Merawat Keragaman dan Kebebasan di Negara Bhinneka Tunggal Ika: Sebuah Perspektif Islam

0
43

Oleh: Khoirul Anwar

Peneliti di Lembaga Studi Sosial dan Agama Semarang

Mungkin tidak akan pernah ada perbedaan jika tidak ada kebebasan. Kata Jammal al-Banna, “kebebasan adalah induk keberagaman, jika kebebasan tidak diperhitungkan niscaya tidak akan pernah ada keberagaman (wal hurriyatu hiya ummu at-ta’adudiyah, fa idza lam tu’ad hurriyatun fa laisa hunaka ta’addudiyah). Artinya tanpa kebebasan yang telah diberikan Allah kepada manusia sejak lahir di dunia ini tidak akan terjadi perbedaan. Karena melalui kebebasan itulah manusia dapat berkehendak dan berkreasi menciptakan peradaban sesuai dengan hati nuraninya.

Tidak sedikit ayat al-Quran yang menjelaskan tentang anugerah Allah kepada manusia yang berupa hak kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya di dunia. QS. Al-Kahfi 29 secara jelas menyatakan bahwa manusia dipersilahkan untuk memilih kepercayaan keagamaannya, menjadi mukmin silahkan, menjadi kafir juga terserah. Semua ini karena manusia adalah makhluk yang paling dimuliyakan Allah (QS. Al-Isra` 70, QS. Al-Tin 4, QS. Al-A’raf 11, dst.).

Demikian pula dengan hadis nabi Muhammad Saw. Tidak sedikit riwayat yang menginformasikan sikap toleransi nabi atas tindakan sahabatnya yang tidak sesuai dengan pendapat nabi. Kisah Salman al-Farisi ketika membuat parit, toleransi nabi Saw. atas tindakan sahabatnya yang keluar dari Islam, dan yang lainnya. Nabi Saw. bersikap toleran atas semua itu karena nabi Saw. menjunjung tinggi kehormatan dan kemuliyaan setiap manusia sebagai pemilik hak kebebasan untuk menentukan pilihannya.

 

Download disini

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here