Notre Dame, Kroc, dan Fr. Hesburgh

0
91

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

Perjalanan saya di Amerika kali ini mendarat di Notre Dame, setelah beberapa tahun sebelumnya tinggal di Harrisonburg (Virginia) dan Boston (Massachusetts). Untuk mencapai kota ini, dari Chicago, dibutuhkan waktu sekitar 2,5 jam dengan menggunakan bus, KA, atau mobil. Jika naik pesawat, maka cukup 20 menit saja dari O’Hare Airport di Chicago. Anakku, Vicky, sampai terheran-heran begitu naik pesawat baru beberapa menit sudah turun. “Kok cepet pa?” tanyanya penuh selidik. Bukan hanya Vicky, saya dan istriku juga kaget. Maklum kami habis menempuh perjalanan panjang dari Semarang-Jakarta-Hongkong-Chicago yang memakan waktu lebih dari 20 jam terapung-apung di pesawat.

Notre Dame adalah sebuah kota kecil di bagian utara Negara Bagian Indiana. Sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan kota yang berada di wilayah South Bend di distrik St. Joseph County ini hanya berpenghuni sekitar 6 ribu jiwa saja. Dengan jumlah penduduk sebesar itu, Notre Dame ini mungkin mirip sebuah desa atau bahkan dukuh (hamlet) di Indonesia. Jadi tidak heran kalau kota mungil ini sangat sepi. Apalagi di AS tidak ada orang kongko-kongko atau jagongan di pinggir-pinggir jalan atau pos ronda laiknya di Jawa dimana kita bisa dengan mudah menjumpai orang-orang berkerumun dan ngerumpi ngalor-ngidul. Tempat ngumpul pavorit di AS adalah kafe, bar, atau gym. Hal ini tentu semakin membuat suasana di Notre Dame bertambah senyap. Apalagi saat liburan Natal atau tahun baru yang berbarengan dengan musim dingin. Betul-betul sunyi-lengang. Hawa dingin yang menyeruak di bawah 0 derajat Celcius ditambah hamparan salju yang memutih semakin menambah senyap kota ini. Meski sunyi, kota ini tidak menakutkan.

Kata “Notre Dame” sendiri berasal dari bahasa Perancis yang berarti “Our Lady,” sebuah penghormatan ala Katolik yang diberikan kepada Sang Virgin Mary alias the Blessed Bunda Maria (atau Maryam dalam Islam) yang tidak lain dan tak bukan adalah ibunda dari Yesus Kristus.

Kontras dengan Boston, Massachusetts, tempat dulu saya tinggal, yang sangat megah, hiruk-pikuk, dan sekuler-liberal, Notre Dame sangat senyap, damai, dan relijius. Dan satu lagi penandanya: Katolik! Notre Dame memang sangat kental aura Katolik-nya. Dimana-mana kita akan dengan mudah menjumpai simbol-simbol Katolik, khususnya Roman Katolik.

Menariknya, meski tempat ini sangat mungil, popularitas Notre Dame jauh melampaui South Bend maupun St. Joseph County. Padahal jika diibaratkan, Notre Dame ini adalah kota mini yang berada di pinggiran “kota besar” South Bend yang terletak di wilayah kabupaten St. Joseph. Kota South Bend sendiri berpenduduk sekitar 100 ribu jiwa. Akan tetapi uniknya dimana-mana di Amerika, banyak orang yang tidak mengetahui South Bend (apalagi St. Joseph). Mereka jauh lebih paham dan familiar dengan Notre Dame!

Fighting Irish

 Apa yang membuat nama Notre Dame ini populer? Setidaknya ada dua hal yang turut mengangkat popularitas Notre Dame di publik Amerika: Fighting Irish dan University of Notre Dame (UND)!

Fighting Irish adalah nama julukan (nickname) tim “American football” milik UND, dan salah satu tim papan atas di Amerika. Istilah “football” di Amerika tidak sama dengan “football” di Eropa. Di Amerika, untuk jenis olahraga “football” ala Eropa ini dikenal dengan soccer atau sepak bola. Didanding dengan jenis olahraga lain seperti softball, soccer, baseball, basket, kick boxing, hockey, anggar (fencing), renang, tenis dan sebagainya, football jauh lebih populer di Amerika. UND sendiri memiliki sejumlah tim olahraga hebat di bidang sepak bola, basket, atau anggar yang beberapa kali menjuarai event nasional. Tetapi popularitasnya tetap kalah jauh dengan tim football.

