Menjadi Berkat

0
81

Oleh: Tedi Kholiludin

Seorang kawan, Setyawan Budi berkirim pesan di sebuah grup percakapan di sosial media. Ia hendak menghibahkan 400-an bukunya. Bukannya tak sayang dengan ilmu, tapi ia lebih sayang lagi jika buku-buku yang dikumpulkannya sejak kecil itu kemudian musnah perlahan-lahan. Apa pasal? Senin (3/12/18) kemarin, rumahnya di daerah Simongan diterjang banjir. Tahun kemarin, di bulan yang sama, kejadian serupa juga menimpanya. Air setinggi lutut orang dewasa masuk ke rumahnya. Tak hanya buku-buku yang terendam banjir, dokumen-dokumen berharga lainnya seperti ijazah dari SD hingga S1, akta kelahiran dan sebagainya juga basah.

Secepat kilat saya merespon tawaran Wawan, panggilan akrabnya. Tapi, ia memberikan syarat, kalau buku yang hendak diambil, jangan dipilih. Harus diangkut semuanya. Saya mengiyakan. Kebetulan pagi itu saya sedang di kampus yang tak jauh dari rumah jejaka yang sedang berjuang mencari cinta sejati. Wawan mengontak saya untuk segera mengambil buku-bukunya karena orang se-Semarang, bahkan mungkin se-Indonesia hendak memburu buku di rumahnya.

Sembari mengendarai mobil, saya nyaris mengurungkan niat mengambil buku karena merasa tidak enak hati. Di satu sisi, terus terang saja, sumbangan buku itu akan sangat bermanfaat bagi teman-teman eLSA dan mereka yang biasa datang kesana untuk berdiskusi, mengobrol atau melakukan riset. Namun, di sisi lain, ini yang membuat agak kurang enak, saya seolah menari di atas luka. Wawan sedang dalam duka, tapi justru saya “menikmatinya”.

***

Salah satu tugas manusia, secara Alkitabiah, adalah menjadi berkat bagi sesama. Kita merupakan manusia yang diberkati untuk kemudian menjadi berkat. Dalam situasi ketika terjadi peperangan sekalipun, umat Allah disuruh untuk mengasihi, bahkan mendoakan orang-orang yang memusuhinya (Matius 5: 44).

Mengapa musuh harus dikasihi? Bukankah itu adalah sebuah tindakan yang sulit diterima secara logika?

Mari kita renungi Matius 5: 45-47 “5: 45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. 5:46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 5:47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?”

5:45 memberikan spirit tentang bagaimana mestinya menjadi berkat. Matahari tak pernah memilah dan memilih kepada siapa ia akan menerangi. Semua manusia di kolong langit ini diberikan cahaya yang sama. Menjadi manusia yang memberikan berkat kepada siapapun, tanpa memandang apakah dia seorang yang pernah memberikan kebaikan kepada kita atau tidak.

Setali tiga uang dengan hujan. Hujan datang kepada siapapun. Ia membagi rata dirinya tanpa mengklasifikasi. Itulah hujan yang menawarkan dahaga kepada umat manusia saat dilanda kemarau berkepanjangan. Matius 5: 45 menguatkan dengan memberikan pernyataan kuat tentang bagaimana menjadi berkat.

Matius 5: 46-47 membangun sebuah kategorisasi dengan pertanyaan-pertanyaan. Yang diajukan dalam Matius 5: 46 mirip-mirip pertanyaan seorang utilitarian. Apa untungnya jika kita memberikan berkat bagi orang lain? Kalau sekadar mengucapkan salam, tidakkah itu bisa dilakukan oleh siapapun, bahkan mereka yang tidak mengenali Tuhan sekalipun (Matius 5:47)

Inilah kesejatian iman yang tercermin tidak hanya dalam ucapan, tapi juga tindakan. Cara yang bisa dilakukan sebagai upaya untuk meneladani Yesus Kristus, seperti dalam Matius 5:48, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Jika kepada musuh, Yesus Kristus menyuruh untuk mengasihi, apalagi kepada mereka yang tidak pernah kita anggap sebagai musuh.

***

Sebagai penganut Kristen sejati, Wawan tentu paham di luar kepala tentang ajaran kasih dan menjadi berkat itu. Ia melakukannya bahkan tak hanya di saat bahagia dan sukacita, tapi dalam kesulitan sekalipun ia terus berupaya menjadi berkat bagi sesama.

Buku-buku yang ia sumbangkan, bukan sembarangan buku. Karya-karya Soekarno, Subcomandante Marcos, Soe Hok Gie, dan tulisan tentang para guru bangsa adalah mutiara yang sangat mahal. Serasa mendapat durian runtuh.

Sembari membawa 4 box buku itu, saya merenungi tentang arti “menjadi berkat” tersebut. Rasa-rasanya, jika ada dalam posisi dia, belum tentu saya bisa sepertinya. Tak mudah untuk menunaikan tugas mulia itu. saat bahagia, berbagi kepada sesama mungkin hal biasa. Tapi apakah itu juga bisa kita lakukan saat dalam posisi sulit?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here