Multiwajah Islam dan Tantangan Muslim Indonesia

0
111

Oleh: Tedi Kholiludin

Peradaban Islam, kata Mustafa Ceric, Grand Mufti asal Bosnia, bisa diibaratkan sebagai putaran roda. Walaupun terus berputar, tetapi ia berporos pada keberlanjutan pesan ilahi. Mulai dari Nabi Adam, hingga Nabi Muhammad SAW. Poros transenden dari peradaban Islam itu tetaplah sebangun karena memiliki makna yang sama dari semangat kehidupan dan karena itu adalah logika yang sama dari kebenaran transendental. Gerakan roda di tepi, terkesan lebih cepat dibanding pusatnya.
Sumbu dan roda kehidupan peradaban Islam, lanjut salah satu pendiri Bosniak Academy of Sciences and Arts, adalah karunia Ilahi. Sumbu atau poros ada dalam kontinuitas hidup dan sejarah. Roda peradaban Islam bergerak sesuai dengan arah dan kecepatan manusia. (Ceri? dalam Said, Abu-Nimer dan Syarify-Funk, 2006).

Dinamika kehidupan umat Islam kontemporer, merupakan gerak yang sangat dinamis. Penerjemahan doktrin tak pernah menghasilkan warna yang sama. Secara sosiologis, ekspresi keberislaman selalu melahirkan multiwajah. Maksud yang tunggal, dipahami dan dipraktikkan melalui jalan yang berbeda. Meski begitu, keduanya tetap merupakan karunia Ilahi.

Tradisi agama secara internal sesungguhnya menunjukkan kecenderungan yang plural, cair, berkembang dan responsif terhadap interpretasi baru yang dibuat oleh para pemimpin agama. Ia mampu membentuk individu, gerakan sosial dan komunitas yang mempraktekan dan mempromosikan toleransi dan anti kekerasan satu dengan lainnya. (Appleby, 2000: 281)

Berkembangnya Islam di pelbagai wilayah dengan konteks kebudayaan yang beragam, berdampak pada lahirnya wajah Islam yang juga tak seragam. Pengamatan Clifford Geertz menjadi salah satu penguatnya. Ketika ia mencermati perkembangan Islam di Maroko dan Indonesia, Geertz menemukan Islam yang multiwajah itu.

Berbeda halnya dengan Maroko, Islam di Indonesia hadir bukan di sebuah wilayah nir-agama. Islam hadir tidak melalui peperangan, tapi perdagangan. Persinggungannya dengan kebudayaan, menghasilkan keberagaman. Perbedaan memahami ajaran Islam itu sangat dimungkinkan karena keduanya memiliki sejarah, kondisi sosial, kebudayaan serta struktur masyarakat yang tidak sama. Maroko lebih awal bersinggungan dengan Islam ketimbang Indonesia.

Ditilik dari sisi geografis, Indonesia boleh dikatakan sebagai “wilayah pinggir” dalam peta Islam dengan merujuk pada Timur Tengah sebagai porosnya. Keberadaannya di pinggir kerap mencandera masyarakat muslim Indonesia dengan klaim-klaim konotatif; sinkretik, “tidak sempurna,” inferior, dan lain-lain.

Meski demikian, optimisme mengenai kebangkitan Islam, justru hadir dari bagian pinggir ini. Ketika berkunjung ke Indonesia pada tahun 1985, Fazlur Rahman seorang Intelektual asal Pakistan menegaskan kalau harapan tentang kemajuan dan pembaharuan tradisi pemikiran Islam ada di dua negara; Turki dan Indonesia.

Sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, tentu sangatlah beralasan untuk berharap pada Indonesia. Moderatisme umat Islam Indonesia adalah modal berharga untuk mendudukannya sebagai lokomotif perdamaian dunia. Februari tahun lalu misalnya, beberapa pemimpin dunia Islam meminta kepada Presiden Joko Widodo agar Indonesia menjadi garda depan untuk memerangi kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Fleksibilitas dalam memaknai ajaran Islam juga menjadi alasan lain mengapa Indonesia patut dipertimbangkan. Pergumulan Islam dengan tradisi menghadirkan sebuah manifesto keberislaman yang adatif dan moderat. Rahman mengatakan bahwa Pancasila, sebagai pilar bangsa Indonesia merupakan tafsiran bangsa Indonesia terhadap Islam yang sudah disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan budayanya (via Bruinessen, 2011). Dekade 90-an, Indonesia panen intelektual progresif. Situasi ini semakin menggenapi prasyarat kebangkitan tradisi intelektual muslim tersebut.

Optimisme terhadap kebangkitan pemikiran Islam Indonesia seperti yang dilontarkan Fazlur Rahman (juga Nasr Hamid Abu Zayd), tentu bukannya tanpa tantangan. Akhir-akhir ini, gejala uniformitas Islam begitu sangat kuat terasa. Meski masih belum menjadi arus utama, tetapi kehadirannya potensial menggoyang pertahanan kultural bangsa Indonesia. Pasca reformasi kecenderungan untuk menjadikan Islam sebagai ideologi politik begitu kentara. Ini adalah tantangan besar yang dalam satu waktu, mereduksi Islam yang sesungguhnya multiwajah itu. Bukan tak mungkin, warna lokal dalam ekspresi keberislaman akan terus memudar.

Peran masyarakat Islam Indonesia bagi upaya membangun peradaban dunia yang humanis dan egaliter juga harus terus diuji. Indonesia memang cukup berperan dalam konflik Israel-Palestina, Filipina Selatan dan Thailand Selatan. Negara Thailand rajin mengirimkan mahasiswanya untuk belajar Islam di Indonesia. Salah satu alasannya, pasti karena Indonesia merupakan negara muslim, dimana keberagamaan agama dijamin eksistensinya.

Jika memang demikian faktanya, maka tugas berikutnya adalah bagaimana menjadikan paham moderat ini diekspor ke belahan dunia. Persis seperti Turki yang mengenalkan pemikiran sosial dan keagamaan Fethullah Gülen. Pikiran-pikiran moderat Nahdlatul Ulama (NU) atau Muhamadiyyah, sudah saatnya dikonsumsi muslim dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here