Sejak berdiri tahun 1887, tim football UND merupakan salah satu tim football tertua di Amerika. Sejak itu, tim ini sudah puluhan kali berhasil menjadi jawara nasional dan ratusan kali menjadi jawara regional. Tahun ini Fighting Irish kembali merajai dunia American football setelah 12 kali pertandingan tak terkalahkah melawan tim kampus-kampus besar: Stanford, Michigan, Miami, Georgetown, Oklahoma, Pittsburgh, Boston College, University of Southern California, dlsb. Dengan rekor yang cemerlang ini, maka tidak heran jika Fighting Irish (nama yang baru disematkan sejak 1920-an) tahun ini berada di ranking 1 di asosiasi football kampus Amerika. Karena prestasi gemilangnya ini, ketua pelatih Fighting Irish, Brian Kelly, mendapat gelar “The 2012 Walter Camp Coach of the Year.” Sementara sang kapten tim, Manti Te’o, terpilih sebagai “The 2012 Walter Camp Player of the Year.”

Berbeda dengan pertandingan di berbagai jenis olahraga lain yang hanya dihadiri oleh ratusan atau mungkin seribuan orang saja, dalam setiap pertandingan football, ratusan ribu orang bisa memadati stadium meski harga tiket sekali masuk bisa mencapai ratusan dollar apalagi saat final memperebutkan kejuaraan nasional harga tiket bisa naik berlipat-lipat. Orang-orang yang fanatik football, sebagaimana “bola mania” di Eropa, tidak menghiraukan dengan harga tiket yang menjulang. “Yang penting hepiii” dan bisa mendukung tim kesayangan. Karena tiket mahal, saya sendiri hanya melihat di TV yang selalu disiarkan langsung setiap kali pertandingan football yang tidak jauh dari apartemen tempat saya tinggal.

Saya sempat terkejut ketika melihat suasana pertandingan football di UND. Pada tanggal 4 September 2012 dimulailah kick off pertandingan “college football”, sebuah istilah yang merujuk pada perlombaan football antar-kampus papan atas di Amerika untuk memperebutkan kejuaraan nasional. Notre Dame yang sebelumnya seperti “kota mati”, pada saat pertandingan football ini tiba-tiba berubah menjadi hingar-bingar penuh sesak oleh lautan manusia dari segala penjuru plus ribuan mobil dan bus di setiap sudut dan ruas jalan. Tua-muda, anak-anak, laki-laki perempuan, “orang biasa” atau artis ngetop semua tumpah ruah (tumplek blek) di arena kampus. “Itu ada Bon Jovi,” teriak istriku. Yang ia maksud adalah Jon Bon Jovi alias John Francis Bongiovi, Jr, penyanyi grup band rock legendaris asal New Jersey: Bon Jovi. Benar juga legenda rock yang gemar beramal kemanusiaan ini menjadi salah satu dari lautan manusia itu. Tidak hanya itu, “warung-warung” juga tampak dimana-mana menjual berbagai makanan dan minuman khas Amerika: soft drinks, hamburger, roti, ketang goreng (french fries), potato chips, fried chicken, popcorn, dan sebagainya. Kios-kios dadakan juga bertebaran di area kampus menjajakan aneka produk dan pernik-pernik yang berkaitan dengan Fighting Irish: kaos, celana, topi, stiker, jaket, dan masih banyak lagi.

