Merpati dari Barat: Mennonite, Cinta, dan Perdamaian

0
224

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

MennonitePada awal bulan Mei tahun 2005, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di bumi Amerika Serikat—sebuah negeri paling digdaya di jagat ini pasca tumbangnya Uni Soviet yang diimpikan banyak orang. Sungguh tidak menduga dan seperti mimpi rasanya, seorang Muslim-miskin dari sebuah pedalaman desa di kabupaten Batang, Jawa Tengah, seperti saya bisa mendarat di negeri kaya, modern, maju, dan makmur bernama Amerika Serikat yang dulu hanya bisa saya saksikan lewat film-film Hollywood.

Setibanya di Washington Dulles International Airport, sebuah bandara seluas 42 km2 yang terletak di kawasan Chantilly di pinggiran Washington, DC yang sebetulnya masuk wilayah negara bagian Virginia, saya tidak henti-hentinya melihat pemandangan mengagumkan dan menggiurkan di ibukota pemerintahan AS ini: gedung-gedung yang menjulang tinggi, mobil-mobil mewah, aneka bangunan yang tertata rapi, orang-orang klimis dan perlente dan seterusnya yang semuanya kontras dengan diri saya, kampung saya, dan negeri saya yang lusuh, kumuh, dekil, kumal, miskin, dan amburadul. Saya jadi teringat Si Kabayan Saba Kota, sebuah film yang menceritakan kehidupan seorang kampung yang lugu bernama Si Kabayan dalam mengarungi kehidupan kota Jakarta. Seperti Si Kabayan yang melotot kagum bercampur bingung terhadap situasi dan suasana Jakarta, saat itu saya juga menatap kota metropolitan Washington, DC, dengan penuh ketakjuban sambil terus bergumam “kapan negeri saya bisa seperti ini.”

***

Saya datang ke AS waktu itu karena dapat undangan dari panitia workshop bertajuk “Seminars on Trauma Awareness and Resilience” (STAR) di Eastern Mennonite University (EMU). Kampus berbasis Kristen Mennonite ini terletak di Harrisonburg, sebuah kota kecil di Shenandoah Valley di Negara Bagian Virginia, yang berjarak sekitar 80 km dari Washington, DC. Program workshop intensif ini diselenggarakan oleh EMU bekerja sama dengan Church World Service, sebuah lembaga Kristen yang didirikan oleh gabungan dari 35 denominasi Protestan, Orthodox, dan Anglikan tahun 1946 yang telah melakukan kerja-kerja sosial kemanusiaan dan perdamaian di lebih dari 80 negara. Ada sekitar 50 tokoh agama, sarjana, akademisi, praktisi perdamaian, aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan civil society organization (CSO), tokoh masyarakat, dan peacebuilder dari berbagai penjuru negara dan agama yang diundang oleh panitia. Selain para tokoh Yahudi, Kristen, Sikh, Buddha, Baha’i, Hindu, dll, forum ini juga dihadiri para tokoh Muslim dari Palestine, Israel, Jordan, Lebanon, Iraq, Mesir, Bosnia, Syria, Afghanistan, Chehnya, dan Pakistan.

Acara ini dimaksudkan selain membahas masalah terorisme global dan trauma healing bagi korban bencana baik bencana yang diakibatkan oleh alam maupun kejahatan politik, juga untuk merumuskan dan mencari solusi yang tepat bagi pembangunan perdamaian (peacebuilding) di daerah-daerah konflik seperti negara-negara di kawasan Sahara Afrika, Arab, Timur Tengah, Pakistan, Afghanistan, Bangladesh, Myanmar, India, Vietnam, Philippines, negara-negara bekas Uni Soviet, Amerika Latin, dan tentu saja termasuk Indonesia.

Sisi lain dari workshop ini adalah saya menyaksikan beragam cerita yang memilukan dan mengharukan dari para peserta khususnya berkaitan dengan para korban kekerasan dan kejahatan kemanusiaan (human crimes): cerita tentang orang Islam menggorok sesama umat Islam seperti terjadi di Darfur-Sudan, kisah orang Kristen membunuhi saudaranya (seperti di Irlandia Utara), cerita mengenai aksi saling bunuh antar-etnis dalam satu negara (seperti Hutu dan Tutsi di Rwanda), antar dan inter-agama (misal di Palestine/Israel, Sunni-Syi’ah-Kurdi di Iraq), antar-suku (seperti di Sudan dan kawasan Afrika lain), dlsb. Mendengar kisah-kisah tragis  buah dari kekejaman dan kebiadaban manusia ini membuat para peserta workshop meneteskan air mata karena haru dan iba.

Ada buku sangat baik yang menceritakan kisah-kisah pilu dari balik negara-negara konflik yang ditulis oleh Samantha Power, seorang jurnalis, pemenang Pulitzer Prize, dan penasehat Barack Obama untuk urusan luar negeri sebelum akhirnya mengundurkan diri setelah membuat “pernyataan kontroversial” tentang Hillary Clinton, dalam salah karyanya, A Problem from Hell: America and the Age of Genocide (2003). Buku ini tidak hanya mengisahkan kebiadaban rezim Pol Pot, Saddam Husein, Rwanda, Israel, Balkan dan lainnya, tetapi juga dengan sangat cerdas mengungkap “invisible hands” di balik konflik kekerasan termasuk dukungan rezim “Washington” dalam bentuk finansial dan strategi kepada rezim yang terlibat konflik kekerasan itu. Karena itu, Power bertanya: why do American Leaders who vow “never again” repeatedly fail to stop genocide? Jawabnya, menurut Power yang sekarang bekerja di Carr Center for Human Rights Policy di Harvard University’s Kennedy School of Government, karena adanya “standar ganda” Amerika Serikat dalam setiap penyelesaian konflik kekerasan.

Ibarat pepatah, “ada udang di balik batu,” maka demikianlah ada motivasi ekonomi di balik penyerbuan dan intervensi politik rezim AS.

Dunia saya rasa sudah mafhum akan hal ini.

Oleh karena itu tidak aneh jika muncul kritik-kritik tajam ke rezim “Washington.” Kritikan keras itu juga dilontarkan para peserta program STAR tadi. Tidak hanya peserta non-AS yang bersuara keras menentang kebijakan politik luar negeri (foreign policy), peserta dari AS sendiri—yang sebagian besar pengikut Katolik, Protestan, dan Yahudi—bersuara lantang mengkritik kebijakan pemerintahan Bush yang suka campur tangan rumah tangga negara lain. Narasumber workshop yang kebanyakan para profesor Mennonite dari kampus tersebut juga melontarkan kritikan-kritikan heroik terhadap cara-cara kekerasan dan “diplomasi perang” yang dilakukan rezim Bush dalam menyelesaikan masalah kepolitikan negara-negara lain.

Bagi saya, pemandangan ini tentu saja sangat mengejutkan. Terkejut karena sebelum tiba di AS, saya membaca berita-berita sumir dan provokatif media massa, terutama media terbitan kelompok Islam “garis keras,” tentang koalisi global Kristen-Yahudi untuk menghancurkan Islam, tentang persekongkolan AS-Israel untuk menumbangkan negara-negara berbasis Islam, tentang bahaya AS sebagai teroris dunia nomer wahid, sebagai “dajal modern” dst. Bagi beberapa kelompok Islam militan-konservatif tadi, perang di Palestina, Afghanistan dan Iraq (bahkan kerusuhan di Maluku, Sudan, dan di berbagai sudut dunia yang melibatkan non-Muslim) adalah bagian dari “skenario global” untuk menghancurkan Islam tadi (untuk kemudian mengkristenkan mereka) bukan sekedar memerangi kaum teroris Muslim saja. Program “war on terror,” buat mereka hanyalah kedok AS untuk menggilas sendi-sendi kekuatan Islam yang anti Barat. Propaganda anti AS-Israel (dengan demikian Kristen-Yahudi) ini tidak hanya mereka lampiaskan lewat media cetak dan elektorik tapi juga melalui forum-forum keislaman lain: pengajian umum, khutbah Jum’at, kultum, dll.

Pemandangan menarik dan “mengejutkan” lain ketika mengikuti program STAR tadi adalah saat saya melihat hubungan harmonis sesama peserta yang berbeda agama dari negara yang sedang bersetru. Misalnya, Malika Islamova, aktivis perdamaian Muslim dari Chehnya (Chechen Republic) sangat akrab dengan Galina Samarskaya yang berlatar Kristen Orthodox dari Russia dan juga Snezana Andjelic dari Serbia. Padahal kita tahu, di negara-negara itu terlibat kekerasan horizontal yang cukup lama antara Islam-Kristen. Begitu pula teman saya dari Jerusalem, Sami Saber Abdallah al-Jundi yang sangat “mesra” dengan Odelya Gertel dari Israel.

