Paceklik Kentang Irlandia dan The Fields of Athenry

0
44
GDANSK, POLAND - JUNE 14: Republic of Ireland fans look on during the UEFA EURO 2012 group C match between Spain and Ireland at The Municipal Stadium on June 14, 2012 in Gdansk, Poland. (Photo by Jasper Juinen/Getty Images)

Oleh: Tedi Kholiludin

Paceklik berkepanjangan melanda Irlandia. Situasi ini terjadi di tahun 1845-1850an. Pasalnya adalah panen kentang yang gagal total. Kelaparan masal, wabah penyakit serta emigrasi menjadi pemandangan yang tak terelakan lagi di negeri yang kini beribukota di Dublin itu. Kegagalan panen kentang yang kemudian dikenal sebagai “Irish Potato Famine.”

Sepertiga penduduk Irlandia kala itu bergantung pada kentang. Alasannya utamanya; murah. Hukum Inggris menetapkan harga yang terlalu tinggi untuk roti. Bencana kegagalan panen kentang terjadi mulai tahun 1845 ketika separo kentang di Irlandia membusuk dan semua kentang membusuk pada tahun 1846. Kejadian paling parah terjadi pada 1847 dan kemudian terulang pada 1848.

Bencana kelaparan kentang yang diakibatkan oleh jamur phytophthora itu sesungguhnya tak hanya terjadi di Irlandia. Hampir semua negara Eropa mengalami situasi tersebut. Tapi Irlandia yang paling parah menderita karenanya. Negara lain yang lumayan parah adalah Skotlandia. Akibat kelaparan, tak kurang dari satu juta warga Irlandia meninggal. Satu juta lainnya mengungsi ke negara lain. Penduduk Irlandia menyusut antara 20-25%. Sungguh mengenaskan.

Bisa dibayangkan bagaimana prahara itu dirasakan penduduk Irlandia. Dalam kondisi dimana perut lapar, orang bisa berbuat apapun. Michael misalnya. Karena merasa punya tanggungjawab dalam memberi makan anak-anak hasil pernikahannya dengan Marry, Michael terpaksa mencuri. Ia mencuri jagung Trevelyan di Athenry di Galway Irlandia untuk memberi makan istri dan anaknya yang kelaparan. Celaka. Michael tertangkap basah saat mencuri. Michael pun ditangkap dan sebuah perahu disiapkan untuk membawanya ke Botany Bay, Australia. Kepada Marry, Michael mengatakan bahwa tak ada yang membahagiakan hatinya, kecuali melihat istrinya itu membesarkan anak-anak mereka dengan penuh martabat.

***

Latar inilah mengilhami seorang penulis lagu asal Dublin, Pete St. John. John menulis sebuah lagu tentang masalah sosial yang terjadi akibat kelaparan pada tahun 1970an. Judulnya, “The Fields of Athenry.” Lagu ini pertama kali direkam pada tahun 1979 oleh Danny Doyle dan menempati Irish Singles Chart. Kesuksesan terbesar lagu ini terjadi ketika Paddy Reilly mereleasenya pada 1983. Selama 72 minggu, The Fields of Athenry nongkrong di 4 besar tangga lagu tertinggi di Irlandia.

The Fields of Athenry dikenal sebagai lagu folk-ballad. Lagu rakyat Irlandia, mungkin lebih mudahnya. Cerita tentang Michael yang mencuri jagung dijadikan sebagai ilustrasi untuk menggambarkan bencana kelaparan itu. Nama Michael muncul dalam lirik The Fields of Athenry. Tapi, Michael sesungguhnya fiktif belaka. Namun, nama Trevelyan itu memang ada. Charles Edward Trevelyan adalah Sekretaris tetap Departemen Keuangan yang dijabat oleh Lord Russel.

