Masyarakat Kudus Junjung Tinggi Pluralisme

0
177
Tokoh Lintas Agama melakukan doa bersama sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. Foto: Abdus Salam.
Tokoh Lintas Agama melakukan doa bersama sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. Foto: Abdus Salam.
Tokoh Lintas Agama melakukan doa bersama sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. Foto: Abdus Salam.

[Kudus-elsaonline.com] Keberagaman itu adalah realitas dan selalu berharga untuk dicintai. Demikianlah butir pemikiran Kepala Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Heri Darwanto saat menjadi salah satu pembicara dalam seminar regional ‘Mengelola Keragaman di Pedesaan’ di Aula Gereja GITJ Glantengan Jalan Sunan Muria No. 51 B Kudus, Sabtu (3/10/2015) kemarin.

Sikap pria kelahiran 27 Juli 1972 ini kiranya memang patut diapresiasi dalam mengkampanyekan Desa Karangrowo sebagai daerah multikultur. Dia meyakini betul bahwa kebinekaan di negeri ini merupakan kekuatan. Menurutnya, perbedaan agama, suku, budaya, bahasa, merupakan karunia Tuhan yang luar biasa bagi bangsa Indonesia. “Dengan demikian, kewajiban kita semua sebagai anak bangsa untuk menjaga dan merawatnya. Bukan sebaliknya, keragaman itu menjadi faktor pemecah belah antar-kelompok masyarakat,” ujar dia.

Sikap menjunjung tinggi pluralisme di Desa Larikrejo, kata Heri, tidak heran jika masalah suku, agama, dan golongan tidak lagi menjadi isu yang dipertentangkan. Bahkan sikap tegas lurah tersebut menjadi landasan hubungan yang lebih terbuka diantara sesama warga. Tidak ada lagi kecurigaan dan kecemburuan berdasarkan agama, suku dan kelompok. “Sampai hari ini, prinsip-prinsip keberagaman itu menjadi fondasi yang kuat untuk membangun solidaritas beragama,” terangnya.

Heri menceritakan, Desa Karangrowo dihuni 7500 orang dengan memiliki 36 RT dan 6 RW. Bahkan ia menyampaikan, bentuk toleransi yang paling terlihat di kampung adalah sifat gotong royong dalam membangun rumah. Menurutnya, gotong royong tersebut kerap dilakukan warga beragama Islam, Kristen dan Sedulur Sikep atau Samin. Sikap toleran antar umat beragama di Desa Karangrowo, dia menyebut, sudah mendarah daging sejak daerah itu ditinggali. “Saya tak tahu pastinya kapan. Namun, sejak zaman orang tua saya, kami bisa dengan santai berjalan menuju masjid untuk beribadah beramai-ramai. Penganut agama lain juga demikian,” tuturnya.

Salah satu peserta, Sukamto meyakini, berawal dari generasi muda, persatuan Indonesia masih punya harapan. Menurut dia, di tangan pemuda toleransi dalam berbagai hal termasuk dalam hal agama akan dijaga. Oleh sebab itu, suasana harmoni dan sikap toleransi beragama yang ditebarkan di Karangrowo bisa menjadi contoh. “Perbedaan yang ada merupakan kekuatan. Maka keberagaman jangan dijadikan persoalan yang melemahkan semangat kita. Harmoni kerukunan sebisa mungkin terus dipelihara,” pungkasnya. [elsa-ol/Munif-@MunifBams/003]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here