Didorong oleh rasa penasaran, saya bertanya kepada Sayid Sami tentang keakrabannya dengan Odelya. Dia menjawab bahwa kekerasan yang terjadi di negaranya adalah murni akibat ambisi politik rezim penguasa, bukan kemauan sebagian besar rakyat. “Ini adalah urusan politik bukan masalah keagamaan,” tuturnya dalam bahasa Inggris ber-aksen khas Arab-Timur Tengah. Jawaban yang sama juga diberikan oleh Odelya. Mereka berkisah bagaimana mungkin orang-orang Israel dan Palestine berseteru sementara mereka sudah saling membaur dalam kurun yang cukup lama. Banyak orang Israel yang kawin dengan warga Palestine, begitu pula sebaliknya. Karena itu banyak warga Israel yang menentang perang yang dilakukan rezim mereka, demikian juga tidak sedikit warga Palestine yang mengutuk peperangan. Tetapi dimanapun konflik politik selalu menyeret rakyat untuk dijadikan sebagai tumbal kekerasan sehingga yang muncul di permukaan (seolah) konflik agama. Agama, selain ideologi, memang menjadi entitas yang mudah dibangkitkan sebagai penyulut konflik kekerasan.

Menyaksikan fakta-fakta “unik” di atas, dalam hati saya terus bertanya-tanya: apakah persekutuan global “Yahudi-Kristen” seperti yang dituduhkan oleh teman-teman Muslim “militan-fundamentalis” tadi itu riil? Betulkah semua orang Kristen dan Yahudi tanpa kecuali membenci Muslim? Apakah kritikan-kritikan tajam mereka di forum workshop itu tulus atau hanya kamuflase belaka, sekedar “politik gincu” untuk meminjam istilah Buya Syafi’i Ma’arif, untuk menutupi kebijakan politik pemerintah AS yang memang hobi perang? Apakah canda-gurau mereka itu berangkat dari hati nurani yang paling dalam atau hanyalah “panggung sandiwara” yang penuh dengan kepura-puraan? Apakah suara-suara Kristen Mennonite yang penuh rasa cinta, kasih sayang, dan perdamaian itu mucul dari lubuk hati yang paling dalam atau sekedar “bersimpati” saja untuk menghormati kepada para peserta tamu non-Kristen? Atau…?

Saya bertanya dan terus bertanya meski workshop telah berakhir….

***

Berangkat dari rasa penasaran ini, saya mencoba melamar program MA di bidang “conflict transformation and peace studies” di Eastern Mennonite University’s Center for Justice and Peacebuilding (biasa disingkat CJP). Tujuannya adalah untuk melihat lebih dalam tentang visi dan missi Mennonite khususnya tentang “doktrin” cinta, compassion, dan perdamaian global yang begitu kuat di komunitas Kristen ini. Alhamdulillah, keinginan untuk studi lanjut di CJP ini terkabul. Hal itu terjadi karena Mennonite Central Committee (MCC) yang bermarkas di Akron, Pennsylvania, lewat kebaikan dan generousity Ed Martin selaku Direktur Asia MCC (juga Dan and Jeanne Jantzi sebagai direktur MCC Indonesia) setelah mendapat endorsement dari mantan professor saya Mesach Krisetya, John Titaley, dan juga Prof. Lawrence Yoder, pengajar missiology di Eastern Mennonite Seminary (EMS), bersedia memberi full scholarship selama dua tahun untuk studi resolusi konflik dan perdamaian di kampus tersebut. Maka pada akhir tahun 2005, saya, kali ini bersama anak-istri, kembali ke kampus EMU di kota Harrisonburg yang berpenduduk sekitar 40,468 orang berdasarkan census tahun 2000.

Sebelum belajar di CJP, saya tidak tahu sama sekali tentang dunia Kristen Mennonite. Saya hanya tahu AS dihuni oleh Kristen Protestan dan Katolik. Itu saja. Saya tidak tahu kalau AS ternyata dihuni oleh ratusan atau bahkan mungkin ribuan denominasi Kristen dan agama-agama lain. Lebih dari itu, selain cerita-cerita tentang kemajuan teknologi dan kemakmuran, apa yang saya dengar tentang AS ini, juga kebanyakan orang Indonesia saya kira, tidak ubahnya seperti “negeri maksiat” tempat berkumpulnya para pendosa, negara pemuja kebebasan individu, negeri pemuja rasionalisme dan liberalisme, dlsb. Ada juga yang menyebut AS itu sebagai negeri “setan besar,” “jahiliah modern” dan embel-embel negatif lain seperti digembar-gemborkan oleh kalangan fundamentalis Muslim dan “ekstrem kiri.”

Memang tidak bisa dipungkiri ada warga AS yang berperilaku “dehuman” menjadi pendukung perang, penyokong ketidakadilan, pelaku kekerasan, serta pengumbar kebebasan dalam segala hal termasuk freesex misalnya. Bahkan konon di kota Las Vegas, satu diantara 10 perempuan disana adalah stripper (“penari telanjang”). Namun demikian, juga tidak sedikit orang-orang AS yang berperilaku saleh, generous, utilitarian, demokratis, manusiawi, menjunjung tinggi nilai-nilai universal dan hak-hak asasi manusia, menghargai perbedaan agama, toleran terhadap perbedaan pendapat, dst. Jelasnya, AS bukanlah negeri yang homogen dan monolitik yang dihuni oleh penduduk yang berkarakter, berperilaku, berpikiran, dan berbudaya sama dan seragam. Negara “Paman Sam” ini merupakan kawasan yang sangat plural dan heterogen dalam pengertian segalanya: budayanya, tradisinya, agamanya, pemikirannya, pandangan hidupnya, dst. Fakta kemajemukan ini tentu saja bukan hanya monopoli AS. Negara dan bangsa lain juga berkarakter sama: plural, hiterogen, beragam. Kebaikan dan keburukan selalu hadir berdampingan. Di manapun kita menginjakkan kaki di bumi ini, di Hollywood, London, Mekkah, Jakarta, dst kita akan selalu menemui “si baik” dan “si jahat.”

Fakta pluralitas AS ini karena negara ini merupakan “melting pot” tempat bertemu dan berkumpulnya berbagai orang dari berbagai negara. Sejak perang antara pengikut Katolik dan Protestan di Eropa di masa “Reformasi Protestan” di awal abad ke-16 yang mengakibatkan jutaan orang terbunuh itu, gelombang besar pengungsian orang-orang Eropa ke AS untuk mencari suaka baru yang aman pun tidak terbendung. Perang itu bermula saat Martin Luther menempel “95 Tesis Reformasi” di pintu Gereja Castle Wittenberg pada tanggal 31 Oktober, 1517. Perang saudara sesama pengikut Jesus itu baru selesai setelah penekenan perjanjian damai yang dikenal “Peace of Westphalia” pada tahun 1648. Kemudian saat gerakan anti-Yahudi marak di Eropa yang puncaknya pada masa Adolf Hitler (1889-1945), arus pengungsian dalam skala besar warga Eropa ke AS juga kembali terjadi. Arus migrasi orang-orang Eropa ke AS ini juga terjadi saat meletus Perang Dunia II. Berbeda dengan warga Eropa yang datang ke AS sebagai pengungsi, orang-orang Afrika didatangkan ke AS sebagai budak, kuli, dan buruh.[1]

Karena itu tidaklah mengherankan jika orang-orang AS modern saat ini mempunyai moyang dari berbagai negara: Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Belanda, Irlandia, Rusia, Austria, dan negara-negara di Afrika. Itu belum termasuk Canada, dan negara-negara di kawasan Amerika Tengah dan Amerika Selatan: Cuba, Meksiko, Honduras, Brazilia, dlsb. Lalu siapa “orang-orang Amerika asli atau pribumi”? Ya siapa lagi kalau bukan suku Indian yang sekarang hidup di pinggiran kota, di hutan-hutan, yang ironisnya mereka justru dijadikan sebagai barang tontonan dan “aset turisme” oleh para pendatang tadi. Banyak juga orang-orang Indian yang tinggal di daerah “reservasi,” tanah khusus yang disediakan oleh pemerintah AS untuk masing-masing suku Indian. Situasi suku Indian yang tergeser ke belakang ini mirip dengan orang-orang Papua yang terdesak ke pedalaman oleh para pendatang dari kawasan “BBM”: Buton, Bugis, Makasar, dan juga Jawa.

