Mengenang Jejak Samin Surosentiko, Budi Santoso Terbitkan Buku

0
316
Konsep buku tentang Samin Surosentiko yang ditulis tangan oleh Budi Santoso. [Foto: Munif]

Konsep buku tentang Samin Surosentiko yang ditulis tangan oleh Budi Santoso. [Foto: Munif]
Konsep buku tentang Samin Surosentiko yang ditulis tangan oleh Budi Santoso. [Foto: Munif]
[Kudus –elsaonline.com] Dununge tri tunggal; tri telu, tunggal iku siji. Siji dadi telu, telu dadi siji. Artine siji urip ning manggon ono telu panggonan. 1. Urip kang manggon iso melaku iso ngomong iso mikir. 2. Urip manggon iso melaku ora iso ngomong ora iso mikir. 3. Urip manggon ora iso melaku ora iso mikir.

Demikian salah satu nukilan isi buku bertuliskan aksara Jawa yang sedang ditulis tokoh Sedulur Sikep Kudus, Budi Santoso, saat ditemui di kediamannya Desa Larikrejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Sabtu (24/10/15), siang. Rencananya, buku tersebut untuk menuangkan sejarah dan ajaran Sedulur Sikep dalam sebuah biografi. “Walau buku yang sedang saya tulis ini hanya mengenang perjalanan Samin Surosentiko,” tuturnya.

Sesudah pengalaman bertahun-tahun, Budi tampaknya memang menghayati betul tokoh legendaris itu sebagai semangat atau roh yang menginspirasikan dan memberdayakan seluruh hidup pengabdiannya sebagai seorang pengikut Samin masa kini. Hal ini bukan hanya merupakan ungkapan rasa bangga, tetapi lebih daripada itu ungkapan rasa syukur. “Saya ini kan dibentuk, bertumbuh serta berkembang sebagai pengikut Samin. Ya, wajar saja kan kalau saya mau menulis,” lanjut dia.

Mula-mula gagasan menerbitkan buku itu hanya merupakan ‘sepercik suara’ di batin Budi. Ayah tiga anak ini mengalami keheningan yang amat dalam di hatinya. Suatu ketika, ia merasa dibawa kembali untuk melihat peristiwa-peristiwa hidup Samin Surosentiko di masa lalu. “Seperti ada ‘bisikan’ yang bertubi-tubi,” bebernya.

Selain itu, kenangan indah akan masa perjuangan Samin Surosentiko, bagi Budi, memang amat mendalam. Sepak terjang itu, katanya, ibarat rangkaian film. Pria bercucu satu ini melihat adegan-adegan pengalaman hidup Samin Surosentiko, yang awalnya hanya sekilas mampu membentuk jiwa, karakter dan kemungkinan besar ‘rasa religious’ yang kemudian tumbuh menjadi panggilan jiwa.

Di bawah foto berukuran 10 R terpampang gambar Samin Surosentiko dalam ukuran yang cukup besar Budi Santoso terus menyelesaikan draf naskah buku pertamanya. Wajah Samin Surosentiko yang terlihat sedikit senyum, namun dengan sorot mata yang penuh belas kasih, seakan menatap setiap orang yang memandang gambar buram ini. “Inilah sekeping perjalanan hidupnya yang diberikan kepada sedulur-sedulur,” terangnya.

Kalau ditanya, apa motivasi menulis? Jujur, Budi tidak tahu. Namun ada dorongan kuat di hati yang terus menerus menggiring ke arah Samin Surosentiko itu. Menurutnya, ia merupakan tempat curahan hati dan sekaligus pemberi semangat untuk arah yang lebih baik. Katanya, Samin Surosentiko juga adalah orang yang dengan penuh cinta dan kebijaksanaan, memberikan peneguhan-peneguhan dan gambaran-gambaran konkret bagaimana sesungguhnya panggilan hidup religius dan cita-cita kehidupannya menjadi cara pandang akan kehidupan orang-orang lugu yang sederhana.

Ya, semua isi buku yang sedang ditulis Budi Santoso ini merupakan memoar –berdasarkan ingatan- dan tentu di sana-sini ada yang terlewatkan. Namun, tidak ada keinginan selain harapan agar pembaca dapat mengambil manfaat –sekecil apa pun- dari kisah hidup yang sederhana ini. “Semoga kisah ini dapat menjadi kisah yang bermanfaat,” pungkasnya. [elsa-ol/Munif-@MunifBams/001]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here