Menjadi Liberal itu Wajib Hukumnya

0
38

(Semarang-elsaonline) Dalam al-Qur’an, Islam digambarkan setidaknya dalam tiga pengertian yakni Din, Millah dan Syari’ah. “Ketiganya memiliki maksud yang berbeda, tetapi kemudian diartikan sama, yakni agama. Disinilah awal mula kekeliruan umat memahami Islam”, demikian ungkap M. Solek pembicara dalam diskusi seri “Religious Studies” Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA), di kantor eLSA Perum Pandana Merdeka, N.23 Semarang, Jum’at (11/02) kemarin.

Diskusi yang mengambil tema “Menggali makna Islam dalam Pengertian Din, Millah dan Syari’ah” itu dihadiri oleh aktivis mahasiswa dari LPM Justisia dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII).  Diskusi ini merupakan lanjutan dari seri Religious Studies yang sebelumnya membahas tema “Pilar-pilar Tradisi Arab Pra-Islam”.

Sebelum diskusi dimulai, Tedi Kholiludin, Direktur eLSA menyampaikan gambaran dari dua seri diskusi yang dilaksanakan oleh lembaganya. “Selain seri religious studies, eLSA juga menghelat diskusi Sejarah dan Ilmu Sosial, agar bisa dijadikan sebagai pisau untuk memahami Islam” tuturnya.

M. Solek memulai presentasinya dengan  menekankan pentingnya memahami Islam secara holistik, komprehensif. “Kalau Islam dipahami secara fragmented, maka akan terjadi benturan, baik dengan agama lain, maupun antar madzhab dalam Islam. Makanya perlu pendekatan interdisipliner” tegasnya. Menurut pria asal Cirebon itu, wawasan demikian mengharuskan seseorang menjadi muslim yang liberal. Kekerasan yang terjadi terhadap Jemaat Ahmadiyyah misalnya, menurut Solek timbul karena wawasan yang sempit tentang Islam.

M. Solek (tengah) Pembicara Diskusi "Islam sebagai Din, Millah dan Syari'ah"

Baginya, pemikiran liberal itu sangat dibutuhkan, karena umat Islam membutuhkan kebebasan dari ortodoksi. Ortodoksi, demikian ungkap solek kebanyakan adalah pro status quo, memantapkan kekuasaan.

Liberalisme, sebagai sebuah proyek yang menghargai kebebasan berpikir, sangat penting karena setiap denominasi dalam Islam memiliki kepentingan, baik Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah dan Sunni sendiri. Tak hanya aliran-aliran itu, bahkan madzhab fiqih dalam Islam juga memiliki kepentingan. “Kita lihat murid-muridnya Imam Syafi’I mereka berlomba-lomba menunjukkan kalau pemikiran gurunya itu yang paling benar” tukasnya.

Menurut alumnus Leiden University ini, negara yang sehat atau negara maju selalu dicirikan oleh tiga komponen. Pertama, inovasi dalam berpikir. Slogan God is Dead yang didengungkan oleh Nietzche, bagi Solek adalah bagian dari tradisi pengembangan inovasi berpikir itu. Terlepas jika ungkapan ini kemudian direspon negatif oleh banyak kalangan, terutama agamawan. Kedua, tradisi kritik yang begitu luas berkembang. Kritik ini dibutuhkan agar pengetahuan tidak stagnan, berada di satu titik. Ini tentu saja tidak bisa diterima oleh kelompok ortodoks, yang rata-rata anti kritik. Disitulah sebenarnya awal dari kemunduran Islam. Ketiga, gender equality. Maksud dari pernyataan ini adalah penghargaan terhadap kesetaraan dalam mengungkapkan pendapat. Mereka yang mengatakan I’m the best tentu saja tidak menghargai prinsip perbedaan ini.

“Karena itu sekali lagi, pemikiran liberal itu dibutuhkan, wajib hukumnya. Sayang banyak orang tidak mengerti tentang makna liberal itu sendiri”, keluhnya.

Solek melanjutkan paparannya dengan membuka referensi andalannya, Tafsir al-Mizan karya ulama Syi’ah, Muhammad Husein Thobaththoba’i.

Persoalan mendasar yang dialami oleh umat Islam saat ini, kata Solek, karena Islam semata-mata dimaknai sebagai syari’ah. Padahal, Islam itu kata Solek adalah Din. Din itu nilai universal yang diberikan kepada semua nabi dan rasul. “Jadi, Yahudi dan Kristen juga muslim, bukan kafir. Ini persoalan mendasar yang harus dipahami” tandasnya.

