“Lebaran itu Hari Rekonsiliasi”

0
19
Romo Aloysius Budi Purnomo
Romo Aloysius Budi Purnomo
Romo Aloysius Budi Purnomo

Hidup dan besar dalam keluarga Katolik, tidak membuat Aloysius Budi Purnomo menjadi eksklusif. Pria yang besar di Baturetno, Wonogiri itu tinggal di kampung dengan komposisi penduduk yang beragam. Ketua Komisi Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) Keuskupan Agung Semarang (KAS) tersebut mengaku mengalami momen spesial saat Ramadhan dan Idul Fitri. Mulai dari membangunkan sahur, merayakan lebaran hingga memimpin takbiran. Berikut dialog Tedi Kholiludin dengan sosok yang akrab disapa Romo Budi itu.

Fenomena seperti halnya mudik dan lebaran itu kan tidak banyak ditemukan dalam masyarakat-masyarakat lain. Romo Budi punya pengalaman tentang hal ini?

Saya dari kecil, memiliki banyak pengalaman berlebaran. Pengalaman merayakan Idul Fitri itu menjadi bagian hidup meski saya Katolik. Saya dan orang tua saya Katolik tetapi keluarga besar saya ada yang muslim. Namun (perayaan lebaran) ini bukan karena konteks keluarga, tapi lebih karena sebagai bagian dari masyarakat madani di kampung. Saya punya pengalaman yang indah, pernah saya tulis di Kompas pada tahun 2004. Menyambut hari lebaran, di kampung kami tidak melulu dilakukan oleh umat Islam yang punya hak dan kerinduan serta suka cita karena bulan Ramadhan berakhir, perjuangan menghayati puasa di bulan Ramadhan usai dan suka cita terjadi. Kami sebagai warga masyarakat, tidak dibedakan Katolik, Islam atau Kristen. Masa kanak-kanak saya ditandai oleh pengalaman indah itu. Menyambut Idul Fitri sebagai warga masyarakat, tanpa membedakan agama.

Jadi, bagi masyarakat secara umum ini pertanda apa?

Betul bahwa Idul Fitri adalah perayaan keagamaan. Hanya saja umat non Muslim mengalami suka cita juga bersama-sama teman-teman muslim saat menyambut lebaran. Itu yang pertama. Yang kedua, tampak di situ bahwa pengalaman hidup rukun dan bersama sebagai warga meski berbeda agama itu terasa konkret terjadi. Tanda-tandanya apa?

Menjelang lebaran, kami dari keluarga Katolik juga memakai baju baru. Dan yang paling konkret lagi, satu minggu menjelang lebaran, keluarga Katolik pun itu ikut membuat makanan kecil yang nanti disediakan di ruang tamu, karena mulai malam lebaran mereka datang ke rumah kami untuk mengatakan Selamat Idul Fitri. Dan kami sebagai anak juga mempraktekan. Kami melakukan kunjungan dari rumah ke rumah. Saya sebagai anak, bersama teman-teman sebaya, mendatangi orang-orang tua di kampung kami, sambil berlutut mengatakan; Ngaturaken Sugeng Riyadi, mugi sedoyo kalepatan kawulo leburo ing dina menika. (Selamat Hari Idul Fitri., Semoga semua kesalahan saya dihapuskan di hari ini). Dan hari lebaran itu menjadi hari rekonsiliasi. Dan itu tidak pandang bulu. Mereka (yang muslim) datang ke keluarga kami yang Katolik mengucapkan kalimat yang sama. Bagi saya ini pengalaman yang betul-betul indah. Sehingga malam takbir itu menjadi malam yang dinikmati bersama.

Kami anak-anak duduk di depan rumah, menyambut teriakan-teriakan takbir. Saya mengalami itu. Kami berkeliling kampung dengan oncor, dan karena suara saya bagus, saya disuruh memimpin takbiran. Dan itu sudah diawali selama bulan Ramadhan. Selama Ramadhan, saya bersama teman-teman bangun jam 2 pagi dan keliling kampung. Tidak hanya di malam takbir dan perayaan lebaran, pada saat Natal juga terjadi hal yang sama. Mereka saling mengucapkan selamat hari raya. Saya kemudian memberi refleksi, bahwa Hari Raya Idul Fitri, Natal itu menjadi ekspresi paling konkret peradaban yang inklusif-pluralistik.

Sekarang, saat Romo Budi sudah menjadi Pastur ada upaya untuk mentransformasikan pengalaman-pengalaman tersebut dalam nilai bergereja?

Pasti. Saya sendiri sebagai Ketua Komisi HAK, ikut mensyukuri melalui peringatan Hari Ketupat. Mengapa? Vatikan sendiri selalu mengeluarkan pesan di akhir bulan Ramadhan. Ucapan hari raya Idul Fitri dan harapan serta silaturahmi dalam tingkat yang formal dilakukan oleh Vatikan dengan menerbitkan itu. Dan sekarang ini, Paus sendiri yang membuatnya tidak melalui Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama. Disitu ada pesan-pesan untuk penguatan toleransi, kebersamaan, kerukunan dan harmoni. Sebagai Pastur, di tingkat parokial, saya mengalami banyak umat yang di luar kota ikut mudik. Maka mulai minggu kemarin, berkat penutup saya di Ekaristi saya intensikan kepada saudara-saudara yang mudik dan datang semoga diberkati Tuhan. Dan itu sudah saya lakukan.

Tantangan untuk membangun harmoni?

Kalau saya merasa pengalaman itu menjadi kerinduan di masa lalu. ada keindahan dan bahkan tidak saling kenal, lewat depan rumah karena tahu kita pakai baju baru lalu mengatakan Minal Aidin Wal Faizin meski tidak saling mengenal. Sepertinya komunikasi di jalan menjadi komunikasi yang lebih manusiawi.

Lalu pada malam takbir itu paginya ada kenduri. Dan saya sebagai anak membawakan ingkung, dan modin mendoakan. Petugas kemudian mengambil sebagian dari ingkung dikumpulkan dan menjadi pesta kampung. Hal itu sekarang tidak ditemukan lagi. Saya tidak tahu kapan persisinya hilangnya tradisi itu. Saat SMA, saya masih mengalami hal tersebut.

Saya pernah sangat menderita saat lebaran dan makanan ada banyak, pas saya sakit gigi. Itu pengalaman pahit. Tapi lebih pahit lagi, karena tradisi itu hilang. Karena saya mengalami betapa indahnya hal itu, tanpa disekat-sekat oleh agama. Bahkan perayaan agama itu menjadi perayaan budaya dan sosial. Salah satu faktor kenapa itu hilang, ketika ada pendatang yang fanatic dan mengatakan itu tidak boleh menerima salam dari yang beda agama. Dan fanatisme keagamaan itu disebarkan. Yang dulunya rukun kemudian menjadi luntur. Yang dulunya cair, menjadi beku. Sehingga sekarang ini pun meski yang tua pernah mengalami, tetapi yang muda tidak menjumpai hal tersebut. Termasuk generasi muda Katolik. Paling-paling melakukan itu karena kekerabatan, karena keluarga, satu kampung lalu mengadakan kunjungan. [elsa-ol/T-Kh]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here