Menuju Balig Sosial

0
177

Kumpulan tulisan yang ada di buku ini adalah “kado ingatan” yang diberikan oleh sahabat-sahabat Khoirul Anwar untuk pernikahannya. Sejak 2011, Awang, begitu biasa kami di Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) memanggilnya, mendaratkan kakinya di Semarang setelah 10 tahun lamanya menimba ilmu di sebuah pesantren di timur Jawa. Ia menggumuli ilmu pengetahuan yang tak benar-benar baru di kampus Universitas Islam. Makanya, ia kerap mencari menu akademik lain di luar kampus.

Perkenalan awal ia dengan eLSA adalah berkat tangan dingin KH. Abu Hapsin, PhD. Pendiri eLSA tersebut merekomendasikan Awang untuk menggeluti dunia jurnalistik di kampus melalui Lembaga Penerbitan Mahasiswa (LPM) Justisia sekaligus belajar tentang riset dan advokasi di eLSA. Karena eLSA kebetulan punya kantor sederhana, maka Awang diminta menempati tempat tersebut.

7 tahun lamanya ia bergumul dengan buku, berdiskusi dengan banyak orang, melakukan penelitian ke berbagai tempat di Jawa Tengah dan seterusnya. Meski tampak serius, tapi semua orang di eLSA tahu kalau Awang sejatinya bukan orang yang terlampau kaku dan monoton. Ia bisa dengan mudah membelokkan sesuatu yang serius menjadi hal yang enteng.

Karena banyak berkenalan dengan banyak orang, maka tiap jengkal langkahnya selalu diingat oleh mereka yang bersentuhan dengannya. Buku kecil ini, adalah salah satu cara bagi kami, selaku sahabat-sahabatnya untuk mengabadikan memori yang hadir dari perjumpaan kami dengan Awang, atau kisah Awang yang dianggap unik.

Judul buku ini, “Menuju Balig Sosial,” sesungguhnya adalah frase miliknya. Satu waktu ia bercerita tentang pernikahan. Ia kemudian mengistilahkan nikah itu sebagai pertanda “balig sosial.” Orang mungkin tidak selalu sepakat dengan ide ini, tapi bagi kami, inilah menu yang ia sodorkan dan kami meraciknya untuk kemudian disajikan kepada sang pemilik gagasan.

Pada akhirnya, sebagai wakil dari teman-teman yang berkontribusi di buku ini, saya mengucapkan selamat menempuh hidup baru untuk Khoirul Anwar dan Ulfi Diana. Kado yang tak seberapa ini mungkin hanya butuh waktu 10 menit saja untuk membacanya. Cukup singkat memang. Tapi pekerjaan yang singkat itu dilakukan untuk mengenang sebuah perjalanan yang abadi.

Download disini

untuk versi PDF Download disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here