Menelan Pahit, Menyembuhkan Luka

0
88
Pare sebagai simbolisasi kepedihan, luka dan kepahitan.

Oleh: Tedi Kholiludin

Masih ingat bagaimana Dani Alves menyikapi diskriminasi yang dihadapinya? 27 April 2014, Barcelona menantang tuang rumah Villarreal pada lanjutan Primera Division atau Liga Spanyol di El Madrigal. Alves yang saat itu masih bermain untuk El Barca hendak mengambil tendangan sudut di sisi kiri pertahanan Yellow Submarine, julukan Villarreal. Tiba-tiba ada pisang yang dilemparkan penonton jatuh tidak jauh darinya. Alves spontan mengambil pisang itu dan memakannya.

Alves mengatakan alasan ia memakan pisang yang sesungguhnya adalah diskriminasi rasial kepadanya. “Reaksiku adalah mengambilnya dan menggigitnya. Itu tak direncanakan karena aku tak bisa membayangkan bahwa satu pisang dilempar ke lapangan. Menurutku, sikap negatif harus dibalas dengan sikap positif. Itu membuat perbedaan dibanding membalas dengan cara lain,” kata Alves.

Kurang lebih itu juga yang dilakukan oleh masyarakat Tionghoa Semarang saat memperingati tragedi Mei 1998, 13 Mei 2018 lalu. Harjanto Halim, penggagas acara ini menghidangkan pare untuk kemudian dimakan secara bersama-sama. Kita tahu, pare itu rasanya pahit. Tragedi Mei 1998, bagi warga Tionghoa tentu adalah sebuah pengalaman yang sangat pahit. Ada korban jiwa, perempuan yang diperkosa, harta yang dijarah dan sebagainya. Kerugian tak hanya bersifat fisik tapi juga psikis. Trauma berkepanjangan kerap membuat beberapa warga Tionghoa pergi meninggalkan Indonesia dan tak lagi kembali.

Pare yang pahit itu, sebagaimana Dani Alves, kemudian dimakan bersama-sama. Meski (siomay) pare yang disajikan itu sudah tak terlampau pahit, tetapi pesannya bukan pada rasa yang sudah berbalut bumbu kacang. Tapi, sekali lagi, pada rasa pare sesungguhnya yang pahit.

***

Di Jakarta, Solo, Medan, Palembang, dan beberapa kota lain, Mei 1998 memang menjadi tragedi yang sangat memilukan bagi warga Tionghoa. Peristiwa yang menimpa etnis Tionghoa merupakan anomali yang sulit dicarikan alasannya. Apa latar belakang yang bisa diterima secara logis bahwa harta mereka “layak” dijarah.

Beruntungnya, tidak semua kota menghadapi situasi serupa. Semarang misalnya. Beberapa orang bercerita tentang kondisi Semarang di Mei 1998. Tubagus Svarajati bercerita, pada tanggal 20 Mei 1998 ia mengambil gambar di sekitar kantor Gubernur Jawa Tengah. Masa yang menyemut sama sekali tidak melakukan tindakan kekerasan. Bahkan, diatas panggung, tiga orator yang berlatar etnis Tionghoa mengobarkan perlawanan terhadap orde baru.

Ketiganya berorasi yang intinya, mendukung perjuangan mahasisa menumbangkan rezim Orde Baru. Mereka berpesan agar masa tidak merusak fasilitas publik dalam menyampaikan pendapatnya. Di siang terik itu, logistik untuk para demonstran terus mengalir. Tubagus menduga, pengusaha-pengusaha Tionghoa turut berpartisipasi disana. Sehingga, reformasi 1998 tidak menjadikan Semarang sebagai wilayah konflik dimana penjarahan dan bahkan penghilangan terhadap nyawa manusia terjadi. Dan setelahnya, konflik bernuansa rasial sudah tidak lagi ditemukan di Semarang.

Beberapa orang saksi mata lainnya menuturkan bahwa Semarang sebenarnya hampir saja mengalami situasi seperti Jakarta atau Solo. Gunawan Budi Susanto atau yang biasa saya sapa dengan panggilan Kang Putu pernah bercerita bahwa beberapa demonstran sebenarnya juga hendak melakukan pembakaran dan perusakan.

Satu lokasi yang mereka pilih dengan pertimbangan untuk mempercepat keruntuhan rezim Soeharto. Lokasi tersebut adalah Tensindo, perusahaan di depan Suara Merdeka persis. Kenapa Tensindo? Pertama Tensindo milik Tionghoa. Kedua, dia ada di jalan raya yang sudah pasti menjadi akses lalu lintas publik yang luar biasa. Dan ketiga, karena dia di depan Suara Merdeka, dengan begitu, tidak mungkin tidak beritakan. Tapi kata Kang Putu, hal tersebut urung dilakukan.

***

“Mengingat peristiwa Mei 1998 itu bukan untuk mencari siapa yang salah. Yang menembak (John F) Kennedy sampai sekarang juga tidak jelas siapa. (alasan) Lady Diana meninggalnya kenapa juga kita tidak tahu. Tetapi, bahwa ini ada urusan kemanusiaan yang dalam kapasitas kita sebagai warga negara, menurut saya, sah saja mengadakan upaya untuk mengingat, menyembuhkan luka-luka,” kata Harjanto Halim menyampaikan maksud dari kegiatan yang baru kali pertama dilakukan oleh komunitas Tionghoa Semarang.

Peristiwa ini adalah sebuah kepahitan. Memakan pare adalah sebentuk gerakan melawan lupa, sekaligus sebagai perlawanan atas ketidakadilan dan diskriminasi. Cara elegan yang ditunjukkan oleh komunitas korban terhadap musibah yang menimpanya. Dan menurut Harjanto Halim, ini tidak hanya musibah bagi orang Tionghoa saja tetapi musibah bagi bangsa. Dan bagaimana sebuah bangsa menyikapi musibah untuk menunjukkan kualitas bangsa. Kalau bangsa tidak mengakui, berarti bangsa tersebut memang belum dewasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here