Beberapa hari sebelum pertandingan ini, Anne Riordan, visiting fellow manager di Kroc Institute, sudah mewanti-wanti kepada saya kalau saat pertandingan football di kampus harus hati-hati, termasuk mengunci apartemen, karena ada ribuan orang fans “Fighting Irish” yang membanjiri kampus dari berbagai daerah. Dan benar, sehari sebelum pertandingan orang-orang sudah mulai berdatangan ke kampus untuk foto-foto atau mungkin mempersiapkan peralatan bagi yang mau jualan. Tidak sebatas itu, football game yang selalu dilaksanakan pada hari Sabtu itu menjadi ajang reuni para alumnus UND untuk kangen-kangenan. Selain itu, momen ini juga menjadi medium piknik keluarga. Mereka biasanya membawa mobil khusus yang berukuran besar yang berisi berbagai makanan dan minuman untuk kemudian disantap bersama keluarga sebelum pertandingan dimulai.

Tidak sebatas ajang reuni dan refreshing, bagi fans berat Fighting Irish, football bahkan telah menjadi semacam “agama baru” dimana para penggemarnya laksana umat/pengikut setia agama atau sekte, sementara stadium ibarat masjid, gereja, atau kuil, tempat-tempat sakral dimana orang-orang beragama beribadah dan memuja-muji Tuhan dengan nyanyian, chanting, atau lafal-lafal pujian lain. Pertandingan selalu diawali dengan menyanyikan mars kampus yang didendangkan dengan penuh khidmat. Grup drum band yang berseragam ala pasukan Inggris dan Irlandia kuno mengiringi alunan lagu itu. Tidak ketinggalan penampilan para cheerleaders yang riang-gembira.

Selain itu, mereka tidak lupa untuk berdoa dengan khusyu’ dengan harapan Tuhan mendukung dan sekaligus memberi kemenangan tim kesayangan mereka. Saya tidak bisa membayangkan betapa “bingungnya” Tuhan karena masing-masing fans, pelatih dan officials, serta tim yang akan bertanding sama-sama berdoa dan berharap Tuhan membela timnya. Gabriel Reynolds, professor teologi di UND dan penggemar berat Fighting Irish, juga mengakui sering berdoa di gereja atau di depan patung Bunda Maria atau Yesus untuk kemenangan tim kesayangannya sebelum pertandingan dimulai. Jika profesor saja berdoa apalagi yang bukan profesor. Sorak-sorai membahana jika timnya berhasil “touchdown” (atau gol dalam sepak bola). Sebaliknya kesedihan pun tak bisa dibendung saat tim favoritnya terjungkal.

Ternyata tidak hanya fanatikus Fighting Irish yang memperlakukan olahraga bak agama. Penggila cabang olahraga lain juga sama. Charles Lindholm, antropolog Boston University, suatu saat pernah bercerita kepada saya kalau dirinya pernah membimbing mahasiswa master yang sedang menulis sebuah tesis tentang fenomena “agama baru” bernama Red Sox, yakni nama julukan tim baseball pavorit di Boston (selain Celtic untuk basket atau Patriot untuk football) dan salah satu tim kesohor di AS. Sebagaimana penggemar Fighting Irish di Notre Dame, para penggila Red Sox di Boston, kata Professor Lindholm, juga sangat fanatik dan menjadikan Red Sox seperti “agama baru” dimana orang sering berdoa histeris di lapangan Red Sox di Fanwey Park sebelum pertandingan baseball yang mirip “bola kasti” di Indonesia itu dimulai.

University of Notre Dame

Selain Fighting Irish, yang membuat nama Notre Dame melambung di Amerika tentu saja University of Notre Dame (UND) atau biasa disingkat Notre Dame saja. Diluar kampus, sangking populernya, orang-orang menyebut kampus Katolik terkemuka ini dengan sebutan “Notre Dame” saja seperti Harvard untuk menyebut Harvard University, Yale (Yale University), Chicago (The University of Chicago), Cornell (Cornell University), Berkeley (University of California at Berkeley) dan seterusnya. Padahal di kota ini ada sejumlah kampus selain UND seperti Saint Mary’s College, Holy Cross College, dan Indiana University School of Medicine.

