Pecinan Semarang Dalam Bingkai

0
50
Suasana diskusi ‘Pecinan Semarang Dalam Fiksi dan Fakta’

Suasana diskusi  ‘Pecinan Semarang Dalam Fiksi dan Fakta’
Suasana diskusi ‘Pecinan Semarang Dalam Fiksi dan Fakta’
[Semarang –elsaonline.com] Sebanyak dua buku berjudul ‘Pecinan Semarang: Sepenggal Kisah, Sebuah Perjalanan’ (2013) dan buku berjudul ‘Kancing yang Terlepas’ (2013) dikupas dalam diskusi ‘Pecinan Semarang Dalam Fiksi dan Fakta’ di Pusat Budaya Widya Mitra Jalan Singosari II No 12 Semarang, Sabtu (24/5) siang. Dua buku yang bersetting Pecinan Semarang tersebut merupakan dokumentasi jejak-jejak tradisi khas peranakan Tionghoa yang tetap tidak kehilangan pesonanya. Kedua buku tersebut diulas apik nan menarik oleh Peneliti Representasi orang Tionghoa dalam Sastra Belanda Kolonial, Widjajanti Dharmowijono.

Menurut penulis buku ‘Pecinan Semarang: Sepenggal Kisah, Sebuah Perjalanan’, Anastasia Dwirahmi, menuturkan, buku ini sebetulnya tidak direncankan untuk diterbitkan karena hanya skripsi di Jurusan Desain Komunikasi Visual. “Namun, saat mengikuti pameran seni dan desain fotografi ada pengunjung yang terkesan dengan Semarang. Pokoknya DKV banget,” ungkap Ami, sapaan akrabnya.

Sementara bagi Handry TM, penulis buku ‘Kancing yang Terlepas’ (KYT), mengatakan, novel ini bercerita tentang perempuan, politik dan kekuasaan di sebuah kampung bernama Gang Pinggir. Menurutnya, cerita tersebut muncul akhir 2009 dan selesai pada tahun 2012. “Jadi, ini novel terpanjang saya. Judulnya pun sudah yang kesekian. Karena tidak sekadar nama judul sehingga itu memang ada kiasan,” ujar pria yang pernah menjadi jurnalis selama 23 ini.

Adapun bagi Widjajanti Dharmowijono, menilai bahwa buku ‘Pecinan Semarang’ ini dibuat penuh cinta. Ia mengungkapkan, buku tersebut strukturnya terencana, pembagian dalam bab sesuai struktur pecinan dan yang tergambar dalam peta jelas dan menarik. “Jadi, kesan pertama sudah Cina karena warnanya dan gambar lingkarannya. Buku ini dibuat penuh cinta, yang hendak ditularkan kepada pembaca,” terang dia.

Kendati demikian, pihaknya mempertanyakan urutan yang menuntun pembaca dari kerajinan ukiran bongpay di ujung Gang Gambiran ke Petudungan. Lalu, sambung dia, jauh lagi ke Sebandaran tempat keluarga Tan, Hwie Wie Kiong. “Mungkin kita diharapkan jalan kaki blusukan di Pecinan lalu naik mobil ke tempat jauh. Tempat yang disebut boleh dibilang lengkap meski mungkin bisa ditambahkan pula rumah pembuat Kecap Mirama dan Rumah Kopi,” bebernya.

Untuk ‘Kancing yang Terlepas’, Widjajanti menyebut, pihaknya tidak bisa membaca buku sekadar menikmati jalan ceritanya. Ia menjelaskan, orang Belanda bilang beroepsmisvorming. “Jadi, ketika suami saya bertanya, KYT mengenai apa? Saya jawab: ‘Mengenai orang Cina yang mata duitan,” akunya.

Lebih jauh dia menambahkan, peristiwa yang terjadi pada KYT merupakan campuran antara 1965 dan 1998 bahkan juga 1740. Ia mengemukakan, ada pembakaran rumah, tidak adanya aparat keaman dan ‘pencidukan’ orang Tionghoa. “Akhir cerita KYT sangat membingungkan. Saya pikir, mungkin itulah kekuatan KYT. Kita tunggu saja lanjutannya,” tandasnya. [elsa-ol/Munif-@MunifBams]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here