Menguji “Human-Centered Islam”nya Parkee

0
102

Oleh: Tedi Kholiludin

Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat kepada Park Hee Cheol (selanjutnya ditulis Parkee) atas kelulusannya studi Antropologi di Kangwon National University Korea Selatan, Juli 2016 lalu. Sebagai tugas akhirnya, Parkee menulis tesis dalam Bahasa Korea yang dalam Bahasa Inggris berjudul “Human-Oriented Islam: Islamic Liberalism in an Indonesian NGO, eLSA.” Inti dari kajian setebal 90 halaman lebih, bisa dicermati dari ringkasan atau abstraknya.

Pada Oktober-November 2014 Parkee datang ke Semarang untuk belajar Bahasa dan Budaya Indonesia di Universitas Diponegoro. Ketika itu, ia juga hampir menyelesaikan studinya di Kangwon. Sembari ke Indonesia, Parkee kemudian berinisiatif untuk mencari fenomena menarik yang bisa dijadikan sebagai bahan tesis. Pdt. Ronny Chandra Kristianto (sekarang sedang studi di Birmingham University), merekomendasikannya untuk datang dan berdiskusi dengan saya dan teman-teman di Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA). Dalam seminggu, dua atau tiga hari Parkee menginap bersama teman-teman di kantor eLSA. Ketika saya tanya minat studinya, Parkee bercerita tentang keinginannya menulis mengenai Islam, toleransi dan perdamaian serta posisinya dalam hubungan lintas agama.

Entah bagaimana ceritanya, bulan Desember 2014 akhirnya Parkee memilih untuk menjadikan eLSA sebagai objek studi. Ia pun kemudian terlibat intens dalam pelbagai kegiatan eLSA. Dialog lintas iman, pelatihan untuk penghayat, seminar, advokasi, diskusi di PWNU dan lain-lain. Ia pun turut dalam aktivitas personal pengurus eLSA. Parkee datang ke acara pernikahan saya di Kuningan dan Yayan di Tasikmalaya. Ia juga ikut merasakan nikmatnya mudik lebaran bersama Khoirul Anwar, Cahyono dan Ceprudin ke sebuah desa yang sangat jauh di bagian selatan Kabupaten Brebes. Cara-cara yang khas antropolog. Keempat belas personil eLSA kemudian diwawancarainya secara mendalam bergantian.

Tesis Parkee sebenarnya sederhana; ia ingin melihat kelompok masyarakat sipil yang berbasis Islam dalam upayanya mempromosikan pluralism dan toleransi. Saya kutipkan secara utuh tujuan penelitiannya yang diambil dari abstrak:

“This study examines for a group of Indonesian muslims proposing flexible interpretation, pluralism, and tolerance. In order to investigate Islamic liberalism for the possibilities of harmonious and peaceful relations between religious communities in Indonesia, this study researches on an Islamic NGO eLSA (Lembaga Studi Sosial dan Agama) in Semarang, Central Java.”

Upaya promotif yang dilakukan oleh mereka yang ada di eLSA, kata Parkee tidaklah datang tiba-tiba. Pemahaman keagamaan (Parkee menyebutnya orientasi keagamaan) yang terbuka, datang secara bertahap. Mereka mulai mengenal hal tersebut ketika berada di LPM Justisia dan dimatangkan di eLSA. Sehingga dua lembaga ini punya kontribusi dalam pergeseran pandangan antara sebelum dan sesudah berproses.

Parkee menyebut bahwa yang dilakukan oleh kelompok eLSA adalah bagian dari model atau karakter Islam Liberal. Ada empat ciri yang melekat pada kelompok ini. Pertama, mereka yang ada di eLSA mengikuti pola keagamaan ala NU dan sangat menghargai tradisi lokal. Kedua, mereka menerima penafsiran yang kontekstual terhadap teks keagamaan. Ketiga, mendukung pluralisme dan mengakui bahwa agama-agama lain juga sebagai jalan untuk mengupayakan kebenaran. Keempat, atas dasar toleransi dan humanisme, eLSA melakukan advokasi terhadap kelompok minoritas. Dalam skala makro, apa yang ditulisnya menunjukan bahwa (i) skripturalisme dan radikalisme bukanlah satu-satunya karakter Islam di Indonesia. Ada kelompok Islam yang menghendaki hubungan harmonis, tafsiran kontekstual dan membangun toleransi antar umat beragama. (ii) hubungan yang harmonis diantara umat beragama merupakan elemen bagi integrasi dan rekonsiliasi. (iii) kesadaran dan aktivitas mereka sangat dibutuhkan dalam resolusi konflik. (iv) kasus eLSA menunjukan bahwa ada kelompok umat Islam yang mendukung nilai-nilai universal bangsa, masyarakat dan sekaligus keluar dari wawasan yang eksklusif.

