Memupus Generasi Traumatik

0
14

Oleh: Ceprudin
Aktif di Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang

Akhir Februari 2017 kemarin, Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) diskusi ringan bersama seorang perempuan keturunan Tionghoa, Semarang. Pembicaraan pada mulanya menggagas aktivitas yang paling efektif untuk mewujudkan perdamaian. Salah satunya dengan menggelar ”pondok damai” yang melibatkan perwakilan dari generasi muda penganut agama dan kepercayaan.

Pondok Damai merupakan salah satu cara eLSA bersama komunitas lain di Semarang untuk memupus prasangka atau kecurigaan terhadap umat agama dan kepercayaan lain. Pada prosesnya, kegiatan Pondok Damai selalu mengalami hambatan supaya semua kelompok agama dan kepercayaan terwakilkan.

Generasi muda penganut Kong Hu Chu dan penganut Kepercayaan dalam beberapa kegiatan nyaris tidak ada perwakilannya. Jika pun ada yang terlibat, selalu orang yang pernah mengikuti kegiatan-kegiatan sebelumnya. Berbeda dengan penganut Islam, Kristen, dan Katolik yang cenderung lebih dinamis dalam regenerasi peserta Pondok Damai.

”Susah, Mas. Untuk membangkitkan rasa percaya diri mereka (generasi muda Kong Hu Cu) itu tidak mudah. Sebagian besar dari mereka itu masih dibayang-bayangi ketakutan masa lalu. Kumpul di internal sesamanya saja masih ada yang belum percaya diri,” begitu kira-kira inti percakapan perempuan berkulit putih ini.

Berawal dari pernyataan di atas, penulis menjadi teringat dengan pernyataan beberapa orang tua penganut Kepercayaan di Jawa Tengah. Akhir 2016 lalu, eLSA melakukan pendataan sederhana mengenai layanan pendidikan kepercayaan (sebagai pengganti pendididikan agama) di sekolah negeri (umum).

Hasilnya, hampir seratus persen anak-anak (generasi penerus) penganut Kepercayaan mendapat pendidikan agama di sekolah. Sebagian dari mereka mendapat pendidikan agama Islam dan sebagian kecil mengikuti pendidikan agama Kristen. Pilihan itu sangat tergantung kepada institusi sekolah.

”Pada mulanya, ketika masuk sekolah, di formulir pendaftaran tidak mengisi kolom agama. Namun setelah berjalan sekolah beberapa bulan, saya dipanggil sebagai orang tua. Tujuannya supaya memilih agama dan harus membuat pernyataan bahwa mengikuti pendidikan agama tanpa paksaan,” tutur salah satu penganut Kepercayaan di Kabupaten Brebes.

Lantas yang menjadi pertanyaan, apakah dalam membuat pernyataan itu tidak dalam kondisi terpaksa? Nyatanya, mayoritas orang tua siswa penganut Kepercayaan mengaku dalam keadaan terpaksa karena tidak ada pilihan lain. Lalu, jika terpaksa, apakah para orang tua penganut Kepercayaan tidak berani menolak untuk membuat surat pernyataan?

”Kami terus terang tidak berani mengambil resiko yang lebih besar. Demi keberlanjutan sekolah anak-anak, dengan terpaksa kami membuat surat pernyataan tersebut. Apalagi kalau sudah menyangkut keseharian anak-anak di sekolah, kami khawatir ada gangguan dari guru agama atau teman-teman sendiri yang beragama mayoritas,” lanjut bapak yang kesehariannya sebagai perajin bata merah ini.

Selain dua persoalan di atas yang menyangkut generasi muda penganut kepercayaan dan penganut Kong Hu Chu, ada persoalan rumit menyangkut rumah ibadah. Ada berapa rumah ibadah saja di Jawa Tengah yang tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB) rumah ibadah? Jumlahnya ratusan.

