“Pelita” Yang Jadi Pelita Bagi Kelompok Minoritas

0
71
Melakukan Pendampingan: Pemuda-pemuda yang tergabung dalam Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang duduk bersama saat melakukan pengamanan Peringatan Asyuro bersama aparat kepolisian di Semarang beberapa waktu lalu. Foto: Istimewa
Melakukan Pendampingan: Pemuda-pemuda yang tergabung dalam Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang duduk bersama saat melakukan pengamanan Peringatan Asyuro bersama aparat kepolisian di Semarang beberapa waktu lalu. Foto: Istimewa

Semarang-elsaonline.com Zaman yang ingar-bingar ini, tak banyak orang yang bersedia menjadi pembela kelompok minoritas. Namanya kelompok minoritas, ya sudah pasti secara kuantitas sedikit jumlahnya.

Karenanya, secara (suara) politik tidak terlalu menguntungkan bagi para politikus. Wajar jika para pengabdi tahta dan kuasa tak begitu peduli dengan nasib kelompok rentan diskriminasi ini.

Pada intinya, zaman sekarang mah susah mencari orang yang bisa menjadi pelita untuk sesama. Bisa menjadi penerang dan pelindung bagi kelompok yang tertindas. Baik tertindas secara agama, ras, suku, golongan serta pilihan politik.

Namun di Kota Semarang, ada sekelompok pemuda dengan sebutan “Pelita” yang mau bersedia menjadi pelita bagi kelompok yang tak berdaya. Kelompok ini dikenal dengan Persaudaraan Lintas Agama (Pelita). Kelompok yang belum lama berdiri ini dikoordinatori bujang tampan bernama Setyawan Budi.

Pada mulanya, kelompok ini merupakan beberapa elemen masyarakat sipil yang mendukung gelaran buka bersama ibu Sinta Nuriyah Wahid di sebuah gereja di Kabupaten Semarang.

Namun, rencana buka bersama istri almarhum maghfurllah KH Abdurrahman Wahid, akrab disapa Gus Dur, ini harus dipindah tempat. Pasalnya, ada penolakan dari ormas tertentu yang menilai tempat buka bersama di gereja tidak tepat.

Wal hasil, buka bersama ibu Sinta Nuriyah dipindah dan tidak jadi di gereja. Atas kejadian ini, beberapa elemen masyarakat sipil pendukung toleransi dan demokrasi ini bersatu. Kebetulan, kawan-kawan aktifis pro toleransi ini beragam latar belakang agama dan kepercayaannya.

Ada dari uncur Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong Hu Chu, serta Penganut Kepercayaan. Selain beragam keyakinan, para pemuda yang biasanya punya kuota paketan internet terbatas ini juga beragam latar belakang aktifitasnya.
Ada dari akademisi, jurnalis, aktifis kemanusiaan, pendeta, kiai, romo, tokoh agama dan masyarakat. Intinya beragam lah ya.

Jadi ‘Bemper’

Mereka-mereka inilah yang bersedia menjadi ‘bemper’ kelompok minoritas saat akan dilanggar hak asasinya. Mereka bersedia menjadi garda terdepan untuk melindungi kelompok yang tak berdaya.

Pada masa kini, siapa sih yang bersedia membela mati-matian kelompok Syiah, Ahmadiyah, korban penolakan pembangunan rumah ibadah, korban tragedi 1965, kelompok penganut kepercayaan, serta korban perampasan tanah secara sewenang-wenang?

Pemerintah? Anda masih berharap uluran tangan dari pemerintah dalam kasus-kasus yang menimpa kelompok di atas? Tidak salah sih jika masih berharap. Tapi harapan itu jangan terlalu tinggi. Mundak tibone luooroo.. (nanti jatuhnya sakit).

Jadi, berharap boleh pada pemerintah, mungkin juga kan suatu saat nanti tiba waktunya akan membela Ahmadiyah, korban tragedi 65 tanpa canggung dan kepura-puraan. Mudah-mudahan.

Yang berjuang tanpa kepura-puraan itulah ada pada jiwa perjuangan Pelita. Kelompok apa saja, yang sekira hak asasi dan hak konstitusionalnya terlanggar, mereka akan bela mati-matian. Meskipun dalam kondisi perut lapar, mereka tak patah arang. Selalu ada semangat menyala untuk menegakkan keadilan.

Jangankan kelompok-kelompok di atas yang jelas ’waras’, Pelita yang diwakili Yunantyo Adi S juga membela mati-matian korban salah tembat terduga teroris yang tentunya mati sebelum diadili. Untuk menegakkan keadilan mereka tak pandang bulu. Mereka tanpa melihat apa identitasnya, tapi Pelita hanya melihat sebetas apa hak asasinya dilanggar.

Sejak dibentuknya pada pertengahan 2016 lalu, banyak yang telah dilakukan Pelita untuk upaya memanusiakan manusia. Salah satunya, perjuangan rutin tahunan membela kelompok Syiah yang akan diserang kelompok intoleran.

Mengamankan Peringatakan Asyuro

Pada tahun 2016, kelompok ini berhasil menggagalkan ”gerudukan” ratusan kelompok intoleran untuk menggagalkan peringatan Asyuro (Syiah) di Kota Semarang. Begitu pun tahun 2017 ini, para pemuda ini berhasil mengamankan peringatan Asyuro. Tentunya dengan kerjasama bersama aparat kepolisian.

Ratusan massa yang menamakan diri sebagai anti Syiah dan PKI serta tolak Perpu Ormas ini pada mulanya berusaha menggagalkan acara peringatan Asyuro di Hotel UTC Semarang. Massa sempat menggelar sholat jamaah di tengah jalan.

Namun aparat kepolisian beserta Pelita tidak terpancing. Dan akhirnya, acara peringatan Asyuro berjalan lancar. Selain kasus-kasus di atas, Pelita juga aktif mendampingi kelompok korban 65’, Jemaat Ahmaditah, dan membela para petani di Pegunungan Kendeng, Rembang.

Setiap mengadakan aksi di tingkat Jawa Tengah, Peliat selalu menyediakan logistik secara patungan. Tentu uang receh yang didapat. Namun cukup untuk modal berjuang menuntut keadilan.

Bukan hanya aksi ‘’mengobati”, Pelita juga banyak melakukan aksi pencegahan. Melalui diskusi-diskusi sederhana, mereka membahas langkah-langkah aksi supaya kasus-kasus diskriminasi, intoleransi, perampasan hak sewenang-wenang itu tidak terus terjadi.

Mereka melakukan langkah prepentif supaya ketidakadilan terus langgeng. Intinya, masih ada harapan pada pemuda-pemuda di Pelita. Mereka bersedia menjadi pelita bagi sesama membutuhkan.

Mereka tak takut reputasinya di cap ‘ini itu’, mereka juga tak takut dikatakan Syiah, hanya karena membela hak jemaat Syiah, mereka tak takut dikatakan PKI, hanya karena membela korban tragedi 65. Tetap semangat Pelita! [Ceprudin/04/elsaonline]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here