Menolong Tanpa Pamrih, Ajaran Sapto Dharmo

0
153
Sesanti yang terpasang di dalam Sanggar Sapto Dharmo Sitanggal

Sesanti yang terpasang di dalam Sanggar Sapto Dharmo Sitanggal
Sesanti yang terpasang di dalam Sanggar Sapto Dharmo Sitanggal
[Semarang –elsaonline.com] Satu hal yang menarik dari penganut Sapto Dharmo di Desa Sitanggal Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes adalah banyak preman-preman yang mendukung dan menjaga kegiatan sujudan (ritual, red) di sanggar Sapto Dharmo yang berada di RT 003 RW 001 Desa Sitanggal Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes.

Preman-preman itu menjaga dengan kemauan sendiri, tidak ada pihak yang memintanya. Menurut Ketua Sapto Dharmo Kecamatan Larangan, Rakyo (56), kemauan itu didorong oleh rasa balas jasa terhadap penganut Sapto Dharmo. Pasalnya, Sapto Dharmo di Desa Sitanggal banyak yang dipercaya masyarakat bisa mengobati penyakit dan menolong orang-orang yang hendak melahirkan.

Rakyo sendiri hampir diperlakukan seperti bidan, setiap kali ada orang hendak melahirkan ia dimintai tolong untuk membacakan mantra atau membuat air supaya prosesi melahirkan cepat berhasil, selamat dan sukses. “Warga sini banyak yang minta tolong ke saya mas, kalau istrinya mau melahirkan ya kesini ngundang saya, jam satu malam, jam empat, itu sudah biasa,” jelas Rakyo di kediamannya, (29/05).

Saat sanggar milik Rakyo oleh sebagian umat Islam Kecamatan Larangan dibekukan ada preman Desa Sitanggal yang tidak terima. Menurut preman itu, Rakyo orangnya baik, suka menolong orang. “Pak Rakyo itu embah, baik, orang sakit juga diobati oleh Pak Rakyo, istri saya saat melahirkan ya yang menolong Pak Rakyo. Jadi keliru kalau agama Pak Rakyo dianggap sesat,” tutur Rakyo menirukan ucapan preman di Desanya.

Walaupun sering dimintai masyarakat untuk mengobati berbagai penyakit, tapi penganut Sapto Dharmo tidak pernah menarik bayaran sedikitpun. Bagi penganut Sapto Dharmo, menolong orang dengan cara mengobati tidak boleh dijadikan lahan mencari uang. Membantu terhadap sesama adalah salah satu ajaran Sapto Dharmo yang harus dilakukan oleh penganutnya. “Ajaran niki tanpa pamrih nulung tiang. Bengi-bengi udan angin kulo mboten pernah nyuwun upah sepeser pun (Ajaran ini [Sapto Dharmo] itu tidak pamrih ketika menolong orang. Saya sering menolong orang pada malam hari, cuaca hujan dan angin kencang, tapi saya tidak pernah meminta imbalan sepeser pun),” tegasnya. [elsa-ol/KA-@khoirulanwar_88]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here