Sayangnya, dalam tesis tersebut, Parkee tidak melakukan analisa kritis terhadap kegiatan-kegiatan atau pemikiran-pemikiran mereka yang ada di eLSA. Ia hanya menunjukan tentang pola serta dinamika kegiatan eLSA, yang baginya, sudah cukup untuk menunjukkan karakter inklusif dari Islam Indonesia, utamanya dari kelompok NU. Saya cukup menghargai upaya Parkee dan melihat hal tersebut sebagai pilihan dalam mengambil posisi terhadap objek penelitian. Kalau penelitian itu punya tujuan mendeskripsikan, menjelaskan, menafsirkan atau mengintervensi, maka Parkee cenderung untuk lebih memilih mendeskripsikan fakta yang ia temukan. Fakta yang tersaji ini kemudian ia maknai dalam konteks yang lebih besar, “Ini lho Islam Indonesia itu, ramah, toleran dan peduli terhadap kelompok yang terdiskriminasi. Bukan yang suka ngebom atau menjarah toko-toko,”

Selain tidak adanya analisa kritis, Parkee sepertinya tidak terlalu ketat dalam memakai takaran. Misalnya tentang liberalisme. Parkee menakar pemikiran eLSA sebagai sesuatu yang “liberal” dengan menggunakan prinsip-prinsip liberalisme yang dianut oleh kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL). Ia tidak memakai kategori Islam Liberal versi Leonard Binder atau Charles Kurzman misalnya. Ketika saya mengkonfirmasi tentang hal ini langsung kepada Parkee dalam sebuah diskusi kecil, ia mengatakan bahwa ia memang sengaja menakar eLSA dengan JIL. Baginya, elemen-elemen tertentu dalam pemikiran eLSA kurang lebih sama dengan enam poin yang menjadi karakteristik JIL. “Hanya, karena eLSA semuanya adalah anak-anak muda NU, maka penghargaan terhadap tradisi lokal menjadi agenda mereka juga. Ini mungkin yang sedikit membedakan dengan JIL,” kata Parkee.

Di luar dua hal yang menjadi kritik saya terhadap tesis Parkee, ada bagian-bagian menarik yang hemat saya, sebagai orang yang menggeluti studi sosiologi agama, membuat tesis ini “hidup.” Saat menceritakan latar belakang penulisan tesis ini, Parkee bercerita dari sebuah pengalaman empiriknya. Saya kutipkan bagian yang sudah diterjemahkan oleh Parkee tersebut.

“Ketika mengunjungi Semarang pada tahun 2009, saya menghadiri sebuah acara Gambang Syafaat yang menampilkan Emha Ainun Najib di Masjid Baiturrahman, Simpang Lima. Ini adalah talk show dan diskusi tentang persoalan lokal dan nasional, khususnya masalah yang berkaitan dengan suku, agama, ras dan golongan, untuk membangun kebersamaan dan kerukunan di Semarang dan Indonesia. Saat itu, beberapa pendeta Kristen menghadiri acara ini sebagai pembicara tamu. Ia menyampaikan perdamaian dalam Teologi Kristen sambil bercerita prasangka dan diskriminasi kepada umat Kristen sebagai minoritas.”