Pada pertengahan dan akhir abad ke-20, ada arus gelombang baru yang ikut meramaikan peta perpendudukan AS, yakni orang-orang Arab dan negara-negara di Timur Tengah, suku Kurdi, Vietnam, Kamboja, Cina, Jepang, Korea, India, Pakistan, Bangladesh, Rwanda, Somalia, Ethiopia, Nigeria, dan orang-orang dari berbagai negara yang terlibat konflik. Banyaknya orang-orang “non-pribumi” yang mendiami kawasan AS itu berdampak pada beragamnya tradisi dan kebudayaan warga AS termasuk dalam hal ini adalah agama dan sistem kepercayaan mereka.

Di AS memang ada ratusan atau mungkin ribuan denominasi dan serikat keagamaan yang memiliki corak keberagaman, tradisi dan pandangan keagamaan yang beragam. Pluralitas keberagamaan itu dijamin oleh konstitusi pemerintah AS atas nama demokrasi yang disebut Bill of Rights. Dokumen fundamental tentang hak-hak azasi manusia ini diperkenalkan oleh James Madison pada pertemuan pertama antara anggota Senat (the United States Senat) dan DPR AS (the United States House of Representatives) tahun 1789. Karena itu tidak heran jika berbagai aliran agama dan kepercayaan tumbuh subur di negeri ini seperti Protestan, Katolik, Judaisme, Islam, Ahmadiyah, Mormonisme, Konghucu, Buddha, Hindu, Taoisme, Sikh, Baha’i, Shinto, Zaroastrianism, Jainisme, dan masih banyak lagi. Khusus untuk agama Islam ada setidaknya 8 juta kaum muslim disini yang berpendapatan lebih dari 45.000 USD per tahun.

Tidak hanya keagamaan, realitas pluralitas ini juga merambah sektor lain: kesenian, kebudayaan, makanan, dst. Semua melebur dan menjadi bagian dari “kebudayaan AS” (American cultures). Bahkan bisa dikatakan sangat sulit mencari sesuatu yang “genuine” dari AS. Dalam hal makanan juga banyak yang berasal dari luar seperti pizza, spaghetti (Italia), hamburger (Jerman). Ini persis seperti Indonesia dimana banyak makanan yang sudah “meng-Indonesia” tetapi sebetulnya asal-usulnya dari China, sebut saja tahu, bakso, bakmi, bakpia, bakpao, bakwan, lumpia, dll. Karena itu bisa dikatakan jika Indonesia adalah negeri “seribu pulau” maka Amerika adalah negeri “seribu wajah.” Kita tidak bisa menilai AS hanya dari satu sudut pandang, satu perspektif bahwa AS itu “begini” atau “begitu”. Penilaian yang menggunakan perspektif “oposisi biner” ini akan menghasilkan kesimpulan yang tidak akurat.

Di Harrisonburg tempat saya tinggal dulu, juga terdapat banyak komunitas dari China, Palestine, Vietnam, India, dan juga suku Kurdi dari Iraq yang semasa rezim Saddam dijadikan sebagai sasaran pembantaian. Orang-orang Kurdistan ini menjadi salah satu unsur penting di Islamic Association of Shenandoah Valley dan Islamic Center of Shenandoah Valley yang bermarkas di Harrisonburg. Bahkan imam besar masjid di Harrisonburg, satu-satunya masjid di kota ini, adalah warga Kurdi peraih gelar doktor dari Universitas Al-Azhar Mesir bernama Muhammad “Kakahama” Asykari. Kesan saya, Kakahama, demikian orang biasa memanggilnya, adalah pribadi yang sangat santun, ramah, antusiastik, dan humoris. Meskipun jambang lebat menempel di dagunya, ia sama sekali tidak tampak seram dan angker. Setiap kali kami bertemu, ia selalu menyapa, “As-Salamu ‘Alaikum, how are you brother?” Setelah itu, seperti biasa, ia mulai berkisah tentang apa saja menyangkut pengalaman hidupnya baik saat di Mesir, Iraq, maupun AS. Meskipun ia mengaku banyak teman Muslim dari Indonesia sewaktu sekolah di Universitas Al-Azhar, hanya Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang dia ingat. Ia tampak begitu mengagumi pemikiran-pemikiran dan perjuangan Gus Dur khususnya tentang pembelaan terhadap minoritas dan paham pluralisme.

Kakahama inilah orang yang hampir setiap hari Jum’at menjemput saya untuk salat Jum’at dengan “mobil butut”-nya yang berharga $200 yang dia beli di sebuah lelang mobil rongsokan. Sementara itu, istrinya, Christy Kraemer, seorang muslimah AS, sering menjemput istri dan anak saya setiap hari Rabu pagi karena ada perkumpulan ibu-ibu muslimat di masjid selain acara ngaji dan tadarus Al-Qur’an. Walaupun khutbah-khutbah Jum’at-nya selalu menggebu, heroik, dan bergemuruh tetapi isinya bukan hujatan terhadap kelompok Muslim lain atau non-Muslim. Juga bukan penyebaran kebencian dan permusuhan seperti umumnya khutbah Jum’at di Jakarta. Sebaliknya, khutbahnya selalu berisi pesan-pesan moral Islam sebagai agama damai (peaceful religion) yang anti-kekerasan (nonviolence), persudaraan universal lintas agama, persahabatan sejati lintas etnis, jihad terhadap kemiskinan dan kebodohan, dan penyampaian ajaran Islam tentang nilai-nilai universal lain: pluralisme, keadilan, toleransi, dlsb.

Bagi Kakahama, semua Muslim—apapun aliran, mazhab, corak, dan pemikiran keagamaannya—adalah saudara yang harus dicintai. Ketika saya mencoba bertanya tentang keislamannya sebagai Sunni atau Syi’ah, dia langsung menyergah: “bagi saya tidak penting Sunni atau Syi’ah yang paling penting adalah perjuangan mereka dalam menyuarakan visi keislaman yang damai, adil, dan tanpa kekerasan.” Menurut Kakahama, orang-orang non-Muslim, Kristen, dan Yahudi, juga saudara sesama anak Tuhan yang harus dihormati dan dikasihi. Karena visi keislamannya yang sangat peaceful, nonviolent, dan pluralis ini, ia sering menjadi nara sumber seminar dan konferensi di AS untuk memberikan “suara lain” keislaman yang jauh dari hiruk-pikuk kekerasan. Ia juga diusulkan oleh Prof. Gerald Shenk dari Eastern Mennonite Seminary (EMS) untuk menjadi salah satu “dewan penasehat” mewakili unsur Muslim (selain Mohammed Abu-Nimer) di Center for the Studies of Abrahamic Traditions yang didirikan oleh EMU.

Visi keislamannya yang begitu kuat tentang doktrin cinta, compassion, dan perdamaian inilah yang membuat saya secara diam-diam mengaguminya. Saya kagum kepadanya karena Kakahama tiba di AS bukan sebagai “duta terhormat” tetapi sebagai pengungsi yang terlunta-lunta di bawah perlindungan PBB akibat kebengisan rezim Saddam. Dan keluarga Kakahama adalah salah satu korban kejahatan politik yang dilakukan mendiang Saddam itu. Tentu tidak mudah bagi siapapun yang masa lalunya dipenuhi sejarah gelap dan menyakitkan kemudian menjadi “laskar cinta” dan “duta perdamaian.” Tapi Kakahama mampu melakukannya dengan penuh ketulusan.

Selain Kakahama, Thariq adalah nama warga Kurdi lain yang saya kenal dengan baik. Seperti Kakahama, ia juga datang ke AS sebagai pengungsi di bawah bendera PBB. Perjumpaan saya dengan Thariq karena diperkenalkan oleh Andrew Eggmen, seorang Mennonite dan “bapak kos” saya selama kurang lebih tiga bulan waktu saya menjadi peserta workshop STAR sekaligus mengambil kelas bahasa Inggris di Intensive English Course (IEC) di EMU sebelum saya sekolah “conflict transformation and peace studies” di Eastern Mennonite University’s Center for Justice and Peacebuilding (CJP). Andrew adalah teman baik Thariq. Anak-anak mereka juga berteman baik. Thariq yang Muslim ini tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Andrew khususnya dan Mennonite pada umumnya yang telah menolong dan menyelamatkan hidupnya dan keluarganya. Ia berkisah sewaktu pertama kali datang ke Harrisonburg, komunitas Mennonite-lah yang menyediakan tempat penampungan, memberi pakaian, makanan, selimut, serta mencarikan pekerjaan. Kini Thariq tidak lagi miskin. Ia sudah mempunyai rumah dan mobil sendiri. Ia mengakui kalau komunitas Mennonite adalah komunitas Kristen yang sangat peduli dengan nasib orang-orang miskin, suka menolong orang lain, memiliki visi cinta dan perdamaian yang sangat kuat.