Saat kelaparan terjadi, Trevelyan, mengatakan bahwa bencana kentang di Irlandia merefleksikan kehendak Allah yang sangat bijaksana. Ia menyesalkan karena mestinya orang Irlandia tidak hanya bertumpu pada satu jenis makanan saja. Mereka bisa hidup dari gandum atau jagung. Sayangnya, kata Trevelyan, orang Irlandia tidak cukup berpengalaman untuk melakukan hal tersebut.

The Fields of Athenry kemudian menyindir Trevelyan dengan menunjukan bahwa Michael harus diangkut karena mencuri jagung Trevelyan itu. Karena kebijakan Treveylan tersebutlah, Irlandia menganggapnya sebagai salah satu tokoh yang paling dibenci dalam sejarah mereka, bersama dengan Oliver Cromwell, yang menaklukkan negara itu pada abad 17.

Selama gelaran Sepakbola Piala Dunia tahun 1990 di Italia, pendukung tim nasional Irlandia menjadikan The Fields of Athenry sebagai lagu penyemangat pahlawan mereka di lapangan. Lagu ini juga digunakan oleh fans klub Skotlandia Glasgow Celtic kala mereka menjadi pemain ke 12.

Ada cerita menarik tentang hal ini. Pendukung klub sekota Celtic, Glasgow Rangers menganggap The Fields of Athenry sangat sektarian. Kita tahu bahwa rivalitas Rangers dan Celtic rada-rada berbau agama. Rangers adalah klubnya orang Protestan dan Celtic didukung oleh Katolik.

Tapi St. John menampik tudingan itu. “Lagu ini adalah cerita tentang potato famine di Irlandia. Sederhana saja,” ujarnya kepada koran Skotlandia Daily Records di tahun 1999.

***

PGE Arena, Gdansk, Polandia, Jumat (dini hari WIB), 15 Juni 2012.

Pertandingan Euro Cup yang menghelat duel antara Irlandia dan Spanyol sudah memasuki menit 84. Kedudukan 4-0 bagi La Furia Roja (julukan Spanyol). Fernando Torres mencetak dua gol dan David Silva serta Cesc Fabregas masing-masing menjaringkan 1 gol ke gawang Shay Given, kiper Irlandia. Matador-matador Spanyol memang menang segala-galanya. Bola mereka kuasai 62%.

Rasa-rasanya sulit bagi Robbie Kien dan kawan-kawan untuk mengejar ketertinggalan. Jangankan untuk menyamakan kedudukan, menceploskan satu gol saja ke gawang Iker Casillas rasa-rasanya mustahil. Di pinggir lapangan, Pelatih Irlandia, Giovani Trapattoni tak lagi punya cara untuk menembus pertahanan Spanyol yang digalang duet palang pintu Sergio Ramos dan Gerard Pique. Permainan Spanyol nyaris sempurna malam itu.

Tapi di tribun penonton, suporter Irlandia tak mau takluk. Mereka tak henti-hentinya membakar semangat para pemain di lapangan. Reffrain dari The Fields of Athenry mereka nyanyikan berulang-ulang. “Low lie the Fields of Athenry. Where once we watched the small free birds fly. Our love was on the wing. We had dreams and songs to sing. It’s so lonely round the Fields of Athenry”

Hingga selesai pertandingan, mereka tak berhenti bernyanyi. Bahkan pendukung Spanyol pun turut memberi tepukan tangan. Para Irish itu tetap berwajah tegak. Tetap membanggakan para pahlawan yang telah bergulat selama 90 menit. Tak ada cacian kepada Given dkk, meski mereka dipermak telak.

Meski lirik The Fields of Athenry begitu menyayat, bercerita tentang ketidakadilan di zaman yang serba sulit, tapi suporter Irlandia itu sepertinya tak ingin terpuruk meski dalam situasi buruk. Semangat yang sesungguhnya mewarisi latar belakang kehadiran The Fields of Athenry. Meski di lapangan, Irlandia kalah, tapi tribun penonton menjadi saksi kemenangan semangat para Irish melalui The Fields of Athenry.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here