Berdiri tahun 1842, University of Notre Dame merupakan salah satu universitas riset terbaik di Amerika dan dunia berdasarkan survei sejumlah media seperti U.S. News and World Report, Forbes, Newsweek, dan Bloomberg Bussinessweek. Notre Dame bahkan menempati ranking 1 dunia untuk kategori: “kampus berbasis Katolik”. Program “administrasi bisnis”-nya (School of Bussiness Administration) juga berada di rangking #1 di AS. Universitas yang luas areanya mencapai lebih dari 5 km dengan 143 gedung ini juga dikenal sebagai kampus kaya dan royal yang suka memanjakan pegawainya dengan gaji tinggi dan fasilitas serba wah. Gaji “dosen junior” (Assistant Professor) saja di kampus ini bisa mencapai 1 M per tahun, plus berbagai insentif lain. Karena itu tidak heran jika banyak profesor yang ingin menempuh karir disini. Tidak hanya dosen dan staf, pengurus “senat mahasiswa” dan lembaga-lembaga lain juga digaji. Untuk “presiden mahasiswa” gajinya sekitar Rp. 300 juta per tahun plus fasilitas lain (kantor, apartemen, dll).

Predikat Notre Dame sebagai “kampus makmur” memang bisa dimaklumi mengingat “Irish Catholics” yang menjadi penyangga utama universitas ini dikenal sebagai kelompok etnik minoritas terkaya dan tersukses kedua di AS setelah Yahudi. Kampus-kampus swasta di AS memang ditopang oleh jamaah.

Didirikan oleh Fr. Edward Sorin, seorang romo Katolik berusia 28 tahun dari Congregation of Holy Cross asal Perancis, Notre Dame kini memiliki sekitar 12 ribu mahasiswa. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan kampusku dulu, Boston University, yang memiliki mahasiswa hampir 40 ribu. Memang ada banyak kampus top di AS yang lebih mementingkan faktor kualitas ketimbang kuantitas (misalnya jumlah mahasiswa). Harvard, Chicago, atau Princeton juga memiliki “sedikit” mahasiswa. Meski ada puluhan ribu yang mendaftar setiap tahunnya, Notre Dame hanya menerima sekitar dua ribu saja diambil dari ranking teratas calon mahasiswa yang melamar. Sudah menjadi rahasia umum di AS kalau para lulusan “high schools” (semacam SMU) berlomba-lomba ingin masuk kampus-kampus top meski biaya SPP (tuition fee) tergolong mahal, yakni lebih dari Rp. 500 juta per tahun.

Sebagai “kampus Katolik,” Notre Dame tergolong “kampus saleh dan relijius” untuk tidak menyebut “konservatif.” Di area kampus, mahasiswa, dosen dan karyawan dilarang mengosumsi alkohol (wine, beers, apalagi jenis-jenis minuman keras). Aturan ketat lain adalah hal-ikhwal yang berbau pelecehan seksual. Dimana-mana dipasang poster yang berisi pengumuman tentang siapa saja yang merasa tidak nyaman karena ada orang-orang tertentu yang suka iseng atau usil menganggu lawan jenis—baik ucapan maupun tindakan—untuk segera melaporkan kepada polisi kampus dan tim khusus yang menangani  delik aduan pelecehan seksual. Saya merasakan para mahasiswa Notre Dame juga tampak lebih saleh dan sopan. Dulu, waktu saya mengajar di Boston, murid-muridku “sangat garang,” kritis, dan berani baik dalam hal pengajuan pertanyaan, cara berpakaian maupun cara berkomunikasi. Pemandangan ini kontras dengan Notre Dame.

Asrama mahasiswa juga dipisah antara laki-laki dan perempuan. Seperti di pesantren, Notre Dame juga mempunyai “asrama putri” dan “asrama putra.” Di Notre Dame, semua mahasiswa S1 wajib tinggal di asrama kampus sehingga semua aktivitas perkuliahan dan berbagai kegiatan di kampus bisa berjalan dengan baik. Ini juga antara lain yang membuat suasana kota Notre Dame tampak sepi karena mahasiswa tinggal di dalam kampus yang sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas lengkap: gym, kolam renang, arena olahraga, kafe, mal, rumah makan, toko buku, tempat-tempat rekreasi, gedung bioskop, teater, galeri seni, panggung musik dan pertunjukan, dan sebagainya. Sangat nyaman! Apalagi polisi kampus 24 jam siap-siaga di area universitas. Menambah suasana semakin nyaman.