Kesaksian yang sama tentang Mennonite sebagai komunitas Kristen yang kuat komitmennya pada perjuangan kemanusiaan serta nilai-nilai cinta-kasih, perdamaian global dan keadilan universal ini juga diberikan oleh Imam Kakahama, Ehsan Ahmed, Christy Kraemer, dan sejumlah Muslim lokal lain. Imam Yahya Hendi, seorang chaplain Muslim di Georgetown University, universitas pertama AS yang menggaji full-time seorang chaplain Muslim, sewaktu menjadi visiting professor di EMU juga mengakui visi cinta dan perdamaian yang diperjuangkan Mennonite. Demikian juga dengan Mohammed Abu-Nimer, pengajar di Summer Peacebuilding Institute (SPI) di EMU memberi komentar seirama bahkan dia menambahkan bahwa Mennonite, sebagaimana Quaker dan Brethren, tidak hanya mengekspresikan visi cinta, keadilan, dan perdamaian lewat tulisan dan ucapan tetapi juga melalui tindakan nyata dalam bentuk peaceful and nonviolent movements.

***

Saya sendiri merasakan kuatnya visi perdamaian, doktrin cinta, kasih sayang, dan compassion kelompok Kristen Mennonite itu sewaktu sekolah di EMU, tepatnya di Center for Justice and Peacebuilding (selanjutnya, CJP) untuk MA saya di bidang Conflict Transformation and Peace Studies.

Selama belajar resolusi konflik dan studi perdamaian di CJP ini, saya dan keluarga tinggal di apartment milik Prof. Lawrence Yoder, yang terletak persis di sebelah kampus EMU. Bangunan apartment ini satu kompleks dengan rumah Yoder karena itu kami merasakan seperti tinggal serumah. Yoder yang juga professor missiology di Eastern Mennonite Seminary (EMS) ini, bersama istrinya Shirlee Yoder yang kini menjadi chaplain di Virginia Mennonite Retirement Community, pernah tinggal di Indonesia, terutama Jawa Tengah selama sembilan tahun sejak awal tahun 1970an sebagai pengajar dan pelatih para pendeta Mennonite di Wiyata Wacana Mennonite Seminary di kabupaten Pati, selain sebagai staff Mennonite Central Committee. Oleh karena itu tidak heran jika ia fasih berbahasa Indonesia dan Jawa. Saya sering menyaksikan Yoder rajin memperkenalkan dan “mengajarkan” bahasa Indonesia dan Jawa kepada teman dan coleganya. Saya sendiri sebelum berangkat ke AS sudah pernah bertemu dengan Yoder di Salatiga, Jawa Tengah, tepatnya di rumah Prof. Dr. Mesach Krisetya, mantan presiden Mennonite World Conference (MWC) yang juga mantan guru saya sewaktu belajar sosiologi agama di UKSW.

Selain sebagai dosen dan pendeta, Yoder juga penulis beberapa buku sejarah tentang gereja-gereja di Indonesia yang berafiliasi pada Mennonites seperti GKMI (Gereja Kristen Muria Indonesia) dan GITJ (Gereja Injili Tanah Jawa). Tahun 2006, Yoder kembali menerbitkan buku berjudul The Muria Story: A History of the Chinese Mennonite Churches of Indonesia. Dari Yoder saya tahu bahwa komunitas Mennonites di Indonesia ternyata cukup besar sekitar 72,624 anggota. Berdasarkan data dari Mennonite World Conference (http://www.mwc-cmm.org), jumlah ini telah menempatkan Indonesia sebagai ranking ke-6 penghuni komunitas Mennonite terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat, Congo, India, Kanada, dan Ethiopia. Bahkan jumlah pengikut Menno Simon (baca, Mennonite) di Indonesia jauh lebih besar ketimbang komunitas Mennonite di Eropa.

Belum lama ini (January-Mei 2007), Yoder diundang sebagai visiting professor oleh Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) Yogyakarta, sebuah program studi doktor lintas-agama bertaraf internasional yang didirikan oleh UGM, UIN Sunan Kalijaga, dan UKDW, untuk mengajar mata kuliah “History of Religions in Indonesia since 1945. Selain mengajar, Yoder juga berpartisipasi dalam berbagai seminar yang diadakan beberapa kelompok Muslim di Yogyakarta. Mengomentari tentang pengalaman mengajar dan keterlibatannya bersama teman-teman Muslim di Indonesia khususnya Yogyakarta, Yoder mengatakan: “Speaking together about how we understand and practice faith propagation helps us to recognize that this is an integral part of both Islam and Christianity. It helps to reduce suspicion and perhaps even discover more appropriate and mutually acceptable ways to do mission and da’wah.”

Yoder sendiri memang sering berdiskusi dengan saya mengenai subjek yang menjadi perhatiannya: misiologi atau ilmu tentang “misi” (dikenal dengan “evangelisme”) yang dalam Islam mirip dengan konsep “ilmu dakwah.” Baik evangelisme maupun dakwah (tabligh) ini selalu menjadi bahan “pergunjingan” baik dalam Kristen maupun Islam yang tidak jarang sering memunculkan kecurigaan dan kesalahpahaman di kedua pihak yang pada gilirannya berpotensi memunculkan konflik kekerasan berbasis agama. Hasil perbincangan saya dengan Yoder tentang evangelisme baik dalam Kristen dan Islam ini saya tulis dalam sebuah artikel khusus yang diterbitkan Jurnal Justisia di IAIN Walisongo Semarang dengan judul, “Nabi-Nabi Modern: Tentang Evangelisme dan Pluralisme.”

Saya punya kesan kuat kalau Yoder ingin mencari “solusi terbaik” tentang etika melakukan evangelisme[2] atau popular dengan istilah “Pengabaran Injil” (PI) di Indonesia dan juga dakwah Islam yang bisa diterima oleh kedua belah pihak: Islam dan Kristen. Solusi yang dia tawarkan, al, adalah jangan melakukan pemaksaan keyakinan keagamaan kepada orang lain karena bukan tugas manusia untuk mengkristenkan orang lain. Meskipun, “kabar gembira” atau “Pengabaran Injil” (PI) itu perlu disebarluaskan kemana-mana “melalui cara menceritakan kisah tentang langkah-langkah yang telah Tuhan Allah ambil untuk mendekati manusia dan menyatakan kasih-Nya kepada mereka.” Namun demikian, Yoder menandaskan, “pelayanan penginjilan itu pada hakekatnya bersifat kasih-sayang, dan itu (“penginjilan”) dilakukan untuk mengajarkan nilai-nilai universal yang diajarkan dan dipraktekkan Jesus Kristus seperti cinta, keadilan, pengampunan (forgiveness), perdamaian, nonviolence dan seterusnya.”

Bagi Yoder, menjadi Kristen atau bukan adalah hak Tuhan Allah.

Dalam sebuah email kepada saya, Yoder menulis, “Sesungguhnya saya mau membagikan penjelasan tentang iman Kristen kepada orang dan saya senang apabila mereka mau menjadi pengikut Yesus. Tetapi membujuk atau mendesak orang untuk memeluk iman Kristen bukan tugas orang Kristen; Roh Allah sendiri yang meyakinkan orang akan kebenaran iman Kristen apabila mereka mendengar penjelasan tentang Yesus.” Suatu saat, Yoder bertanya: “Do we northern Christians have what it takes to sit at the feet of our southern brothers and sisters and learn how to follow Jesus in a world dominated by other religions and belief systems? Are we willing to learn and teach Christian faith with Muslims, Buddhists and Hindus listening in and adding their perspective to what we are saying?”[3]

Saya sendiri merasakan dan menyaksikan kalau Yoder adalah pribadi yang teguh memegang pendirian iman Kristiani. Karena keteguhan sebagai “murid Yesus” inilah, Yoder ingin mengamalkan dan mempraktekkan visi perjuangan Yesus yang penuh dengan kelembutan, kasih sayang, peaceful, serta nirkekerasan, yang bertujuan untuk menegakkan keadilan universal dan perdamaian global. Yoder sangat menyayangkan sekaligus mengkritik keras sebagian teman-teman Kristen yang menempuh jalur kekerasan dan pemaksaan dalam menyampaikan pesan, doktrin, dan ajaran Yesus. Karena kuatnya visi perdamaian dan perjuangan tanpa kekerasan inilah, maka tidak heran jika mentor-nya, Soehadiweko Djojodihardjo, seorang pemimpin Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ), menamainya “Yudho Lelono” yang bermakna “Laskar Perdamaian” (soldier of peace)—sebuah nama yang juga menjadi gelar Abdul Ghaffar Khan (1890-1988), yang populer dengan sebutan Badshah Khan, seorang Muslim taat, pejuang perdamaian di India-Pakistan dan pengikut sekaligus teman baik Mahatma Gandhi (1869-1948).

