Mayoritas Penghayat di Banyumas adalah Pekerja Seni

0
136

[Banyumas –elsaonline.com] Suwardi, Ketua Himpunan Penghayat Kepercayaan Kabupaten Banyumas menuturkan bahwa mayoritas penghayat di Banyumas adalah pekerja seni. “Sebenarnya para penghayat di Banyumas banyak juga yang menjadi pedagang maupun pegawai di instansi pemerintah. Akan tetapi yang paling banyak adalah pekerja seni” ungkapnya. Ketika ditanya mengapa, menurutnya karena penghayat banyak yang masih memegang teguh tradisi setempat.

Adapun kesenian yang paling digeluti dan terkenal di kalangan Penghayat Banyumas adalah Gundalio. Seni tari ini lebih banyak diminati penghayat meski sebenarnya masih banyak seni lain yang digemari dan terkenal, diantaranya adalah jatilan. “Sampai pernah para mahasiswa dari Unsoed Purwokerto mengadakan studi lapangan di desa yang moyoritas penghayat. Mahasiswa jurusan kebudayaan tersebut ingin mengenal lebih jauh tentang penghayat, khususnya yang masih mempertahankan seni dan tradisinya” papar Suwardi.

Ketika ditanya kenapa banyak yang memilih bekerja swasta daripada pegawai negeri, Wardi menjelaskan bahwa hal tersebut tergantung kemauan dari masing-masing penghayat. “Kalau masalah pekerjaan, itu tergantung keinginan mereka. Dalam seleksi calon PNS sendiri di Banyumas tidak ada masalah” bebernya. “Sebagai contoh istri saya ini adalah seorang PNS di bidang kesehatan. Dia mulai dari nol ikut seleksi dan pemenuhan persyaratan kepegawaian. Semua diperlakukan sama saja” tambahnya.

Ditanya mengenai sumpah jabatan, Suwardi langsung memberikan klarifikasi. “Mengenai hal tersebut telah diatur dalam TAP MPR mas” jawabnya. “Kami mencoba untuk memberikan pengertian kepada penghayat lainnya, bahwa tidak perlu takut apabila ingin melakukan sumpah jabatan” tambahnya. Menurut Wardi, meskipun sumpah jabatan tidak diatur secara eksplisit bagi penghayat, akan tetapi bukan berarti penghayat tidak bisa bersumpah. “Saya pernah menyumpah penghayat yang PNS” Suwardi meyakinkan.

Pendapat Suwardi di atas sesungguhnya tidak mewakili sebagain besar penghayat lain. Sebagaimana menurut Budi (Presidium BKOK Cilacap) menyatakan bahwa penghayat seharusnya sumpah dengan caranya sendiri dan tidak harus ada acara disumpah. Menurutnya tidak semua penghayat mau untuk disumpah oleh penghayat lain yang tidak sealiran.

Penghayat di Banyumas memang telah banyak yang menjabat PNS, mulai kesehatan, kehakiman dan instansi-instansi lainnya. Untuk masalah tarap pendidikan bisa dikatakan banyak yang telah bergelar sarjana, meskipun tidak sedikit yang tetap mempertahankan tradisi dan tidak melanjutkan pendidikan. “Dari dulu penghayat Banyumas banyak yang menjadi PNS, istri saya saja telah menjadi PNS semenjak tahun 1980 an.

Meskipun saat ini di Banyumas tidak terkesan ada masalah, kaitannya dengan penghayat PNS. Tapi Suwardi tidak menutupi bahwa di masa lalu penghayat yang PNS sering mendapatkan tindakan diskriminasi. Khususnya secara sosial penghayat selalu dikaitkan dengan organisasi terlarang. “Pada tahun 1974 an, waktu itu saya masih bujangan. Banyak yang mencibir penghayat karena keyakinan yang berbeda dengan mayoritas. Kami sering dianggap kafir dan lain sebagainya” ungkapnya panjang lebar.

Menurut Suwardi, penghayat khususnya yang PNS di masa lalu sering menerima cibiran dan cemoohan. Akan tetapi Suwardi muda tidak pernah takut untuk menghadapi ketidakadilan tersebut. “Pernah pada suatu kongres BKKI (organisasi sebelum HPK) saya berdebat dengan yang lain tentang sikap penghayat yang harus konsisten” ungkapnya. Pada saat itu menurut Suwardi mempertahankan identitas adalah suatu keharusan. Akibat ketegasan tersebut dirinya terpaksa harus berselisiah dengan ayah dan pamannya.

Untuk mengatasi cibiran dan cemoohonan Suwardi mempunyai strategi yang dianggap cukup jitu, yaitu sebelum api membesar maka harus secepatnya dipadamkan. “Saya sering dipanggil untuk menyelesaikan permasalahan yang di hadapi penghayat, khususnya yang PNS. Saya selalu mencoba berdialog dengan landasan saling memahami. Apabila hal itu tidak bisa, maka biasanya saya akan mengancam” ungkapnya. Yang dimaksud ancaman Suwardi bukanlah ancaman fisik, melainkan dirinya akan berkoordinasi dengan para atasan, sehingga akan mempermudah diplomasi dan penyelesaian masalah. [elsa-ol/Yayan-@yayanmroyani]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here