Masjid Pekojan, Peninggalan Pedagang Gujarat di Semarang

0
652
3. Seseorang melintas di tengah-tengah antara masjid dan pohon bidara yang dikelilingi makam kuno.
3.Seseorang melintas di tengah-tengah antara masjid dan pohon bidara yang dikelilingi makam kuno.
Seseorang melintas di tengah-tengah antara masjid dan pohon bidara yang dikelilingi makam kuno. (klik untuk memperbesar)

[Semarang elsaonline.com]  Masih di Semarang, satu lagi masjid tua yang berjasa besar dalam penyebaran Islam di Jawa. Masjid Jami’ Pekojan adalah satu di antara masjid-masjid tua yang mempunyai arti sejarah di Semarang. Masjid ini secara administratif berada di Jalan Petolongan 1, Kampung Pekojan, Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah.

Tempat ini masih menjadi satu dengan perkampungan tua yang sangat terkenal di Semarang yakni Pecinan. Untuk dapat mengakses masjid ini cukup mudah, dari Jalan Pekojan sudah tampak Jalan Petolongan. Selain itu, masjid ini sangat popular, hampir semua orang mengetahui keberadaannya.

Meskipun di tengah hiruk-pikuk perdagangan di kawasan Pecinan, masjid ini selalu ramai ketika tiba waktu sholat. Seperti kemarin, Senin (24/3/14), saat elsaonline berkunjung ke masjid tersebut sangat ramai. Menjelang pukul 12.00 WIB, adzan berkumandang.

Selepas adzan berkumandang, warga berbondong-bondong memasuki masjid. Busana mereka beragam, ada yang masih belepotan, ada jamaah perempuan yang awalnya tak berkerudung, ada pula yang sudah rapih dengan menggunakan sarung dan baju muslimah, koko bagi laki-laki.

Mendengar puji-pujian yang suaranya liat, mereka yang masih blepotan bergegas mengambil air wudu dan bergantian pakaian alakadarnya. Terpenting masih menutup aurat sesuai yang di ajarkan dalam tata cara salat. Hingga dikumandangkan ikomat, sebagai pertanda salat dimulai, jamaah sudah ada emapt shaf.

Di depan jamaah dan di samping kanan imam, terdapat mimbar yang terbuat dari kayu jati. Di atas imam, terdapat ukiran bulan sabit dan bintang bertuliskan Arab.
Di depan jamaah dan di samping kanan imam, terdapat mimbar yang terbuat dari kayu jati. Di atas imam, terdapat ukiran bulan sabit dan bintang bertuliskan Arab. (klik untuk memperbesar)

”Alhamdulillah, keberadaan masjid ini sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Jamaahnya setiap hari selalu banyak, paling tidak ketika Duhur dan Ashar ada tiga hingga empat shaf di bangunan inti,” kata Ketua Takmir Masjid Ali Baharu saat ditemui di usai menunaikan salat duhur.

Masjid ini berada di perkampungan padat penduduk. Kanan, kiri, depan, dan belakang terdapat bangunan-bangunan besar dengan ciri khas bertembok tebal ala eropa. Kebanyakan dari bangunan ini dipergunakan untuk berdagang sehingga banyak karyawan yang salat di masjid tersebut.

”Daerah sini kan banyak sekali pertokoan dan pergudangan. Karena itu, selain masyarakat setempat, jamaah masjid ini juga banyak karyawan atau pendatang. Biasanya usai salat, jamaah berduduk-duduk santai sejenak untuk melepas lelah.” ujarnya, sembari memalingkan muka ke arah jamaah yang sedang tiduran di serambi masjid.

Sehari-hari, jamaah salat diimami oleh Ustad Idris Muhammad. Jika dibandingkan dengan masjid-masjid lainnya saat salat Duhur, dan Asahar, jamaah masjid ini lebih banyak.

Pedagang Gujarat

Dalam prasasti yang tertulis di dinding, terbuat dari marmer, masjid itu berdiri di atas tanah wakaf pemberian saudagar Gujarat, India, Khalifah Natar Sab. Setelah menetap lama di Semarang, kemudian membangun sebuah mushala kecil dengan dikeliling makam. Sayangnya, tak ada data otentik kapan awal mula mushola yang kemudian menjadi masjid itu dibangun.

Tulisan dengan menggunakan Arab pegon gundul itu menyebutkan bahwa mushala dipugar oleh lima panitia utama masjid yaitu habib seperti H Muhammad Ali, H Muhammad Asyari Akwan, H Muhammad Yakub, Alhadi Ahmad, H Muhammad Nur dan H Yakub. Masjid ini dipugar sekitar tahun 1309 Hijriah atau 1878 Masehi.

Masjid ini telah mengalami banyak renovasi, dimana renovasi besar-besaran dilakukan pada tahun 1975–1980. Bangunan asli masjid ini hanya seluas sekitar 16 meter persegi menggunakan kayu. Kala itu, mushola kecil hanya digunakan oleh kebanyakan pedagang dari Gujarat yang melakukan bongkar muat dagangan di Kali Berok (Semarang-red).

Sebelum menjadi perkampungan padat penduduk, daerah Pekojan merupakan area labuhan barang dagangan dari berbagai negara. Hal ini terbukti dengan terbentuknya kampung-kampung yang berlatar belakang nama wilayah atau suku sebuah negara. Perkampungan itu bisa dijumpai di Semarang Utara dan Tengah tak jauh dari Kali Semarang.

