Memori Kolektif dan Konstruksi tentang “Yang Lain”

0
183

Oleh: Tedi Kholiludin

Pertanyaan menggelitik yang hendak saya ajukan pasca membaca naskah disertasi Izak YM Lattu yang berjudul “Orality and interreligious relationships: The role of collective memory in Christian-Muslim engagements in Maluku, Indonesia” adalah, apakah memori kolektif sebagai sebuah instrumen, bisa diberlakukan untuk seluruh elemen masyarakat? Jika Izak menyimpulkan bahwa memori kolektif itu menjadi jembatan penghubung dalam konflik identitas, saya justru menemukan kenyataan yang berkebalikan dengannya. Konflik kebudayaan antara beberapa kelompok masyarakat justru diakibatkan oleh memori kolektif mereka tentang “yang lain.”

Meski begitu, bukan berarti bahwa memori kolektif ini tidak memiliki fungsi sama sekali. Karena seperti yang sudah dijelaskan oleh Izak, “…oral forms of collective memory in Christian-Muslim engagements in Maluku are more effective than text/scriptural- and elite-based concepts associated with interreligious dialogue, an approach that has dominated interreligious interactions.” Ia percaya bahwa merawat ingatan kolektif dengan cara menarasikannya dari generasi ke generasi plus memahami filosofi kebudayaan yang diserap dari nyanyian-nyanyian rakyat menjadi sesuatu yang penting, utamanya bagi masyarakat Maluku yang pernah didera konflik berdarah. Tiga kata kunci yang penting untuk dipahami dari tesisnya Izak adalah; cerita, narasi dan memori kolektif tentu saja.

Saya ingin mengajukan tiga tesis dalam isu ini. Pertama, ini mungkin sekadar pengaminan terhadap ide Mas Ulil Abshar Abdalla yang memberikan komentar sebelum dialog ini dimulai. Ia mengatakan, “jika praktek collective memory ini berlangsung pada ranah budaya, melalui tindakan sosial yang bersifat cair, tidak diintervensi oleh konstruksi teologis, atau dimobilisasi untuk kepentingan politik maka praktek collective memory bisa memfasilitasi perdamaian.”

Kedua, bahwa memori kolektif itu sesungguhnya bersifat netral. Pada perkembangannya ia bisa menjadi pemersatu atau juga pemisah. Disini, peran utama dimainkan oleh naratornya. Memori kolektif menjadi pemersatu atau pemisah tergantung bagaimana sang agen menarasikannya.

Ketiga, memori kolektif sebuah kelompok tentang dirinya itu dipengaruhi oleh bagaimana mereka mengkonstruksi kelompok yang lain.

Terhadap tesis yang pertama dan kedua, saya mungkin akan melewatinya dan hendak membahasnya di kesempatan lain. Tulisan ini akan membatasi pada penegasan tesis yang ketiga saja dengan merujuk pada memori kolektif bangsa Palestina. Harapan saya, kajian tersebut memiliki kesimpulan yang dapat memberikan perspektif tambahan dalam studi memori kolektif.

Karena Izak sudah banyak mengutip Maurice Halbwachs (1980) dalam “The Collective Memory” sebagai kerangka teoritik untuk membangun ide memori kolektif diatasnya, saya tidak hendak mengulang kembali pembahasan tentangnya. Halbwachs merupakan ilmuwan sosial kategori awal yang mensistematisir gagasan mengenai memori kolektif. Menurutnya, memori kolektif itu bisa digambarkan sebagai “the social framework of memory.”

Kolektif memori masyarakat Palestina dalam pembentukan jatidirinya tak lepas dari Nakba atau Yaum al-Nakbah yang berarti Hari Kehancuran (Catastrophe Day). Hari itu adalah peringatan tentang pengusiran bangsa Palestina yang kemudian berbarengan dengan berdirinya Israel pada 1948. Nakba diperingati setiap tanggal Mei.