***

Kritikan Yoder pada dunia kekerasan, ketidakadilan, perang, dan terorisme itu bisa dimaklumi mengingat Mennonite sendiri sebagai kelompok keagamaan dalam denominasi Kristen Anabaptis lahir sebagai kritik dan reaksi atas kekerasan demi kekerasan terutama yang dilakukan kelompok Protestan dan Katolik di abad pertengahan. Salah satu pemimpin awal penting kelompok Mennonite, Menno Simons (1496-1561) adalah tokoh reformasi Kristen yang gigih memperjuangkan visi kekristenan yang adil, damai, dan tanpa kekerasan. Dalam perjalanan sejarahnya, Kristen Mennonites kemudian menjelma menjadi “historic peace churches” bersama Quakers (Religious Society of Friends) dan Church of the Brethren (atau biasa disingkat Brethren) yang komitmen pada peaceful movements (perjuangan damai), nonviolent resistance (perlawanan tanpa kekerasan), reconciliation (rekonsiliasi), dan pacifism (doktrin anti-perang dan kekerasan serta pandangan dan keyakinan tentang perdamaian sebagai solusi terbaik pemecahan masalah konflik kekerasan baik dalam scope global, nasional, atau antar-individu). Kelompok Kristen yang tergabung dalam “peace churches” inilah yang dalam sejarah kekristenan di Barat (termasuk AS) yang selalu aktif menentang segala bentuk perang dan kekerasan seperti civil wars di AS.

Dalam sejarah Kristen kontemporer, Mennonite kembali memprakarsai terbentuknya Christian Peacemaker Teams (selanjutnya, CPT), sebuah perkumpulan para “laskar perdamaian” lintas-Kristen untuk menentang perang, kejahatan kemanusiaan, dan ketidakadilan global, sambil terus menyerukan terwujudnya dunia yang bebas dari kekerasan. Adalah Ron Sider yang menggemakan panggilan dan seruan kepada jamaah Kristen dan Mennonites khususnya untuk aktif dalam memperjuangkan terwujudnya perdamaian global pada pertemuan internasional Mennonite World Conference (MWC) di Strasbourg, Prancis pada musim panas tahun 1984. Pidato Sider tentang seruan “active peacemaking” inilah[4] yang kemudian menginspirasi terbentuknya CPT tahun 1986 yang lagi-lagi dibentuk oleh “trio” gereja perdamaian (peace churches): Mennonite, Brethren, dan Quaker. Salah satu anggota CPT ini, Tom Fox, seorang Quaker yang juga mantan mahasiswa EMU tepatnya di CJP, menjadi martir dalam misi perdamaian di Iraq tahun 2006 lalu. Jama’ah Quaker, Brethren, Mennonite, EMU, termasuk CJP, pun berkabung tapi perjuangan untuk menegakkan perdamaian global tidak pernah surut bahkan semakin membara.

Sebagai salah satu historic peace churches, Gereja Mennonites dan semua elemen yang berafiliasi pada pengikut Menno Simons ini tidak pernah mengenal kata lelah untuk terus mengirim para “duta perdamaian” dan “agen kemanusiaan” untuk disebar ke seluruh penjuru dunia, terutama ke negara-negara miskin, berkembang, rawan konflik, dan tertimpa musibah, guna menjalankan segala aktivitas yang berkaitan dengan peacebuilding dan peacemaking: dari membantu para korban bencana yang berkaitan dengan relief services, menyumbang makanan, pakaian dan segala peralatan yang dibutuhkan para korban bencana (misalnya perlengkapan sekolah atau bahan-bahan untuk membangun rumah), sampai counseling, trauma healing, pendidikan, mediasi, konsiliasi, dlsb. Tidak jarang orang-orang Mennonite yang dikirim ke negara-negara non-AS sebagai relawan kemanusiaan dan praktisi perdamaian ini, biasanya melalui MCC, kemudian menjadi sarjana dan intelektual yang ahli di dunia non-Mennonite.

Misalnya saja Roy Hange, seorang pendeta di Charlottesville Mennonite Church yang juga mengajar di EMU, setelah selama sepuluh tahun (sejak 1982) menjadi relawan di Timur Tengah, khususnya Syria, Mesir, dan Iran, di bawah MCC, kemudian menjadi salah satu sumber penting tentang keislaman. Roy tidak hanya mahir berbahasa Arab tetapi juga mengerti literatur Islam klasik. Sering Roy menjadi aktor di balik pertemuan-pertemuan penting antara Mennonite dan tokoh-tokoh Muslim untuk membicarakan masalah perdamaian khususnya di kawasan Arab dan Timur Tengah. Roy juga salah satu tokoh penting di balik pembentukan lembaga dialog antar agama Center for the Studies in the Abrahamic Traditions di EMU yang melibatkan komunitas non-Mennonite termasuk Muslim.

Tokoh Mennonite lain yang menjadi sarjana ahli Islam adalah Merlin Swartz (lahir 1933) yang sejak 1973 menjadi professor di Boston University, tempat saya belajar saat ini. Sebagaimana Roy Hange yang tertarik pada masalah keislaman setelah lama bermukim di Timur Tengah, Prof. Merlin juga sama. Dia pernah bekerja sebagai relawan, di bawah sponsor MCC, di East Bank (sekarang wilayah Jordania) dan Hebron di West Bank (Palestine) dari 1957-1959. Kini Prof. Merlin dikenal sebagai ahli di bidang sejarah intelektual dan keagamaan Islam abad pertengahan. Prof. Merlin bahkan telah menerbitkan banyak buku, al, A Seventh-Century Sunni Creed: The ‘Aqida Wasitiya of Ibn Taymiya (Mouton 1974), Studies on Islam (Oxford 1981); A Medieval Critique of Anthropomorphism: Ibn al-Jawzi’s Kitab Akhbar as-Sifat: A Critical Edition of the Arabic Text with Translation, Introduction and Notes (E.J. Brill, 2001), dan “A Hanbali Critique of Anthropomorphism” (Budapest 1999).

Dalam menjalankan misi kemanusiaan dan perdamaian di negara-negara di luar AS ini, Mennonite tidak bekerja sendirian melainkan bekerja sama dengan para penduduk lokal dari kalangan non-Mennonite. Mennonite Central Committee (MCC) di Indonesia misalnya, seperti dikatakan Co-directors MCC Indonesia Dan dan Jeanne Jantzi, bekerja sama dengan komunitas Muslim di Aceh untuk ikut membantu proses rekonstruksi Aceh paska tsunami yang menelan ratusan ribu jiwa itu. Di Aceh, MCC ikut membantu mengsponsori pendirian masjid, madrasah, rumah para korban, serta berbagai perlengkapan sekolah yang menelan jutaan dolar.

Demi membantu orang-orang yang tertimpa bencana ini, baik bencana politik akibat perang maupun bencana alam baik Kristen maupun bukan, Mennonites, khususnya Mennonite AS yang saya tahu, rela melakukan fundraising (“penggalian dana”) dengan cara mengumpulkan uang pecahan melalui gereja-gereja Mennonite, mengadakan lelang akbar tahunan, menjual barang-barang bekas melalui “Gift and Thrift Stores” yang mereka dirikan, dan mendaur ulang barang-barang rongsokan.

Saya melihat ada banyak buku lusuh menggunung, pakaian-pakaian kumal yang menumpuk, peralatan sekolah yang berserakan, selimut-selimut bekas yang berjibun, dan masih banyak lagi di pabrik daur ulang barang-barang bekas ini sewaktu berkunjung ke markas MCC, salah satu lembaga dana utama milik Mennonite yang berpusat di Akron, Penn. pada tahun 2006 bersama rombongan peserta Summer Peacebuilding Institute (SPI) di EMU. Sebelumnya saya tidak tahu untuk apa barang-barang buangan itu dikumpulkan dan didaur ulang.

“Untuk dijual lagi?” saya mencoba bertanya kepada petugas dengan penuh penasaran.

Sejurus kemudian, petugas dari Mennonite yang mengantar kami kemudian menjelaskan bahwa barang-barang hasil daur ulang tadi akan dibagikan ke negara-negara korban bencana.

Subhanallah.

Saya tercengang sejenak. Haru.

Yang lebih mengharukan lagi adalah para pekerja di Gift and Thrift Stores dan pabrik tadi pada umumnya adalah para relawan yang tidak digaji. Mereka rela melakukan itu demi “pahala” karena Yesus Kristus mengajarkan kepada umatnya untuk saling mengasihi dan menolong sesama manusia tanpa memandang latar belakang agama, etnis, dan jenis kelamin. Sewaktu di Harrisonburg, kami termasuk pengunjung setia di toko barang-barang bekas milik Mennonite ini. Selain harganya memang sangat murah yang pas untuk kanton mahasiswa, barang-barangnya juga masih lumayan bagus. Alasan lain adalah dengan membeli barang-barang di toko “Gift and Thrift” milik Mennonite itu dengan sendirinya kita ikut membantu penduduk miskin dan yang tertimpa musibah karena uang hasil penjualan itu akan disalurkan, melalui MCC, untuk membantu para korban bencana di berbagai negara.