Dalam perkembangannya, warga sekitar banyak yang mewakafkan tanah untuk bangunan Masjid Pekojan hingga sekarang berdiri di lahan seluas 3.515 meter persegi. Serambi masjid terlihat megah, namun bangunan inti dengan empat pilar yang berusia ratusan tahun itu masih dipertahankan.

”Bangunan sekitar 16 meter meter persegi sebagai bangunan inti masjid masih utuh. Bangunan inti itu berada di tengah empat tiang dengan ciri ubin yang masih asli. Meskipun sama-sama ubin tua, namun bangunan inti berbeda, coba saja dilihat di bawah karpet, pasti corak ubinnya beda,” kata salah satu pengrus masjid Yunan Fahlevi yang juga ditemui usai salat.

Pada bagian dalam, pada dinding depan dan ruang imam, plafon dari kayu jati masih utuh. Mimbar masjid dari kayu jati bercat hijau, yang biasanya digunakan ceramah atau hutbah juga masih tertata rapih. Pada bagian atas ruang iman ada ukiran bulan sabit bertuliskan syahadat dan bintang.

Ciri khas bangunan kuno bagian tembok tebal, daun pintu tinggi berukir kipas. Ada jendela kecil, dihiasi kaca patri dan teralis berbentuk bunga. Saat ini masjid dibangun dua lantai dengan dilengkapi dengan aula di bagian depan.

Makam Keturunan Nabi

Semasa masih berupa bangunan kecil, masjid ini dulu dikelilingi makam. Hingga saat ini, di samping dan dekat serambi masjid terdapat makam-makam yang sebagian sudah tidak ada tulisan nisannya. Karena pemukiman sekitar masjid makin ramai dan jamaah makin banyak, renovasi dan penambahan bangunan pun mutlak dilakukan.

Pada renovasi tahun 1975-1980, bukan hanya kubah asli Masjid Pekojan saja yang terpaksa dipindah, makam-makam di sekitar masjid juga harus diungsikan ke Pemakaman Bergota. Meskipun yang tidak terkena bangunan hingga sekarang masih bisa dijumpai.

Beberapa makam yang tidak dipindah, seperti makam keturunan pendiri masjid, imam dan para pengurus masjid terdahulu. Konon saat makam tersebut dibongkar mayat di dalam makam tersebut masih utuh, dan kain kafan pembungkusnya pun masih bersih.

Makam keturunan Nabi Muhammad SAW, Syarifah Fathimah binti Husain Al-Aidrus di Masjid Jami Pekojan, Jalan Petolongan 1 Semarang.
Makam keturunan Nabi Muhammad SAW, Syarifah Fathimah binti Husain Al-Aidrus di Masjid Jami Pekojan, Jalan Petolongan 1 Semarang. (klik untuk memperbesar)

Atas dasar itu, makam-makam itu tetap dipertahankan dan dinding masjid dibangun miring, mengikuti tepian makan. Pada halaman masjid, dekat bangunan menara ada satu makam keturunan Nabi Muhammad SAW yang paling sering diziarahi yaitu makam Syarifah Fathimah binti Husain Al-Aidrus.

Perempuan bermarga Al-Aidrus ini merupakan penyebar agama Islam atau pendakwah putri yang wafat pada 5 Jumadil Akhir 1290 H. Selain sebagai penyebar agama, Syarifah juga sangat dikenal sebagai penyembuh. Dari sifat Syarifah yang suka menolong ini, kemudian Jalan Petolongan pun diambil dari riwayat itu.

Pada tanggal empat April ini, akan digelar Haul Syarifah dengan beberapa rangkaian acara sejak Maghrib. Setelah itu digelar Ziarah dan pembacaan Surat Yasin dan Tahlil. “Terakhir nanti ditutup dengan mauidhh hasanah (nasihat yang baik). Biasanya haul dihadiri oleh 500 orang,” jelas Yunan.

Di samping makam Syarifa Fatima, ada pohon bidara yang konon bibitnya didatangkan langsung dari Gujarat. Pohon ini tergolong unik, karena diyakini hanya ada di lingkungan masjid dan tak  dijumpai di daerah lain. Pohon ini dapat tumbuh dengan sendirinya tanpa harus disemai.

“Ponon bidara ini hanya dijumpai di masjid ini, kalau diluar tak ada. Konon pohon ini bibitnya dibawa dari Gujarat langsung,” tutur Fahlevi sembari menunjuk ke arah pohon Bidara yang dibawahnya masih terdapat makam-makam kuno.

Konon, jika disemai pohon ini dapat tumbuh lalu tidak lama kemudian mati dengan sendirinya. Pohon ini juga memiliki manfaat yang sangat banyak. Buahnya yang rasanya sedikit asam dan manis diyakini dapat mengobati sakit perut. Daunnya bisa digunakan untuk memandikan/melemaskan mayat yang kaku, selain untuk menghilangkan bau tak sedap dari mayat.

Masjid ini setiap bulan Ramadan, mengadakan kegiatan yang sama dengan masjid yang lain. Namun ada tradisi yang sangat khas dan spesial, selama sebulan penuh, ada menu buka puasa bersama. Sejak dulu sampai sekarang menu yang disajikan adalah bubur ala india.

Bubur putih itu dari beras yang dicampur santan kelapa dengan lauk sambal goreng, buah-buahan dan kurma, dengan minuman kopi susu/susu coklat. Setiap hari Kamis, menu berbukanya adalah bubur putih dengan lauk gule kambing. “Bubur India itu hanya ada di Bulan Puasa. Hari-hari selain bulan Ramadan tidak ada” tukas Yunan yang juga masih keturunan dari Gujarat itu. [elsa-ol/Cep-@Ceprudin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here