Dari segi pakaian juga sangat sopan. Meskipun musim panas, para mahasiswi tetap mengenakan pakaian yang menutup sebagian besar aurat mereka. Tidak ada mahasiswi yang hanya memakai selembar bikini kemudian berjemur di rumput misalnya. Pernah suatu ketika ada mahasiswi dari Korea atau Jepang yang mengenakan pakaian pendek-tipis sehingga kelihatan lekuk-lekuk tubuhnya. Seorang staf kampus yang melihat mereka langsung berkomentar bahwa berbusana seperti itu di Notre Dame dianggap “kurang sopan.” Pemandangan ini berbeda jauh dengan bekas kampusku dulu di Boston dimana setiap musim panas tiba atau bahkan ketika cuaca sedikit hangat (di musim gugur atau musim semi), pemandangan menawan selalu ada di depan mata (laki-laki) lantaran ada ratusan mahasiswi yang hanya mengenakan sehelai bikini berjemur berderet-deret di rumput-rumput di setiap sudut kampus atau di pinggir “Sungai Charles” yang indah yang berada di belakang kampus megah itu. Pemandangan sexi bukan hal asing di Boston, sesuatu yang menjadi barang mewah di Notre Dame.

Adat berpakaian yang “serba santun” di Notre Dame ini bisa dipahami mengingat universitas dengan 24 program doktor ini mempunyai tiga semboyan atau visi utama yang tidak bisa dipisahkan: “rigorously intellectual, unapologetically moral in orientation and firmly embracing of a service ethos.” Jadi ada tiga hal mendasar yang menjadi komitmen Notre Dame: dunia intelektual, moral, dan pelayanan masyarakat. Tiga pilar ini bukan “jargon kosong” sebagaimana yang sering dijumpai di instansi-instansi pemerintah, partai politik, atau bahkan lembaga kepolisian dan militer di Indonesia yang sering mengobral motto dan visi-misi. Di bidang pelayanan publik misalnya, lebih dari 80% mahasiswa terlibat di aktivitas-aktivitas voluntir di berbagai lembaga sosial. Notre Dame juga memiliki aneka program dan lembaga yang didedikasikan untuk membantu orang-orang dan anak-anak tidak mampu. Demikian pula di bidang “ahlaqul karimah” (morality) dan intelektual, Notre Dame sangat kompeten dan konsisten.

Sebagaimana umumnya kampus-kampus swasta lain di Amerika, Notre Dame juga bermula dari sekolah agama/teologi atau seminari, semacam pesantren di Indonesia yang mengkaji masalah-masalah keagamaan. Dari seminari ini kemudian berkembang biak menjadi universitas yang mengadopsi berbagai macam program diluar teologi: liberal arts, social sciences, medicine, chemistry, engineering, law, management, bussiness, physics,  dan sebagainya. Denyut nadi dari kampus-kampus swasta ini adalah para alumni dan pengikut agama dari kongregasi tertentu. Seperti Notre Dame ini yang ditopang oleh komunitas Katolik atau BYU (Brigham Young University) di Utah yang didukung oleh gereja Mormon, dan seterusnya. Berbeda dengan di Indonesia, kampus-kampus swasta di AS dianggap jauh lebih bergengsi dan berkualitas ketimbang kampus negeri. Hal ini bisa dimaklumi mengingat universitas-universitas papan atas di AS adalah rata-rata kampus swasta. Sebut saja misalnya Harvard University, Columbia University, Stanford University, Princeton University, Yale University, MIT, University of Chicago, Boston University dan masih banyak lagi.

