Lazim, Pesan Simbolik dalam Agama

0
78

Abu Hapsin, Ph.D

(Semarang, elsaonline.com)- “Pada intinya saya ingin memetakan tiga pola penafsiran dan dua pendekatan” demikian ungkap Abu Hapsin di awal pertemuan diskusp Peta Pemikiran Islam di Kampus III IAIN Walisongo Semarang, Minggu (8/8). Dalam diskusi yang dihelat oleh LPM Justisia Fakultas Syari’ah itu ia menuturkan kalau pemetaan interpretasi itu bisa berangkat dari pola penafsiran dalam teori hermeneutika (Schleirmarcher).

“Saya berangkat dari pembedaan interpretasi berdasarkan tiga hal, (i) Gramatical Interpretation, (ii) Pshycological Interpretation dan (iii) Socio-Historical Interpretation” paparnya. Yang pertama (grammatical) untuk mendapatkan the meaning within the text. Sementara penafsirian psikologis untuk mendapatkan the meaning behind the text dan yang terakhir the meaning in front of the text.

Abu Hapsin menambahkan, kalau selama ini kita mencoba mengkaji tokoh pemikiran maka kurang lebih tiga penafsiran itulah yang ada. Teks itu tidak hanya apa yang tertulis, tetapi perbuatan juga adalah teks. Abu mencontohkan “umpamanya saya memakai batik, ini juga menjadi objek interpretasi. Lho kok tumben pake batik, dari mana? Atau misalnya Ceprudin bawa sepeda motor, oh itu karena dia terpanasi oleh temannya yang bawa motor” tuturnya. Jadi intepretasi gramatika ini untuk memahmai arti apa adanya. Sementara interpretasi psikologis itu melakukan pemaknaan terhadap teks berdasarkan pendekatan kejiwaan orang yang melahirkan teks. Kalau ada teks yang melahirkan Tuhan, maka harus ada God’s Pscychologization. Ketika Tuhan melahirkan teks al-Zaaniyatu Fajliduu, itu maksudnya Tuhan apa?

Pola penyampaian pesan yang simbolik dalam agama itu, kata Abu Hapsin lazim sekali. Seperti Hadits tentang sholat di Bani Quraidhah. Ada yang memahami bahwa pesan nabi itu sholat di Bani Quraidhah tetapi ada juga yang tidak. Banyak sekali pesan agama yang dibungkus dengan bahasa majaz atau kinayah itu jauh lebih mengena daripada bahasa-bahasa yang disampaikan langsung secara vulgar. Misalnya untuk melestarikan lingkungan, orang dulu itu biasanya menyampaikan pesan yang majaziy. Kalau disampaikan pesan dengan langsung, seringkali terjadi pemberontakan terhadap pesan keagamaan dengan bahasa langsung. Tetapi kalau disampaikan dengan bahasa mitos biasanya lebih takut, serasional apapun. Misalnya kalimat “hutan ini ada menjaga, kalau pohonnya ditebang maka nanti ada bencana”. Pesan ini biasanya lebih mengena. Pesan agama yang diinterpretasi secara psikologis itu untuk mendapatkan arti di balik teks.

Yang ketiga, kata Abu Hapsin, setiap makna memiliki kondisi sosial yang ada di sekitarnya. Seperti kata kyai, maka makna di hadapannya adalah peci, sarung atau baju koko. Kata Syeikh misalnya maknanya adalah jenggot, berjubah dan lainnya. Makanya untuk mendekatkan makna kepada objek sebenarnya, perlu ada pendalaman terhadap socio-historical interpretation. Maka penting untuk diungkapkan seting sosial pada masa itu. Sehingga ketika menafsirkan lidzdzakari mitslu hadhdhil untsayain, itu kita tidak kehilangan signifikansinya.

“Jadi kalau kita kembali kepada pola-pola pendekatan secara umum maka interpretasi gramatikal melahirkan pendekatan tekstual atau literal, sementara dua pola berikutnya pshycological dan socio-histrorical interpretation menghasilkan pendekatan kontekstual” terang Abu Hapsin.

Abu Hapsin menambahkan jika melihat masing-masing karakter dari dua pendekatan tersebut maka akan didapat beberapa karakter. “Karakter pendekatan tekstual antara lain rigid, eksklusif, romantic, text closed dan raison-servant” tegasnya. Pengikut pendekatan tekstual biasanya memimpikan masa lalu, menutupi kekurangan apa yang ada di hadapannya.

Rindu Khilafah, Orang Romantis
“Hizbut Tahrir itu romantis ketika melihat khilafah sebagai zaman ideal” kritiknya. Abu Hapsin melanjutkan, jika kita mendengarkan kalimat Wa ma jaraa baina al-shshohabii naskutu, itu sudah tidak bisa digunakan lagi untuk mengkaji sejarah.

“Sepeninggal nabi sejarah Islam penuh dengan darah” jelasnya. Jadi kalau ada orang mengatakan khilafah itu alternatif terbaik, orang ini terlalu romantis. Sementara karakter teks itu tertutup maksudnya mereka mengingkari dalam agama bahasa-bahasa majaz dan lainnya. Sementara yang terakhir, reason atau alasan itu dianggap sebagai pelayan. Kalau dihubungkan, dalam pendekatan tekstual, ‘aql itu berada di bawah naql.

Sementara dalam pendekatan kontekstual, kita melihat ada karakter fleksibilitas, inklusif, realistis, text is open, reason-a tool for analysis. Kalau teks itu terbuka, maka akan muncul ragam penafsiran. Kemudian mereka juga realistis tidak romantis. Sementara akal atau otak itu digunakan sebagai alat untuk analisis. Dengan begitu, akal dan wahyu itu saling mengisi atau berada pada jalur seimbang. Dalam bahasanya Masdar, al-Qur’an itu sebagai editor bagi akal atau otak.

Pendekatan tekstual memiliki “kelebihan” karena penafsirannya itu gampang dipahami tidak berbelit-belit. Makanya bagi orang-orang teknik atau kedokteran pendekatan tekstual itu laku. Bagi mereka halal-haram itu harus jelas. Al-halal bayyinun, al-haraamu bayyinun. Padahal tempat kita hidup adalah grey areas, daerah abu-abu. Mereka tidak sadar bahwa kita hidup di sana. Karakter yang kedua dari pendekatan tekstual adalah kemungkinan adanya konsensus, karena sudah ada patokan yang baku dan formal. Mereka lebih cepat mencapai konsensus karena ada homogenitas. Karakter yang ketiga adalah stabil, tidak ada perubahan. Yang terakhir pendekatan tekstual, “aman” (secure) dalam pengertian mereka nyaman dengan penafsiran itu.

Sementara pendekatan kontekstual ada beberapa catatan, pertama lebih memiliki kompleksitas yang tinggi. Karena tidak hanya mampu menguasai teks, tetapi juga antropologi, sosiologi, psikologi dan lainnya. Yang kedua, heterogen, sehingga tidak ada kesepakatan. Ketiga, riskan atau memiliki resiko yang tinggi. Bukan tidak mungkin ketika dibiarkan, otak ini bisa berjalan ke mana-mana.

Di akhir pembicaraan Abu Hapsin menegaskan kalau kita harus kaidah yang harus dipegang adalah al-‘ibrah bil jauhar laa bil madzhaar. Jadi prinsip pembaharu itu sebenarnya tetap bersandar pada teks, tetapi teks hanya sebagai editor. Teks tidak untuk mengungkung pemikiran. (elsa-ol/01-04)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here