad Saw. tidak mendo’akannya dengan keburukan sebagaimana do’a yang dipanjatkan sahabat. Nabi Saw.  mendoakannya dengan kebaikan, yaitu supaya kabilah Daus mendapat petunjuk. “Ya Allah, berilah petunjuk kepada Kabilah Daus (Allahumma ihdi dausan wa’ti bihim).” (Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, cet. I, Dar Thuq al-Najah, cet. I, 1422 H. vol. IV, hal. 44)

Ketika nabi Muhammad Saw. menerima kunjungan umat Kristen Habasyah nabi Saw. menempatkannya di masjid. Nabi Saw. menjamu dan meladeninya sendiri. Nabi saw. mengatakan:

“Mereka (Kristiani tanah Habasyah) telah memuliyakan sahabat-sahabatku, oleh karena itu aku senang memuliyakan mereka dengan tenagaku sendiri.” (Fahmi Huwaidi, Muwathinun La Dzimmiyun, Kairo: Dar al-Syuruq, cet. III, 1999, hal. 66)

Suatu ketika saat umat Kristen Najran silaturrahim kepada nabi Muhammad Saw., nabi Saw. menempatkannya di masjid, dan nabi Saw. mempersilahkan mereka untuk melaksanakan misa di dalam masjid. Sehingga masjid tersebut sebagian digunakan untuk shalat nabi Saw. bersama sahabat-sahabatnya, dan bagian lainnya digunakan misa umat Kristiani dari Najran. (Fahmi Huwaidi, Muwathinun La Dzimmiyun, Kairo: Dar al-Syuruq, cet. III, 1999, hal. 66-67)

Dalam kesempatan lain nabi Saw. berpesan kepada sahabatnya untuk tidak mendiskriminasi penganut agama lain:

“Ingatlah, barangsiapa menzalimi umat agama lain yang sudah mengadakan perjanjian damai, atau mengurangi haknya, atau membebani sesuatu di luar kemampuannya, atau mengambil kebijakan yang tidak mengenakkan hatinya, maka kelak di hari kiamat dia akan berhadapan dengan saya.” (Abu Dawud al-Sijistani, Sunan Abi Dawud, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyah, vol. III, hal. 170).

“Barangsiapa membunuh non muslim yang tidak memerangi umat Islam maka ia tidak mencium bau sorga. Sesungguhnya bau sorga dapat ditemukan dari jarak 40 tahun.” (Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Dar Thuq al-Najah, cet. I, 1422 H. vol. IV, hal. 99)

Nabi Muhammad Saw. juga memperingatkan sahabatnya untuk tidak menganiaya orang yang berbeda agama, karena do’a orang yang dianiaya meskipun non muslim cepat dikabulkan, sangat manjur:

“Takutlah terhadap do’a orang yang dianiaya, sekalipun dia bukan orang Islam (kafir). Sesungguhnya do’a yang dipanjatkan oleh orang yang dianiaya tidak memiliki penghalang.” (Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Mu’assasah al-Risalah, cet. I, 2001, vol. XX, hal. 22)

Di atas merupakan gambaran singkat toleransi nabi Muhammad Saw terhadap pemeluk agama lain. Hubungan antar umat beragama ini pada masa nabi Saw. dan sahabatnya sangat intim, bahkan tidak sedikit di antara mereka menikah beda agama, antara pemeluk Islam dengan Kristen, dan yang lainnya.

Konsep Islam tentang Persaudaraan

Sikap toleransi nabi Muhammad Saw. dan sahabatnya sebagaimana tergambar di atas didasarkan pada kesadaran bahwa semua manusia dengan beragam agama, suku, dan budaya berasal dari leluhur yang sama. QS. An-Nisa menandaskan:

Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Dalam khutbah haji perpisahan nabi Muhammad Saw. menyeru:

“Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian satu, leluhur kalian juga satu, kalian semua adalah anak turun Adam dan Adam terbuat dari debu. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa. Orang Arab tidak lebih utama daripada non Arab (‘ajam), dan non Arab tidak lebih utama daripada orang Arab. Orang kulit merah tidak lebih utama daripada orang kulit putih, dan orang kulit putih tidak lebih utama daripada orang kulit merah kecuali dengan taqwa. Ingatlah, aku sudah menyampaikan. Ya Allah, saksikanlah. Ingatlah, orang yang hadir di antara kalian harus menyampaikan (pesan ini) kepada yang tidak hadir.”

Demikian dalam Islam semua manusia dipercaya memiliki leluhur yang sama, yakni Adam, sehingga semua manusia diyakini saling bersaudara (ukhuwah insaniyah). Salah satu do’a nabi Muhammad Saw. yang dipanjatkan usai shalat malam berbunyi:

“Ya Allah, sesungguhnya aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada Tuhan selain-Mu. Dan sesungguhnya manusia semuanya bersaudara.” (Fahmi Huwaidi, Muwathinun La Dzimmiyun, Kairo: Dar al-Syuruq, cet. III, 1999, hal. 85) .

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here