***

Sebagaimana halnya etos Mennonite yang selalu dahaga pada perdamaian, sejak awal berdirinya di musim Fall tahun 1994, lembaga Center for Justice and Peacebuilding (CJP) tempat saya sekolah di EMU juga didesain untuk membantu proses terciptanya resolusi konflik, rekonsiliasi, keadilan universal, dan pembangunan perdamaian di seluruh dunia terutama di daerah dan masyarakat yang terlibat atau berpotensi munculnya konflik kekerasan. Selain itu, CJP didirikan untuk melatih dan memperkuat kapasitas individu, komunitas, dan lembaga yang peduli pada isu-isu resolusi konflik, peacebuilding, community development, restorative justice, trauma healing, dan human security melalui pendidikan, training, practice, dan riset. Diharapkan mereka menjadi bagian dari agen pembangunan perdamaian (agents of peacebuilding and peacemaking) di seluruh penjuru dunia. Untuk mewujudkan terciptanya “global peacebuilding” ini, CJP menjalin jaringan dengan lembaga perdamaian di seluruh pelosok dari Nairobi Peace Initiative di Afrika sampai JustaPaz, sebuah organisasi perdamaian yang berbasis di Colombia pimpinan Paul Stucky dan Ricardo Esquivia.

Selain itu, CJP juga menggalang networks dengan berbagai kalangan dari beragam latar belakang profesi, etnis dan agama: NGO, kaum professional, akademisi, tokoh agama, jurnalis, tokoh masyarakat, dlsb. CJP bersama lembaga perdamaian lain seperti Search for Common Ground, The US Institute of Peace, Catholic Relief Service, Mennonite Central Committee, dan pusat-pusat perdamaian dan resolusi konflik di berbagai negara, mengadakan berbagai program untuk menciptakan perdamaian dan mencegah konflik. Di Palestine misalnya, mereka menjalin hubungan dengan lembaga Seeds of Peace untuk melakukan advokasi dan pendampingan warga setempat dari kebengisan Israel. CJP dan Gereja Mennonite juga membantu para pengungsi dari negara-negara konflik seperti Iraq, Afghanistan, Bosnia, Palestina, dan negara-negara Afrika seperti Rwanda, Ethiopia, Zimbabwe, Somalia, Sudan dan lainnya yang mengungsi ke AS di bawah perlindungan PBB. Mereka dibantu pencarian tempat tinggal, pendidikan dan pekerjaan.

CJP sendiri adalah “payung lembaga” dari empat program mendasar: Graduate Program in Conflict Transformation, Practice and Training Institute, Summer Peacebuilding Institute, dan Seminars on Trauma Awareness and Resilience (STAR). Setiap tahun, CJP memiliki agenda yang sangat padat: dari mengorganisir workshop yang berkaitan dengan transformasi konflik dan peacebuilding di negara-negara konflik, training trauma healing di negara-negara korban bencana (baik bencana alam maupun “bencana politik”), sampai memobilisir relawan “just-peace” untuk menentang perang dan kekerasan. Setiap tahun CJP, tepatnya pada bulan Mei-Juli, melalui “Summer Peacebuilding Institute” dan The Practice Institute juga mengundang dan mengfasilitasi para aktivis HAM dan praktisi resolusi konflik dari berbagai negara, agama, dan etnis, untuk membahas masalah peacebuilding dan peacemaking. Hampir semua utusan dari negara-negara konflik seperti Palestine, Israel, Kenya, Rwanda, Somalia, Nepal, Vietnam, Myanmar, Bosnia, Afghanistan, Chechnya, Rusia, Pakistan, India, Iraq, Chile, Indonesia, hadir dalam even tahunan.

Karena aktivitas yang padat ini, dari hanya dua orang peserta pada saat awal berdirinya, kini CJP mempunyai ribuan alumni dari berbagai latar belakang agama dan etnis yang tersebar di lebih dari 50 negara: dari Iraq sampai Philipines, dari Sudan sampai Afghanistan, dari Palestina sampai Columbia. Reputasi CJP sebagai agen perdamaian global ini telah mengantarkan CJP sebagai salah satu program terbaik dunia dalam bidang conflict resolution and peace studies. Para guru besar yang mengajar di CJP juga menjadi rujukan penting dalam literatur conflict and peace studies, restorative justice, trauma healing, dlsb. Misalnya saja John Paul Lederach, founding director CJP, penulis lebih dari 16 buku, dan mantan mediator perang sipil di Nicaragua, dikenal publik internasional sebagai sarjana dan tokoh perdamaian serta “godfather” di bidang studi “transformasi konflik” (conflict transformation) sementara Howard Zehr dikenal luas sebagai “the grandfather of worldwide restorative justice movements.” Program-program yang diprakarsai Lederach (yakni “conflict transformation”) dan Zehr (yakni “restorative justice”) ini bahkan kini “dikloning” banyak kampus dari berbagai negara. Founding father CJP lain, Ron Kraybill, adalah mentor Center for Conflict Resolution di South Africa yang sangat berjasa dalam membela hak-hak warga sipil, suku, dan minoritas yang tertindas di Afrika Selatan yang menderita bertahun-tahun karena politik Apartheid. Tokoh penting lain di CJP yang layak disebut adalah Hizkias Assefa, seorang intelektual-aktifis perdamaian serta mediator dan fasilitator proses rekonsiliasi di negara-negara yang terlibat perang sipil seperti Rwanda, Nigeria, Uganda, Sri Lanka, Afghanistan, Israel, Palestine, dan Guatemala.

 ***

Penting untuk diketahui bahwa pendirian CJP ini berakar kuat pada tradisi dan teologi Anabaptis, sebuah gerakan kekristenan anti-kekerasan dan perang sejak abad ke-16, khususnya Mennonites. Kini, kelompok Kristen yang tergabung dalam grup Anabaptis ini, selain Mennonites adalah Amish, Hutterites, Church of the Brethren, Brethren in Christ, dan sebagian varian Gereja Baptis di Jerman. Lebih dari itu, pendirian CJP ini tentu saja selain diinspirasi oleh Menno Simons (pendiri Mennonites kelahiran Belanda) juga Yesus itu sendiri sebagai figur sentral Kristen yang merupakan pejuang sejati anti kekerasan. Pacifisme yang menjadi “ideologi dan filosofi gerakan” CJP—dan juga Mennonites secara umum—tidak lain adalah berakar kuat pada tradisi Anabaptists tadi yang berdasar dan bersumber pada visi gerakan Menno Simons dan Yesus Kristus.

Pacifisme (Latin: pacificus) adalah paham tentang oposisi terhadap perang dan segala bentuk kekerasan sebagai jalan penyelesaian konflik (Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary, 845). Istilah ini juga merujuk pada pengertian ide dan gerakan nonviolent resistance sebagai bentuk kritik terhadap segala tindakan tirani, despotism, authoritarianism, dll yang dilakukan oleh para penguasa—baik penguasa politik maupun agama. Tidak seperti kaum radikal yang memilih kekerasan sebagai jalan penyelesaian masalah, kelompok pacifists lebih memilih aksi-aksi damai. Meski begitu harap dicatat bahwa pacifism tidak identik dengan quietism—paham serba diam—seperti banyak dituduhkan oleh kelompok anti-pacifisme. Bagi kelompok ini, pacifisme sering diplesetkan “passivisme” (bentuk lain dari quietism, submissiveness, cowardice), yakni paham serba diam atau pasif dalam menghadapi ketidakadilan. Selain itu, kaum pacifis juga dituduh menomersatukan perdamaian (peace) dan menomersekiankan keadilan (justice).

Tuduhan-tuduhan semacam itu—yang kebanyakan disuarakan oleh kaum radikal dan kelompok pendukung perang dan kekerasan—sama sekali tidak berdasar, bias, dan “salah baca” (misreading) atas pengertian dasar pacifisme. Salah satu pemikir dan pendukung pacifisme, Gene Sharp, seorang sarjana senior di Albert Einstein Institution di Boston yang sering dijuluki “the Machiavelli of nonviolence” dan “the Clausewitz of nonviolent warfare” telah memberikan klarifikasi dan penjelasan ilmiah mengenai ide dan gerakan “tanpa-kekerasan” ini dalam buku klasiknya, The Politics of Nonviolent Action. Intinya, pacifisme bukan berarti passivity atau tindakan submissive menghadapi realitas ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Pacifisme juga bukan berarti mengabaikan isu keadilan. Kaum pacifis sadar bahwa keadilan adalah ingredient dari perdamaian. Perdamaian tidak bisa dicapai atau minimal susah dicapai jika isu ketidakadilan (injustice) tidak diselesaikan. Bagi mereka perdamaian bukan hanya ditandai absennya perang dan kekerasan tetapi juga hadirnya keadilan. Maka, kelompok ini bekerja pada dua level isu ini—peace and justice—sekaligus melalui jalan apa yang oleh sarjana muslim dan aktifis perdamaian Thailand Chaiwat Satha-Anand (Quader Muheideen) yang juga visiting professor di CJP untuk program “Summer Peacebuilding,” disebut “active nonviolent resistance.