Rev. Theodore Hesburgh

Salah satu ikon Notre Dame yang namanya harum semerbak dan menjulang hingga kini dan sekaligus merefleksikan visi kampus di bidang intelektual, moral, dan pelayanan kemanusiaan adalah Rev. Theodore Hesburgh. Lahir pada tahun 1917 (sekarang berusia 95 tahun), pria yang akrab disapa Father Ted atau Father Hesburgh (Romo Hesburgh) ini adalah tokoh multi talenta: pastor, akademisi, penulis, kolumnis, aktivis, politisi, birokrat…

Father Hesburgh juga tercatat sebagai presiden kampus atau rektor universitas terlama dalam sejarah AS, yakni selama 35 tahun sejak 1952 sampai 1987 ditambah tiga tahun sebagai wakil rektor (1949-1952). Ia menjadi rektor pada usia yang relatif muda, 35. Pada masa kepemimpinan Father Hesburgh inilah, Notre Dame mengalami perkembangan pesat dari segi ekspansi pembangunan sarana-prasarana kampus, pengumpulan dana endowment atau hibah untuk universitas, penciptaan lembaga-lembaga riset serta pusat-pusat studi dan perpustakaan, maupun perekrutan para profesor kondang. Pada masa Father Hesburgh ini pula, jumlah pendaftar yang ingin menjadi mahasiswa Notre Dame melonjak berlipat-lipat. Di masa kepemimpinan Father Hesburgh jugalah kaum perempuan diperbolehkan sekolah di Notre Dame sebagaimana kaum laki-laki. Sebelumnya, kaum perempuan hanya sekolah di Saint Mary’s College yang disebut-sebut sebagai “kampus putri.”

Karena kesuksesan yang gemilang ini nama Father Hesburgh kemudian diabadikan sebagai nama berbagai gedung, institusi, professorship, dan penghargaan bergengsi di Notre Dame (Hesburgh Award). Gedung perpustakaan kampus yang sangat megah juga bernama Rev. Theodore Hesburgh Library. Ia sendiri kini, meski usianya sudah hampir 1 abad, masih berkantor di lantai 13 di perpustakaan ini. Kami juga tinggal di kompleks apartemen yang bernama “Hesburgh Center Residence”. Hesburgh Center adalah kompleks gedung yang di dalamanya ada dua lembaga ternama Kroc Institute dan Kellogg Institute. Jika Kroc Institute fokus pada studi-studi perdamaian (seperti akan saya jelaskan di bawah di penghujung tulisan),  Kellogg Institute konsentrasi di bidang demokrasi di negara-negara berkembang, khususnya Amerika Latin dan Afrika. Kellogg ini didirikan oleh Profesor Guelarmo O’Donell, kampium studi-studi transisi demokrasi yang karya-karyanya menjadi rujukan para ilmuwan politik di berbagai negara. Hesburgh Center ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas: café, hall untuk public lecture, ruang-ruang untuk meeting dan diskusi, ruang kelas, area piknik, perpustakaan, kantor para profesor, dan apartemen yang sudah lengkap dengan perabotan. Sudah menjadi bagian dari tradisi Amerika, jika orang-orang yang berjasa kemudian diabadikan sebagai nama sebuah gedung, lembaga, program-program akadamik, award, ataupun scholarship.

Father Hesburgh yang memperoleh gelar doktor di bidang Sacred Theology pada tahun 1945 dari The Catholic University of America ini juga seorang tokoh terkenal di AS. Pada tahun 1969, Father Hesburgh terpilih sebagai ketua the U.S. Commission on Civil Rights, sebuah lembaga independen yang dibentuk pemerintah AS yang bertugas untuk menyelidiki, melaporkan, dan membuat rekomendasi berkaitan dengan isu-isu civil rights. Mengomentari penunjukan ini, pemimpin gerakan civil rights, Andrew Young, berkata, “If Father Hesburgh was for you, you didn’t care who was against you,” sebuah refleksi untuk menggambarkan keberanian dan komitmen Father Hesburgh pada perjuangan kemanusiaan. Andrew Young benar. Father Hesburgh menjadi salah satu pendukung gerakan anti rasisme yang dikibarkan Martin Luther King, Jr. (Dr. King). Ia bersama Dr. King kemana-mana mengibarkan bendera perlawanan terhadap “gerakan anti negro” yang sangat kuat pada waktu itu di Amerika. Karena sikapnya yang terlalu kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah, terutama “kebijakan perang” (Perang Vietnam waktu itu) dan sikap pemerintah yang lembek terhadap masalah civil rights, ia pun akhirnya dicopot dari jabatannya oleh Presiden Richard Nixon dari Partai Republik tahun 1972. Presiden Nixon dikenal sangat militeristik. Ia bahkan berusaha menggunakan kekuatan tentara untuk mengontrol gerakan-gerakan protes di kampus, sebuah usaha yang akhirnya gagal total diterapkan berkat kegigihan Father Hesburgh. Karena prestasinya ini Father Hesburgh mendapatkan penghargaan “Meiklejohn Award of the American Association of University Professors.” Pada 1979, lantaran komitmennya di bidang kemanusiaan dan perdamaian, ia kemudian kembali ditunjuk oleh Presiden Jimmy Carter untuk mengepalai komisi reformasi imigrasi.