Bagi saya, kajian akademik yang dipadukan dengan sebuah narasi empirik betul-betul menghadirkan karya ilmiah yang hidup, tidak terlalu kaku, dan membawa pembaca untuk hadir dalam peristiwa tersebut. Pengalaman Parkee selama delapan kali mengunjungi Indonesia, cukup berpengaruh terhadap daya serapnya terhadap gejala-gejala kehidupan keagamaan yang ia temui. Terus terang, cara Parkee yang sangat naratif dalam menyulam peristiwa, merupakan model yang sangat menginspirasi. Hal tersebut ia tuangkan dalam sub bab metodologi penelitian. Biasanya, sejauh saya menulis tugas akhir kuliah, metodologi penelitian dibuat, lagi-lagi, dengan sangat formal. Tapi tesis Parkee tidak menggunakan cara itu. Dalam sub bab metodologi penelitian Parkee menulis:

“Sejak melihat acara Gambang Syafaat di tahun 2009 saya tertarik pada karakter Islam plural dan kegiatan kerjasama lintas agama di Semarang dan Jawa Tengah. Saya kemudian mendapat kesempatan kuliah di UNDIP (Universitas Diponegoro) dari September tahun 2014 sampai Agustus tahun 2015 sebagai pelajar beasiswa dari pemerintah Indonesia, dan bisa sambil meneliti di Semarang…

Saya melakukan penelitian di eLSA dari Oktober tahun 2014 sampai Juni tahun 2015 selama 9 bulan. Selama 3 bulan awal dipakai yang mempersiapkan meneliti lebih dalam. Saya mendekati anggota-anggota eLSA sambil observasi yang mudah, misalnya; mengikuti workshop eLSA dan Justisia, acara haul Gus Dur untuk memahami struktur organisasi dan pemikiran pluralismenya, mengikuti dialog lintas agama dan acara pemuda katolik bersama eLSA untuk membangun persahabatan, dan mengikuti seminar-seminar di eLSA dan kadang berpartisipasi sebagai pembicara.”

Bagian lain yang menjadi temuan Parkee adalah soal transmisi pengetahuan dalam relasi-relasi personal di eLSA. Ia melihat, meski ada perubahan dalam orientasi keagamaan, tetapi bagaimana pengetahuan itu didapatkan sesungguhnya jalurnya sama. Jika di pesantren, mereka mendapatkannya melalui kyai, di eLSA (dan Justisia), mereka mendapatkan itu dari para seniornya. Jadi senior itu ada di level “seperti-kyai,” sumber pengetahuan.

Temuannya yang agak jeli adalah soal posisi eLSA dalam diseminasi wacana sekaligus melakukan pendampingan. Pemahaman yang toleran dan terbuka, pada gilirannya tidak hanya berhenti di meja diskusi, tetapi lebih dari itu, ada gerakan praksis berupa pendampingan-pendampingan dan kegiatan-kegiatan yang mendukung soliditas masyarakat di level akar rumput. Menurut Parkee inilah yang menjadi salah satu pembeda antara lembaga ini dengan yang lainnya.

Saya sempat bertanya kepada Parkee mengenai pilihannya menjadikan eLSA sebagai objek penelitian. “Kamu kan mendapatkan pemandangan yang berbeda tentang Islam ketika melihat konsernya Cak Nun. Kenapa tidak itu saja yang menjadi baan penelitian?” tanya saya. Parkee kemudian menunjukan bagian awal dari tesisnya yang menjabarkan tentang alasan memilih eLSA. “Gambang Syafaatnya Cak Nun, memang menjadi salah satu media yang efektif dalam menyebarkan gagasan tentang keterbukaan. Tapi saya mencari model yang bergerak di wacana juga advokasi lapangan. Tadinya saya berpikir untuk menjadikan FKUB sebagai objek, tetapi beda dengan yang saya maksud. Mencermati aktivitas yang dilaksanakan eLSA, akhirnya saya menemukan yang selama ini dicari,” terangnya memberi alasan.

Membaca tesis Parkee, seperti menyimak transkrip kegiatan dan aktivitas teman-teman eLSA yang selama ini mungkin dianggap biasa. Tapi bagi Parkee, peneliti dan pendengar yang ulet, telaten dan cepat beradaptasi itu, apa yang biasa bisa jadi adalah hal yang luar biasa. Interpretasi dan upayanya untuk memaknai eLSA sebagai bagian dari gerbong “liberalisme Islam” adalah sesuatu yang patut dihargai. Meski ada beberapa sekuel di tulisannya yang berbeda dengan apa yang saya pikirkan, tetapi secara umum, tulisan Parkee terkonfirmasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here