Kelompok pacifis inilah biasanya yang selama ini menjadi motor penggerak aksi-aksi melawan “kebijakan” perang, penjajahan, kolonialisme, militerisme dan segala bentuk kebijakan publik yang menggunakan sarana kekerasan. Di AS misalnya, koalisi kelompok pacifis dari berbagai agama (Kristen, Catholics, Hindu, Buddha, Jainisme, Judaisme, Islam, dll) telah menjadi elemen penting dalam setiap aksi melawan kebengalan dan kebijakan ndableg pemerintahan Bush tentang war on terror, perang Afghanistan, Iraq, Israel-Palestine, nuklir Iran, dll. Kelompok ini seperti Christian Peacemakers yang merupakan gabungan dari berbagai denominasi Kristen seperti Mennonites, Quakers, Brethren, Catholics, dll, secara aktif menggalang kekuatan melawan kekerasan dan perang melalui berbagai aksi demonstrasi, marches, petisi massa, surat oposisi perang, surat dukungan perdamaian, group lobbying, vigils, penyebaran leaflets, pamphlets, posters, atau pesan-pesan perdamaian dan anti kekerasan dan perang melalui TV, radio, theater, dan media publik lain.

Dalam tradisi Kristen paham pacifisme ini begitu kuat karena berakar ada sosok Yesus Kristus yang jelas-jelas figur anti-kekerasan dan pejuang keadilan sejati dan bahkan Jesus memerintahkan pengikutnya untuk mencintai musuh-musuhnya serta mendoakan orang-orang yang menyiksanya. Karena itu penolakan terhadap kekerasan (dengan demikian penegasan terhadap perdamaian), seperti dikatakan John Howard Yoder, salah satu teolog terkemuka Mennonite dan tokoh penting kaum pacifis, merupakan “intrinsic element of Christian profession” (Zimmerman 2007, 16). Maka dalam pandangan kelompok Kristen pacifis ini, orang-orang Kristen yang menjalankan atau mendukung kekerasan (termasuk perang) merupakan bentuk penyelewengan fundamental atas teologi kekristenan. Itulah sebabnya kenapa mereka mengkritik keras kebijakan pemerintahan Bush dan pendukungnya terutama dari gereja-gereja Kristen konservatif yang pro-perang.

Saya masih ingat bagaimana profesor saya di CJP waktu itu, Lisa Schirch, pengajar mata kuliah “Strategic Nonviolence,” selalu aktif memobilisasi massa dan mendorong semua mahasiswa untuk ikut demostrasi anti-perang di Gedung Putih, Washington, DC, dan mengkritik kebijakan aneh “war on terror” yang dilontarkan Presiden Bush. Prof. Schirch, yang juga pendiri dan direktur 3D Security (http://www.3dsecurity.org) berkali-kali mengatakan lebih baik pemerintah AS menggunakan dana perang yang milliaran dollar itu untuk program pangan, sandang, shelter, pendidikan, sanitasi, health care, dll di negara-negara miskin dan berkembang daripada digunakan untuk membeli senjata dan membunuh rakyat tak berdosa.

Masih menurut Prof. Schirch, pemerintahan Bush telah membelanjakan milliaran dollar hanya untuk memenuhi ambisi kampanye “war on terror” (sebagai catatan, pemerintah AS tahun 2005 menghabiskan lebih dari $ 470 billion hanya untuk mengurusi perang, dan 2006 “Washington” menganggarkan 797 T dari total 25.000 T APBN AS hanya untuk program senjata). Demi memenuhi hobi perangnya itu, Bush sampai memangkas pos anggaran lain seperti santunan untuk disable citizens, pensiunan pegawai, dan health care. Dengan dalih untuk melindungi “keamanan dunia”, Bush terus melangkah meskipun kritikan deras mengalir kepadanya dari seluruh penjuru dunia.

Tidak hanya Schirch, para guru besar lain seperti Howard Zehr, Vernon Jantzi, David Brubaker, Jayne Docherty, Nancy Sider, dan Barry Hart juga tidak henti-hentinya mengkritik kebijakan yang tidak bijak dari Bush tadi.

Realitas ini sungguh telah mencengangkan saya. Pergumulan saya selama hampir dua tahun dengan komunitas Mennonite telah membuka mata dan hati saya tentang kukuhnya prinsip Mennonite dalam menyuarakan perdamaian global sekaligus tentang fakta keberagaman visi, pendapat, dan gerakan Kristen AS itu sendiri. Fakta ini penting untuk dikemukakan mengingat ada sebagian teman-teman Muslim di Indonesia yang mengatakan bahwa “war on terror” dan kebijakan perang AS itu didukung penuh oleh koalisi global Kristen-Yahudi. Tanpa kecuali.

Ada sebagian kelompok Muslim di Indonesia yang mempunyai persepsi bahwa rakyat AS adalah anti-Muslim. Mereka juga menuding rakyat AS, terutama warga Kristen dan Yahudi, telah mem-back up penuh “infiltrasi” dan “imperialisasi” pemerintah AS ke Afghanistan dan Iraq, serta berada di belakang Israel dalam konflik negara ini dengan Palestine. Mereka juga beranggapan bahwa sikap dan pendapat masyarakat AS adalah sama persis seperti sikap dan pendapat Bush yang gemar perang, dlsb. Singkatnya, American people is identical with its government. America is a set of people with a homogeneous opinion and ways of thinking, sebuah penialian yang sangat bias dan tidak akurat.

Tidak akurat karena dalam agama Yahudi pun, tradisi pacifisme yang anti-perang dan pro-perdamaian itu juga sangat kuat. Dalam teks-teks rabbinic misalnya bertebaran ungkapan “Gadol Hashalom”—perdamaian adalah nilai tertinggi. Dalam Hebrew Bible juga banyak dijumpai prinsip-prinsip perdamaian, keadilan serta penegasan anti-kekerasan (misalnya, Jer. 16:5, Ps. 85:11). Prinsip-prinsip inilah, antara lain, yang mendorong gerakan pacifisme dalam Judaisme seperti dilakukan Rabbi Jeremy Milgrom, pendiri Clergy for Peace, direktur Rabbis for Human Rights dan the Israeli Interfaith Association. Rabbi Milgrom adalah mantan tentara Israel yang kemudian bertaubat dan kini aktif di gerakan perdamaian dan hak asasi manusia serta menyeponsori proyek-proyek rekonsiliasi Arab-Yahudi.Tokoh agama dan pemikir Yahudi lain yang aktif di gerakan perdamaian adalah, al, Marc Gopin dari George Mason University dan penulis Holy War, Holy Peace (2002) dan Between Eden and Armageddon: the Future of World Religions, Violence, and Peacemaking (2000), Rabbi Robert Eisen (American University, Washington, DC), dan Peter Ochs (University of Virginia).

Peter Ochs, bersama sejumlah sarjana dan aktifis Kristen dan Muslim (termasuk saya sendiri) bahkan terlibat proses pembentukan Center for the Studies in the Abrahamic Traditions—sebuah pusat studi dimana para praktisi dan sarjana dari tiga agama  Semit ini bekerja sama dalam penelitian, training dan program-program yang berkaitan dengan perdamaian global dan human developments. Para tokoh agama Yahudi tadi bersama tokoh agama lain gencar melakukan kampanye anti-perang dan terus mendorong proses perdamaian global termasuk Arab-Israel.

Karena didorong oleh semangat ajaran-ajaran Kristen dan Yahudi yang anti perang/kekerasan dan cinta perdamaian, kaum pacifis dari kedua agama ini bersama kelompok pacifis Muslim bekerja sama menciptakan iklim sejuk terutama bagi ketiga pengikut agama ini seperti dilakukan organisasi Seeds of Peace di Palestine dan Israel. Organisasi ini melibatkan para pengikut Islam, Kristen, dan Yahudi di Arab dan Timur Tengah untuk menyelesaikan konflik panjang mereka dengan jalan menciptakan “space” bagi pengikut ketiga agama ini untuk bertukar pikiran, sharing stories, dan alternatif-alternatif penyelesaian konflik tanpa kekerasan. Mereka sadar bahwa kekerasan yang terjadi di Arab dan Timur Tengah lebih banyak muatan politik dan ekonomi dari para “oknum politisi” dan “oknum pedagang” ketimbang masalah agama. Beberapa teman saya dari Palestina dan Israel yang juga aktivis Seeds of Peace berkali-kali mengungkapkan hal ini.