Selain jabatan sebagai presiden Notre Dame, pada rentang waktu antara 1960-an sampai akhir 1980-an, Father Hesburgh menduduki berbagai jabatan penting di lembaga-lembaga politik, pemerintah, non-profit NGO, kampus, termasuk klub olahraga. Karena dedikasinya inilah ia beberapa kali memperoleh penghargaan bergengsi seperti Presidential Medal of Freedom (penghargaan tertinggi dari Presiden AS), Congressional Gold Medal (penghargaan tertinggi untuk pemimpin sipil), Public Welfare Medal (dari National Academy of Science), dan masih banyak lagi. Alasan kenapa Father Hesburgh sebagai penerima Congregational Gold Medal pada tahun 1999 karena—seperti tertulis dalam surat—“his  outstanding and enduring contributions to civil rights, higher education, the Catholic Church, the nation, and the global community.”  Kisah hidup, prestasi, tujuan, dan visi global Father Hesburgh ini kemudian dirangkum dalam sebuah buku autobiography-nya yang sangat populer: God, Country, Notre Dame.

Saya merasa beruntung sempat bersalaman dengan tokoh besar ini. Pada sebuah sore di acara ramah-tamah di akhir bulan Agustus 2012 yang bertempat di halaman Hesburgh Center, R. Scott Appleby, Direktur Kroc Institute memperkenalkan saya kepada Father Hesburgh. “Father, he is Manto, a Muslim scholar from Indonesia, and now a visiting research fellow at our Kroc Institute,” kata Professor Scott Appleby. Sedetik kemudian, Father Hesburgh menyapa saya, “Assalamu alaikum. Welcome to Notre Dame.”

Kroc Institute

Visi Father Hesburgh yang humanis serta spiritnya yang cinta damai telah memikat banyak orang dari rakyat kecil sampai tokoh besar. Salah satu yang kepencut itu bernama Joan B. Kroc. Lahir pada tahun 1928 di West St. Paul, Minnesota, Joan B. Kroc adalah istri ketiga Raymond “Ray” Kroc, CEO McDonald Corporation, restauran fast food terbesar di dunia yang melayani lebih dari 70 juta orang per hari di 119 negara! Sejak Ray Kroc meninggal tahun 1984, Mrs. Kroc mewarisi kekayaan mendiang suaminya. Mrs. Kroc tidak hanya kaya tapi juga dermawan.

Pada bulan April 1985, Father Hesburgh memberi “kuliah umum” di University of San Diago, California. Dalam ceramahnya Father Hesburgh mendorong kepada para ilmuwan dan tokoh agama untuk bersatu padu melawan “kekuatan jahat” perlombaan senjata nuklir dan para pemimpin yang gemar perang serta meminta kampus untuk berperan aktif dalam menciptakan generasi baru para pemimpin yang bervisi humanis-pluralis dan cinta perdamaian global.

