Menengok Istana Dewa Asli Indonesia

0
186
Klenteng: Tampak seseorang sedang melewati depan Klenteng Tek Hay Bio di Jalan Gang Pinggir No 105-107 Semarang, Rabu (15/1).
Klenteng: Tampak seseorang sedang melewati depan Klenteng Tek Hay Bio di Jalan Gang Pinggir No 105-107 Semarang, Rabu (15/1).
Klenteng: Tampak seseorang sedang melewati depan Klenteng Tek Hay Bio di Jalan Gang Pinggir No 105-107 Semarang, Rabu (15/1).

[Semarang –elsaonline.com] Daerah pecinan wetan yang juga sering disebut Tang Kee tampaknya sekarang lebih dikenal dengan Gang Pinggir. Maklum, karena letaknya persis berada di pinggir kawasan Pecinan. Menjelang tahun 1672 jumlah orang Tionghoa yang ada di Semarang pun cukup meningkat. Dalam bentangan akhir abad ke-17 tersebut, beberapa dari mereka terlihat mulai membangun rumah-rumah dengan berarsitektur Cina yang terbuat dari tembok dan mendatangkan tukang-tukang dari Batavia.

Selanjutnya, untuk menunjang aktivitas masyarakat Cina dalam kegiatan religi dan ritual keagamaan dibangunlah klenteng-klenteng yang sangat indah. Di antara beberapa klenteng yang ada di kawasan Pecinan Semarang, ada satu klenteng yang cukup unik, menarik dan mempunyai nilai sejarah luar biasa. Ya, klenteng tersebut adalah Tek Hay Bio dan terletak di Jalan Gang Pinggir No 105-107 Semarang. Di samping itu, klenteng ini juga dikenal dengan sebutan Tempat Ibadah Tri Darma Klenteng Sinar Samudera.

Menurut penulis buku ‘Pecinan Semarang: Sepenggal Kisah, Sebuah Perjalanan’, Ananda Astrid Adriane (24), menuturkan, cerita mengenai Tek Hay Bio menjadi menarik karena klenteng ini merupakan klenteng pertama yang dibangun untuk memuja Tek Hay Cin Jin. Menurutnya, klenteng ini adalah klenteng tertua kedua setelah Klenteng Siu Hok Bio.  “Klenteng ini beraliran Tri Dharma yang berarti menampung tiga ajaran yakni Budha, Konghucu dan Tao. Makanya, Klenteng Tek Hay Bio dikenal juga dengan nama Klenteng Sinar Samudra dan ia adalah dewa asli Indonesia,” ungkap Nanda, sapaan akrabnya melalui pesan Blackberry Messenger, Rabu (15/1).

Sementara menurut Sugeng Priyono (36), seorang Bio Kong Klenteng Tek Hay Bio, mengatakan, klenteng tersebut berdiri tahun 1756. Menurutnya, ia dibangun untuk memuja Tek Hay Cin Jin atau Malaikat Penolong di Lautan. “Maklum, ia adalah pahlawan sekaligus dewa pelindung perdagangan di laut, terutama di pantai utara pulau Jawa,” ungkap Sugeng, sapaan akrabnya saat ditemui diruang kerjanya, Rabu (15/1).

Dikatakan Sugeng, nama asli dari Tek Hay Cin Jin adalah Kwee lak Kwa. Ia adalah pedagang antar pulau yaitu Palembang dan pantai utara Jawa. Karena melihat kekejaman yang dilakukan oleh VOC, ia kemudian memimpin perlawanan-perlawanan dengan cara bergerilya. “Selain berjuang melawan VOC, ia juga aktif memberikan pertolongan kepada masyarakat pribumi yang rata-rata menjadi nelayan. Karena itu, ia diberi gelar oleh Kaisar Kian Liong dengan nama Tek Hay Cin Jin,” ujar laki-laki berzodiak Aries ini.

Selain itu, dalam klenteng ini terlihat ada satu keunikan yang membedakan klenteng Tek Hay Bio dengan beberapa klenteng lainnya. Yakni, adanya tempat penyimpanan abu arwah para leluhur kota Semarang. Menurut Sugeng, di antaranya adalah Kwee Kiauw Khong yang merupakan orang Tionghoa pertama yang diangkat menjadi kapiten oleh Kompeni. “Dalam catatan resmi klenteng, arca-arca pada Sinbeng  di Klenteng ini dibuat di Tiongkok dengan membawa bahan kayu jati dari pulau Jawa,” terang laki-laki yang mengaku masih bujang ini.

Meski demikian, dia mengaku dalam perkembangannya, klenteng ini mengalami pasang surut. Pada tahun 1832, klenteng tersebut tidak luput dari banjir sehingga mengharuskan bangunan ditinggikan sekitar 1,5 meter. Juga sempat digunakan sebagai Sekolah Dasar Kristen pada tahun 1950-an karena tidak terawat  sebelum akhirnya dikembalikan fungsinya menjadi rumah ibadah. “Pengembalian tersebut dilakukan oleh Tan Tjing Hok, seorang yang pernah memperoleh mukjizat kesembuhan dari penyakit stroke setelah mendapat resep buah gandaria dari Tek Hay Cin Jin lewat mimpi,” bebernya.

Lebih jauh Sugeng menambahkan, mulai tahun 1977 kepengurusan klenteng Tek Hay Bio berubah menjadi terbuka dengan masuknya pengurus-pengurus baru yang tidak berasal dari marga Kwee. Menurutnya, sejak 13 Desember 1983 klenteng Tek Hay Bio tak pelak berubah menjadi yayasan hingga sekarang. “Maka, penduduk Tionghoa bermarga Kwe saat itu mendirikan klenteng ini supaya keturunannya mendapatkan berkat dari Kwe Lak Kwa,” pungkasnya. [elsa-ol/Munif-@MunifBams]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here