Formasi mayor identitas bangsa Palestina berdiri di atas cerita tentang Nakba ini. Nasionalisme bangsa Palestina terbentuk dari Nakba karena mereka tidak memiliki kekhasan bahasa atau wilayah yang sudah diambil oleh Israel. Meir Litvak (2009) dalam pengantar Palestinian Collective Memory and National Identity mengatakan “The major formative element of Palestinian identity, however, was the Nakba. Since language had never been a distinctive component of Palestinian identity, and the territory was partly lost and divided, the third constitutive element of national identity, collective memory, became the major force of preserving and cultivating Palestinian nationalism.”

Mengutip Rosemary Sayigh yang melakukan survey secara sosiologi kepada pengungsi terhadap identitas bangsa Palestina di kamp pengungsi Lebanon pada tahun 1970, Litvak mengatakan kebanyakan orang Palestina mengidentifikasi dirinya sebelum tahun 1948 sebagai orang Arab atau berdasarkan asal daerahnya. Dua identitas itu yang menggantikan identitas Palestina mereka.

Sementara, Aziz Haidar, dalam “The Different Levels of Palestinian Ethnicity,” seperti dikutip Litvak, menunjukkan, hingga tahun 1948, orang Palestina sesungguhnya tidak membentuk kelompok yang berbeda yang memiliki identitas etnis, sehingga perbedaan mereka dengan masyarakat yang ada di perbatasan wilayah tersebut kurang cukup jelas daripada perbedaan diantara penduduk Palestina sendiri.

Memori (Nakba) ini kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. Utamanya ketika mereka memiliki anak cucu yang tak langsung mengalami situasi pengusiran pada 1948. Mereka melakukan apa yang disebut sebagai “Memory from Below” (Michael Milshtein; 2009).

Untuk melanggengkan ingatan tentang Nakba, generasi tua memapankannya dalam beberapa praktik dan ritual. Mereka misalnya berusaha untuk menjaga dokumen-dokumen tanah pada masa Turki Usmani sebagai bukti kepemilikan atas tanah. Ini semacam kunci yang terus dipegang, meski rumahnya mereka tinggalkan.

Cara lain untuk melestarikan ingatan tentang Nakba adalah mereka menamai toko-toko atau bisnis mereka di pengungsian dengan daerah yang ditinggalkannya. Generasi tua juga terus meningatkan kepada anak cucunya bahwa tempat dimana ia tumbuh dan berkembang sekarang adalah bukan tanah airnya. Yang sesungguhnya adalah tempat yang mereka tinggalkan. Cerita kepahlawanan dan heroisme bangsa Palestina yang melawan Israel juga terus diperdengarkan. Bahkan, sesekali, mereka juga berusaha untuk mendatangi langsung tempat yang ditinggalkan, meskipun kerap berakhir dengan kekecewaan.

Konstruksi memori tentang Palestina seperti tergambar di atas menunjukkan kalau ingatan itu bertaut dengan luka, ketertindasan serta kehancuran akibat penindasan yang dilakukan oleh kelompok lain. Ini yang hemat saya perlu dipikirkan saat kita menelisik konstruksi identitas sebuah kelompok atau mungkin dalam beberapa kasus, identitas individual. Memori kolektif bangsa Palestina yang dibangun di atas fondasi kedukaan, tercipta melalui relasinya dengan kelompok lain, Israel.

Ini menjadi gambaran peneguh tesis saya yang ketiga. Bahwa, memori kolektif yang menjadi sandaran konstruksi identitas sebuah kelompok, juga ditentukan oleh (bagaimana ia memproduksi pengetahuan) kelompok yang lain.

Saya teringat Stuart Hall (2003) yang mengingatkan tentang masalah identitas ini. Stuart Hall bilang, karena identitas dikonstruksi di dalam diskursus, bukan di luarnya, maka kita perlu memahaminya sebagai produk dari sebuah sejarah yang spesifik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here