Ceramah Father Hesburgh yang memukau itu telah memikat hati Mrs. Kroc. Beberapa bulan kemudian ia mendonasikan USD 6 juta kepada Notre Dame untuk mendirikan sebuah lembaga yang diharapkan akan menjadi pusat riset dan pengajaran multidisipliner tentang isu-isu keadilan, kekerasan, dan perdamaian. Beberapa bulan kemudian, Mrs. Kroc kembali memberi USD 6 juta kepada Notre Dame untuk mendirikan sebuah gedung yang menjadi tempat lembaga tersebut. Mrs. Kroc menamakan gedung itu—tempat sekarang kami tinggal—Hesburgh Center for International Studies (biasa disingkat Hesburgh Center) untuk menghormati jasa Father Hasburgh. Sementara Father Hesburgh menamakan lembaga itu Joan B. Kroc Institute for International Peace Studies (biasa disingkat Kroc Institute), tempat sekarang saya bekerja sebagai research fellow. Sumbangan Mrs. Kroc tidak berhenti sampai disitu. Ia terus membantu Kroc Institute. Puncaknya pada tahun 2003, ketika beliau wafat, ia meninggalkan sebuah surat wasiat yang berisi perintah untuk menghibahkan uang sebesar USD 50 juta (sekitar Rp. 500 Milyar) kepada Kroc Institute! Hibah ini menjadi “sumbangan pribadi” terbesar dalam sejarah Notre Dame.

Sejak pendirian lembaga ini tahun 1986, Kroc Institute telah menjadi salah satu lembaga studi perdamaian terkemuka dan disegani di AS. Lembaga ini bahkan, mungkin, menjadi salah satu dari segelintir lembaga perdamain yang dihuni oleh para ahli dari berbagai agama. Di lembaga ini, selain Katolik juga ada profesor dari Mennonite, Protestan, Yahudi, Hindu, dan Muslim. Tapi mereka bersatu-padu menyuarakan perdamaian dan menentang kekerasan. Kritik-kritik tajam para profesor di Kroc Institute menyangkut kebijakan perang dan “politik kekerasan” pemerintah AS selalu menghiasi media masa cetak dan elektronik. Suara-suara lantang mereka sering membuat kuping politisi dan policy makers memerah. Buku-buku dan artikel ilmiah mereka juga menjadi rujukan berbagai kampus, akademisi, praktisi resolusi konflik, aktivis HAM, dan pekerja pedamaian.

Dipimpin oleh sejarawan agama kondang R. Scott Appleby, lembaga ini kini memiliki 25 profesor tetap ditambah 50 “profesor paruh waktu” dan sejumlah visiting fellow. Beberapa profesor menjadi ikon peace studies di Amerika. Selain Scott Appleby, ada nama-nama tenar lain seperti John Paul Lederach, David Cortright, George Lopez, Robert Johansen, Marry Ellen O’Connell, Gerard Powers, Daniel Philpott, Peter Wallansteen, A. Rashied Omar, dan lain-lain. Kroc Institute juga memiliki program PhD dan MA di bidang peace studies (dan gratis, bagi yang diterima). Pula, lembaga ini mempunyai jaringan ribuan alumni yang tersebar di berbagai penjuru dunia.

Selain menggelar perkuliahan rutin tentang resolusi konflik dan peace-building yang ditinjau dari berbagai macam disiplin untuk mahasiwa S1 sampai S3, setiap tahunnya Kroc Institute juga membuka kesempatan kepada para ahli dan sarjana dari kampus-kampus dan lembaga-lembaga lain untuk menjadi visiting research fellow  dan profesor tamu disini. Lembaga ini juga secara rutin mengundang para tokoh agama, aktivis HAM,  ilmuwan penerima nobel perdamaian, pemimpin politik dan lain-lain dari berbagai negara untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman tentang demokrasi dan penegakan perdamaian.

Saya bersyukur bisa menjadi salah satu dari tiga orang yang diterima sebagai research fellow di Kroc Institute. Bersama dengan para profesor lain, kami bahu-membahu tukar-menukar pengalaman dan pengetahuan tentang studi-studi konflik dan perdamaian, tidak hanya di ruang-ruang diskusi formal saja tetapi juga di berbagai kesempatan informal saat jamuan makan malam atau pada waktu pesta merayakan Halloween, Welcoming Party, Natal, dan sebagainya. Pergaulan saya yang saling menghormati bersama para profesor Katolik di Kroc Institute dan Notre Dame ini seolah mengulang pengalaman almarhum ayah yang pernah tinggal serumah dengan seorang guru Katolik selama bertahun-tahun dengan penuh kedamaian dan persahabatan tanpa ada perasaan curiga secuilpun apalagi sikap saling membenci dan mengafirkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here