Dalam banyak hal agama memang merupakan “penumpang” kesekian dari konflik kekerasan.

 ***

Belajar dari pergumulan saya bersama Kristen Mennonite, juga beberapa komunitas agama lain termasuk Yahudi, yang bagitu kuat memegang “teologi pacifisme,” saya jadi terinspirasi untuk “mengkloning” konsep dan gerakan pacifisme dan nonviolent movements dalam Islam seperti yang dilakukan oleh Rabia Terri Harris, pendiri Muslim Peace Fellowship (MPF) berbasis di AS dan penerjemah buku Journey to the Lord of Power karya Ibnu ‘Arabi. Apa yang dilakukan Harris yang memeluk Islam tahun 1978 ini adalah contoh yang sangat baik mengenai “pacifisme Islam.”

Islam, setidaknya secara konseptual, memang tidak bisa dilepaskan dari tradisi pacifisme. Ajaran tentang perdamaian dan keadilan sangat ditekankan dan berulang kali disebut dalam teks Al-Qur’an. Kata “Islam” sendiri seperti disebutkan dalam The Hans Wehr Dictionary of Modern Written Arabic selain bermakna “ketundukan, penerimaan, dan rekonsiliasi” (terhadap keinginan Tuhan) juga bermakna “perdamaian, keselamatan, keamanan, kesejahteraan”, dst. (Cowan, ed., 1976: 425-426). Doktrin perdamaian ini sangat esensial dalam Islam karena pemahaman ini berakar kuat pada doktrin fundamental Islam, tauhid, yang tidak hanya mengandung pengertian “kesatuan Tuhan” (unity of Godhead) tetapi juga “kesatuan kemanusiaan” (unity of humanity), “kesatuan penciptaan” (unity of creation), dan “kesatuan eksistensi” (unity of existence atau wahdatul wujud). “Barat dan Timur adalah milik Allah,” tegas Al-Qur’an (Q.2:115). Tauhid adalah sebuah “prinsip kesatuan” yang merupakan lahan subur bagi spiritualitas dan keimanan Islam.

Karena prinsip “kesatuan” ini, Islam menggarisbawahi pentingnya pluralitas, harmoni, toleransi, inter-relasi, dll sebagai nilai-nilai fundamental untuk menjaga perdamaian universal antar manusia. Karena prinsip “kesatuan” ini pulalah Islam menegaskan kehidupan manusia sebagai sesuatu yang “sakral” yang harus dirawat oleh semua penduduk planet ini. Al-Qur’an menyatakan, “…dan barang siapa membunuh seorang manusia maka dia seperti membunuh seluruh manusia dan barang siapa menyelamatkan nyawa seorang manusia maka ia seperti menyelamatkan seluruh kehidupan manusia” (Q. 5:32).

Ayat ini sekali lagi menegaskan dimensi sakralitas kehidupan kemanusiaan yang harus dihormati dan dipelihara oleh manusia sebagai khalifah di muka bumi ini bukan malah merusak dan mengotorinya dengan tindakan pembunuhan, kekerasan, pengrusakan, vandalisme, dsb. Selain berakar kuat pada konsep tauhid, paham perdamaian (baca, pacifisme) dalam Islam juga merupakan penjabaran logis dari salah satu nama-nama indah Tuhan, al-Salam (“Sang Damai”). Konsep tauhid ini mirip dengan ajaran Buddha tentang Dharmakaya yang didefinisikan sebagai: semua hal dan semua yang ada adalah tubuh Buddha. Tidak ada “hal” (object, entitas, konsep, phenomena, etc.) yang eksis dalam realitas karena kosmos ini, meminjam istilah Mary Clark, merupakan “interdependent whole.”

Menyadari substansi perdamaian dalam Islam, sampai hari beliau meninggal, Nabi Muhammad terus melakukan dialog damai dan membangun hubungan yang sehat dengan Yahudi dan Kristen di Arab seperti diriwayatkan oleh para penulis awal biography beliau semisal Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam, al-Baladhuri, atau al-Tabari. Gordon Newby dalam A History of Jews of Arabia juga menandaskan hubungan harmonis antara Nabi Muhammad dan komunitas Yahudi. Bukti lain yang cukup monumental adalah pada waktu peristiwa Fathu Makkah di mana Kanjeng Nabi menyerukan perdamaian dan rekonsiliasi dengan para bekas musuhnya. Ketika Mekkah berhasil “ditaklukkan” kaum muslim, Nabi Muhammad juga melarang pembersihan dan pengrusakan simbol-simbol agama Yahudi dan Kristen seperti dituturkan Martin Lings dalam Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources, yang didasarkan pada riwayat Waqidi dan Azraqi. Teladan mulia Nabi Muhammad dengan hidup berdampingan dengan Yahudi dan Kristen ini kemudian dilanjutkan oleh kaum muslim generasi awal. Bahkan seperti ditulis Nabia Abbot dalam Studies in Arabic Literary Papyri, kaum muslim pada abad-abad pertama Islam secara reguler membaca Al-Qur’an bersama Torah.

Sebagai Muslim sudah seharusnya jika kita mencontoh dan melanjutkan perilaku harmonis Nabi Muhammad serta menjalankan pesan-pesan universal tauhid dengan jalan hidup berdampingan secara damai dengan tetangga agama kita, menghargai realitas keberagaman yang dianugerahkan Tuhan, serta membangun dialog dan komunikasi inter dan antar-agama secara positif, sehat dan produktif. Bukan sebaliknya, berteriak-teriak anti non-Muslim, anti-Barat, anti-pluralisme, dll seraya melakukan tindakan kekerasan, pengrusakan, vandalisme, terorisme, dsb. Jenis perbuatan ini bukan hanya sebuah “immoral situation” untuk meminjam istilah Syeikh Mahmud Schaltut, melainkan juga bentuk penyimpangan serius dari spirit Islam sebagai agama damai.

Bisakah spirit “pacifisme” yang begitu kuat dalam tradisi Mennonites yang menjunjung tinggi doktrin cinta dan perdamaian lahir dalam Islam? Jawabannya tentu saja harus bisa agar merpati tidak hanya tumbuh sumbur di kalangan Mennonites tapi juga bersemai dalam diri kaum Muslim.

Dalam situasi dunia Islam yang belepotan dengan perang dan kekerasan, spirit pacifisme Mennonite ini seperti “oase spiritual” sekaligus tantangan bagi kaum Muslim untuk membumikan Islam sebagai “agama damai” dan “rahmatan lil alamain.”***

 

Boston, 21 Juli, 2008.



[1] Ada beragam motivasi kedatangan para imigran ke AS dari sekedar mencari shelter, asylum, atau suaka beru yang aman sampai motivasi mencari kerja dan kekayaan. Sebagian besar orang Irlandia misalnya datang ke AS karena kelaparan di negaranya. Banyak juga orang Eropa yang datang ke Amerika Utara sebagai, meminjam istilah Lawrence Yoder, “indentured servants,” artinya, karena mereka tidak mempunyai uang untuk membayar ongkos pengangkutan, mereka memperoleh karcis berlayar dari pengusaha pelayaran dengan janji bahwa nanti setelah tiba mereka akan bekerja sekian lama sebagai kuli atau buruh untuk mengganti ongkos tersebut. Orang-orang Afrika dibawa ke Amerika sebagai budak mulai awal abad ke-17 (150 tahun sebelum AS terbentuk sebagai negara) sampai medio abad ke-19 pada waktu perang saudara AS ketika perbudakan menjadi terlarang. Saya berterima kasih kepada Prof. Yoder atas informasi ini.

 

[2] Evangelisme awalnya mengacu pada definisi sebuah gerakan Kristen untuk mengabarkan pesan-pesan Injil (Gospel) melalui dakwah (preaching atau proselytizing) kepada umat manusia (baca, non Kristen) agar mereka masuk menjadi jamaah gereja. Kata “evangelist” (Latin “evangelicum) berasal dari Greek “euangelion” yang mengacu pada para penulis empat Injil, yaitu Matius (Matthew) , Markus (Mark), Lukas (Luke), dan Yohanes (John). Akan tetapi dalam tulisan ini, istilah “evangelisme” saya pakai dalam pengertian umum, yakni “share our faiths with others.” Maka, dalam konteks ini, dakwah atau tabligh dalam Islam adalah bagian dari evangelisme itu sendiri.

 

[4] Pidato Ron Sider ini bisa disimak di http://www.cpt.org/resources/writings/sider

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here