Rumah ibadah yang jumlahnya ratusan ini sudah dalam kondisi nyaman tanpa gangguan, karena sudah berdiri sejak sebelum ada SKB 2 Menteri (Menag dan Mendagri) tentang KUB dan pembangunan rumah ibadah. Namun, para pemuka agama enggan mengurus IMB karena ketakutan justru akan terjadi penolakan.

Trauma Kekerasan
Menengok beberapa fakta di atas, mungkinkah ini yang dinamakan dengan ”trauma berkepanjangan”. Fakta ini bukan sepertinya bukan yang dikenal dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau ”gangguan stres pasca trauma” dalam ilmu Psikologi. Karena pada faktanya, para generasi bangsa Indonesia itu tidak mengalami stres.

Namun, dari sisi ciri-ciri atau faktor penyebabnya, hampir terdapat kesamaan. G.C.Davidson dkk (Psikologi Abnormal; 2000) mengatakan, jika berbicara tentang tindak kekerasan dan trauma, ada suatu istilah yang dikenal sebagai gangguan stres yang timbul berkaitan dengan peristiwa traumatis luar biasa.

Misalnya, melihat orang disiksa secara sadis, dibunuh, kecelakaan, bencana alam, dan lain-lain. Pada umumnya, orang yang mengalami trauma mengalami hyperarousal dimana suatu keadaan waspada berlebihan, seperti mudah kaget, tegang, dan curiga menghadapi sesuatu.

Meskipun tak mengalami stres, penganut kepercayaan dan generasi muda Kong Hu Cu (seperti yang telah diurai di atas) tidak begitu saja mempercayai orang lain. Terlebih ketika perjumpaan itu tanpa ada perantara person yang sudah kenal dekat dan dapat dipercaya.

Inilah salah satu tantangan yang harus dihadapi bagi para pendamping kelompok minoritas yang rentan dengan dengan kekerasan. Untuk masuk dan mampu berdialog dengan mereka, butuh waktu lama untuk mendapatkan kepercayaan. Utamnya, dalam memupus kecurigaan terhadap orang baru di sekitarnya.

Kekerasan masa lalu yang pernah dialami kelompok rentan ini tampaknya amat membekas dalam perjalanan kehidupan mereka. Kekerasan atau perlakuan yang dipandang tidak menyenangkan, tidak manusiawi, bertantangan dengan nilai hukum, itulah yang membuat mereka mengalami ketakutan berlebihan.

Wujudkan Perdamaian
Problem trauma berkepanjangan ini tentu tak boleh terus lestari pada generasi muda bangsa ini, tanpa terkecuali. Meskipun tak mudah, namun harus ada yang berani memupus rasa traumatik ini. Persoalan ini tentu membutuhkan kerja-kerja sosial yang intens baik dari internal keluarga, kelompok, juga lembaga-lembaga non pemerintahan.

Hal ini bukan berarti pemerintah tidak harus berperan aktif mendukungnya. Sebaliknya, pemerintah harus mendorong berbagai elemen untuk perlahan-lahan memupus generasi traumatik ini.

Untuk menghilangkan trauma pada generasi muda kelompok minoritas agama dan kepercayaan, tak cukup dengan penguatan mental anak. Namun, juga ada persoalan yang serius yang menjadi tantangan yakni menghilangkan stigma.

Stigma negatif terhadap kelompok penganut Kepercayaan dan penganut Kong Hu Chu serta umumnya pada kelompok minoritas rentan kekerasan, harus dihilangkan. Semua adalah generasi bangsa yang dijamin hak-haknya dalam konstitusi UUD 1945. Untuk menghilangkan stigma dan trauma, orang baik dan tulus saatnya berani bicara.

Mengutip pendapat KH Mustofa Bisri (Gus Mus), tak saatnya lagi pribahasa ”yang waras ngalah”. Justru pada masa ini, orang baik harus berani tampil di publik. Bersama orang-orang waras (baik) perdamaian akan terwujud. Semoga bermanfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here