Pekojan Bukti Kebersamaan dalam Keberagaman

0
110
Tetenger: Sebuah inskripsi terpasang di depan Masjid Jami Pekojan dibuat pada akhir abad Ke-18. Inskripsi itu dipercaya sebagai tetenger makam keturunan Tiongkok yang kemudian dipindah ke daerah Candi Baru.
Tetenger: Sebuah inskripsi terpasang di depan Masjid Jami Pekojan dibuat pada akhir abad Ke-18. Inskripsi itu dipercaya sebagai tetenger makam keturunan Tiongkok yang kemudian dipindah ke daerah Candi Baru.
Tetenger: Sebuah inskripsi terpasang di depan Masjid Jami Pekojan dibuat pada akhir abad Ke-18. Inskripsi itu dipercaya sebagai tetenger makam keturunan Tiongkok yang kemudian dipindah ke daerah Candi Baru.

[Semarang elsaonline.com] Ragam etnik, budaya dan agama di Kota Semarang tak membuat hidup masyarakatnya terkotak-kotak. Dalam perbedaan itu, mereka tak saling membatasi diri dengan menyalahkan perbedaan yang ada di luar dirinya.

Keharmonisan dalam bingkai perbedaan itu tercermin di Kampung sekitar Kampung Pekojan, Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah. Di Jalan Petolongan terdapat sebuah masjid bersejarah panjang dalam penyebaran Islam, yakni Madjid Pekojan.

Tak jauh dari masjid itu, ujung Jalan Pekojan, terdapat juga Gereja yang cukup besar. Dari Jalan Pekojan ke kanan, menyusuri Kali Semarang, sekira 50 meter dijumpai Klenteng Tau Kak Sie. Sementara dari dari Jalan Pekojan ke kiri dijummpai Gereja Gereja Katolik St Fransiskus Xaverus Kebondalem.

Daerah ini masuk dalam kawasan Pecinan (tempat bermukim keturunan Cina-red). Penduduk di Pecinan sangat beragam, ada etnis Koja (Gujarat), China, Melayu, Eropa dan penduduk asli Jawa. Namun mereka yang berbeda itu tak saling menyalahkan dan merasa benar sendiri.

Ketua Takmir Masjid Jami’ Pekojan Ali Baharu menyampaikan, sejak turun temurun penduduk sekitar sangat harmonis. Meskipun etnik, budaya dan agama penduduknya berbeda-beda namun tetap bersama. Antara satu dengan lainnya tak saling mengganggu.

”Sejak dulu, nenek moyang hingga kami hidup berdampingan dalam perbedaan. Kami tak merasa ada yang perlu disalahkan dari keyakinan orang lain atau agama lain,” kata Ali Baharu saat ditemui di toko buku miliknya yang ada di pertigaan Jalan Petolongan dan Jalan Pekojan, Rabu (26/3/14).

Dia menunjukan beberapa tempat ibadah yang jaraknya berdekatan dengan Masjid Pekojan. Ada mushola, gereja, dan klenteng. Masyarakat yang hampir semua berdagang itu saling berkesinambungan.

Tatkala waktu salat tiba, mereka yang Muslim dan bekerja di toko milik non-Muslim, diberikan waktu istirahat untuk menjalankan ibadah dengan waktu yang tumaninah. ”Disini antara agama satu dengan lainnya saling menghargai. Kalau waktu salat yang Muslim diberikan waktu utuk ibadah,” imbuhnya.

Seorang warga keturunan Gujarat Yunan Fahlevi menambahkan, di sekitar Kampung Pekojan dan Bubakan dulunya merupakan makam. Jalan Petolongan merupakan batas antara makam keturunan Tiongkok dan orang Jawa yang bercampur dengan Keturunan dari India.

”Hingga saat ini tetengernya masih ada. Konon dulu dari masjid Pekojan ke utara hingga kawasan Bubakan makam orang Jawa dan sebagian keturunan Gujarat. Kemudian dari Jalan Petolongan ke selatan merupakan makam keturunan orang China,” ujarnya.

Tulisan Abjad Tiongkok

Perbatasan itu diberi tanda dengan sebuah inskripsi bertuliskan abjad Tiongkok. Inskripsi itu menempel pada tembok rumah di ujung barat Jalan Petolongan Semarang. Sepertinya, inskripsi itu ditulis di batu persegi panjang dengan dipasang tegak di salah satu rumah milik keturunan Tiongkok.

Batu itu berukuran sekitar 60 sentimter x 10 sentimeter. Batu itu dicat merah khas warna Klenteng dan tulisannya berwana kuning emas. ”Tetenger itu tak akan dihilangkan karena mempunyai arti dan sejarah yang sangat bermakna. Tulisan wartawan Suara Merdeka.com Rukardi pada 18 Maret 2008 mejelaskan bahwa tetenger itu ada kaitannya dengan pemindahan makam keturunan Tionghoa dari Pekojan ke daerah Candi Baru.

Rukardi menjelaskan, tetenger itu kurang lebih bertuliskan ’’Lam boe o mie too hoet kian an’’. Dilihat dari struktur kalimatnya, tulisan itu jelas sebuah mantra Buddha yang terjemahan bebasnya kurang lebih ”Menyempurnakan arwah yang telah meninggal.”

Menurut pemerhati sejarah Semarang Jongkie Tio, inskripsi yang terpasang tepat di depan Masjid Jami Pekojan itu dibuat oleh warga Pecinan pada akhir abad Ke-18. Ia menengarai peristiwa pemindahan makam Tionghoa dari Kawasan Petolongan ke Perbukitan Candi Baru.

’’Tahun 1797, Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) membuka kawasan tersebut sebagai permukiman. Mereka ingin membuat daerah di sekitar Benteng Kota Lama yang terkesan angker dan banyak begalnya itu, menjadi ramai. Maka, kuburan di tengah hutan tersebut harus dipindahkan,’’ jelas Jongkie, seperti ditulis Rukardi. [elsa-ol/Cep-@Ceprudin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here