Al-Qur’an memang banyak menyinggung tentang musyriknya orang Yahudi dan Kristen. Tetapi Solek segera menegaskan bahwa musryiknya Yahudi dan Kristen itu bukan dari “sono”nya tetapi datang “kemudian”. Jadi Yahudi serta Kristen itu esensinya bukan musyrik, sama juga dengan orang Islam. Begitu juga orang Islam yang pada satu waktu bisa saja menjadi musyrik.

Kecaman al-Qur’an terhadap kaum musyrik, ungkap Solek lebih dikarenakan perilaku barbarnya, bukan keyakinannya. Solek mencontohkan tentang peristiwa Musailamah al-Kadzdzab. Musailamah diperangi bukan karena keyakinannya atau pengakuannya sebagai nabi, tetapi karena ia menusuk nabi dari belakang. Ia mengkhianati kesepakatan sosial dan politik yang sudah dilakukan. Namun, kebanyakan umat Islam kemudian memahaminya sebatas pengakuannya sebagai Nabi.

Tantangan yang dihadapi oleh umat Islam juga adalah karena aspek legal-formal begitu dominan dalam Islam. Yang terjadi kemudian Islam ini seperti sebuah keputusan undang-undang yang mengenal “masa berlaku”nya. Wajar jika kemudian terjadi pembatasan-pembatasan tertentu dalam sebuah term. Misalnya pemahaman Islam sebagai agama terakhir. Karena dipahami secara formalistik, maka yang terjadi kemudian seolah-olah agama lain tidak berlaku lagi. Ini konsekuensi dari Islam yang dimengerti terbatas pada aspek fiqih saja.

Karena itu, Islam harus berubah dari makna syari’ah ke makna din. Mengutip Thobaththoba’i, Solek menuturkan jika syari’ah itu terbatas diberikan pada umat tertentu, tidak demikian halnya dengan din. Din merupakan divine way universal yang diberikan kepada semua manusia. Disinilah makna Islam sesungguhnya. Sementara millah itu bisa dikatakan sebagai model atau living tradition untuk menjalankan syari’ah. Dengan kata lain, millah itu adalah pola yang mengikuti cara orang lain.

Para peserta diskusi

Bagi Solek, pemahaman seperti ini dapat memudahkan kita untuk menafsirkan ayat-ayat eksklusif seperi wa lan tardhaa ‘ankal yahuudu wan nashaaraa hatta tattabi’a millatahum. Jadi ketidakrelaan orang Yahudi dan Kristen kepada orang Islam itu bukan karena mereka memaksa masuk agama mereka, tetapi mengikuti tradisi atau pola kehidupannya.

Sayangnya, din, millah dan syari’ah dimaknai sama. Islam sebenarnya didesain sebagai agama trans-etnis. “Nama Islam itu sendiri, kan tidak merujuk pada satu tempat atau nama dari pemimpin agamanya (Muhammad). Seharusnya Islam itu yang paling siap menerima nilai-nilai plural”, lanjut Solek. Baginya, Islam from the beginning, mengakui Nabi Musa, Ya’qub, Yesus (Isa), dan lainnya yang merupakan modal untuk mengakui pluralitas itu. Jadi, meski Islamnya Muhammad itu konteks yang khusus (syari’ah), tetapi modal untuk responsif terhadap perbedaan itu ada dalam Islam.

Di akhir pembicaraan, Solek yang juga staf pengajar di Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang mengatakan kalau jaminan keselamatan bukanlah ditentukan oleh label agamanya, Islam, Kristen, Yahudi dan lain-lain. Jaminan yang paling utama adalah mereka percaya pada Yang Maha Kuasa, Hari akhir dan amal soleh. Itulah hakikat dari iman yang akan menyelamatkan manusia.

Bagi Solek, mengutip Thobaththoba’i, nama itu tidak penting, karena tidak ada pengaruhnya. Yang penting bagi manusia adalah hakikat dari keberimanan itu. “Prestasi yang diperhitungkan, bukan agamanya” tegasnya. Penjelasan dari Thobaththoba’i sangat bisa diterima dalam konteks masyarakat yang plural ini. (elsa-ol/01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here