Membendung Ekstremisme Beragama

0
76

Semarang Barat-20140114-00234Judul: Jihad Mekawan Ekstrimisme Agama; Membangkitkan Islam Progresif

Penulis: Sumanto aL Qurtuby

Jumlah halaman: 210

Cetakan I: Oktober 2009

Penerbit: Borobudur Indonesia Publishing Semarang

ISBN: 978-979-25-2706-3

Peresensi: Mustaqim

Agama selain sebagai “sumber makna”bagi etos sebuah masyarakat, juga berpotensi sebagai “sumber konflik”. Ajaran-ajaran yang tertuang dalam teks-keks keagamaan itu secara langsung atau tidak dapat memberi inspirasi kaum ekstremis dan konservatif dalam agama serta memicu tmbulnya konflik horizontal dan kekerasan berbasis agama di masyarakat. Agama dengan demikian menyimpan sejumlah paradoks. Satu sisi agama dimaknai sebagai jalan dan menjamin keselamatan, cinta dan perdamian. Di sisi lain, sejarah membuktikan, agama justru menjadi sumber penyebab dan alasan bagi kehancuran dan kemalangan manusia.  Dengan agama manusia bisa saling mencinta. Tetapi atas nama agama pula, orang bisa saling membunuh dan menghancurkan. Bahkan ideologi dan komitmen keagamaan telah menjadi faktor sentral dalam eskalasi kekerasan dan kejahatan di seluruh dunia.

Kekerasan demi kekerasan terus menjamur dan mewarnai kawasan Islam sejak Arab Saudi, Mesir, Sudan, dan kawasan Sahara, Iraq, Iran, Lebanon, Afganistan, Pakistan, Bangladesh, sampai Inonesia. Aksi-aksi kekerasan dalam bentuk teror, pengeboman pemksaan, pembajakan, penculikan, pembakaran, pengruakan, pengroyokan dan lain sebagainya. Realitas empiris atas pristiwa kekerasan ini seolah sebagai pembenar asumsi dan tesis sebagian orang-orang Barat dan non-mulim yang anti islam yang mengatakan bahwa dunia islam adalah “dunia kekerasan” dan barbarisme sera islam adalah agama yang memproduksi teks-teks kekerasan sekaligus pengekspor kaum teroris-militan. Slogan islam sebagai agama “rahmatan lil alamin” dan “peaceful religion” juga kalah populer dengan berita hiruk-pikuk tindkan kekerasn nda vandalisme yang dilakukan kelompok muslim radikal. Kekerasan Monas (2008) yang dilakukan secara istiqomah  oleh Front Pembela Islam, Komando Laskar Islam, Forum Umat Islam (FUI) dan berbagai kelompok muslim militan-radikal-konservatif menambah daftar panjang tentang “fakta kekerasan dunia Islam”.

Kasus-kasus kekerasan berbasis agama yang dilakukan beberapa organisasi Islam militan-konservatif Indonesia adalah salah satu contoh nyata bagaimana wacana, ajaran, dan simbol-simbol keagamaan (keislaman) telah ”dieksploitasi” sedemikian rupa oleh para “oknum” muslim untuk dijadikan sebagi “legitimasi teologis”guna menggerus dan melibas individu dan kelompok agama yang mereka anggap sebagai sesat, kafir, jahil, dan lain sebagainya.

Selain memiliki “sisi buruk” atau “dimensi negatif” yang bisa menginspirasi lahirnya tindakan kejahatan dan kekerasan, agama juga memuat aspek-aspek baik dan positif yang bisa dijadikan sebagai “common ground” dan “fondasi teologis” untuk membangun hubungan antar dan intra agama yang lebih sehat, dinamis, berkualitas, dan manusiawi yang penuh dengan semangat toleransi dan pluralisme seperti yang dengan tepat dikemukakan Richard Solomon, Presiden The United States Institute of Peace: “will religion can and does contribute to violence conflict, it also can be powerful factor in the struggle for peace and reconciliation (Smock, ed. 2002: viii).

Ke depan, umat beragama khususnya kaum muslim harus memperbanyak “amalan wiridan” keislaman yang mencerahkan, mencerdaskan, dan menyejukan hati. Islam yang agung ini hanya akan dihargai keagungannya oleh umat dan bangsa lain. “islam pentungan” di Indonesia hanya akan memperburuk citra islam. Bagaimana tidak Allah Yang Maha Agung itu didengungkan oleh tangan-tangan kotor dan mulut-mulut kasar kaum “Islam pentungan”untuk melakukan tindakan kejahatan kemanusiaan. Tindakan premanisme ini tentu bukan menambah apalagi meninggikanderajat Allah SWT tetapi justru sebaliknya merosotkan dan bahkan menodai kebesaran Allah SWT sendrir sebagai “Zat Maha Damai”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here