Pendidikan Toleransi dari SDN Sumogawe 3

1
164

[Getasan – elsaonline.com] Langit berawan memayungi Sumogawe, sebuah desa kecil di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Meski terik mentari begitu kuat memancar, tapi udara sejuk khas pegunungan mampu mengimbanginya. Tepat di ujung desa sebelum masuk Desa Getasan, ada sebuah Sekolah Dasar (SD) tepat berada di pinggir jalan. Dilihat dari luar, tak ada yang istimewa. SD Negeri Sumogawe 3, nama sekolah itu, adalah tempat bagi kurang lebih 160an anak menimba ilmu tingkat dasar.

Meski tampak tidak ada yang istimewa, tapi lingkungan sekitar sekolah tersebut terhitung istimewa. Disamping kanan sekolah, ada dua buah rumah ibadah, Wihara dan Gereja. Diseberang jalannya ada mushola. Mushola itu berhimpit dengan Gedung Sekretariat Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Sudah bisa ditebak, bahwa masyarakat di sekitar SD itu berasal dari latar belakang agama yang beragam, Islam, Kristen, Buddha dan Katolik.

Lingkungan sosial yang beragam itulah yang juga dijumpai di SDN Sumogawe 3. Anak-anak yang bersekolah di SD itu, juga berasal dari latar belakang agama yang berbeda. Bahkan perbedaan kuantitasnya tidak berbeda jauh. Karenanya, SD ini berkesempatan untuk menanamkan wawasan tentang keberagaman, toleransi antar umat beragama dan keyakinan sejak dini.

SDN Sumogawe 3 ini bisa memahatkan sinar kebersamaan sejak mereka di sekolah dasar, bukan dicekoki dengan rasa kebencian terhadap penganut agama lain. Diakui atau tidak, maraknya aksi terorisme di Indonesia didominasi oleh kelompok muda, yang usianya masih tergolong muda, bahkan ada yang masih berusia belasan tahun. Dari maraknya kasus-kasus terorisme yang didominasi oleh anak muda, nampaknya menjadi pekerjaan yang sangat urgen bagi para praktisi pendidikan ditingkat dasar untuk terus menggelorakan pemahaman tentang pentingnya wawasan kerukunan antar umat beragama dan keyakinan. Karena jika pemahaman tentang keberagaman diterapkan sejak dini, akan meminimalisir aksi-aksi intoleransi bahkan kekerasan antar umat beragama.

Murid-murid SDN Sumogawe 3
Murid-murid SDN Sumogawe 3

Karena komposisi siswa yang sangat beragam, SD ini menerapkan benar-benar wawasan keberagaman terhadap anak didik mereka. SD Sumogawe terbilang cukup revolusioner, dimana dalam satu sekolah sudah dibuatkan 3 bangunan tempat belajar masing-masing agama. Tiga bangunan itu berupa Mushola (tempat belajar dan praktek ibadah siswa-siswa yang beragama Islam), Cetiya (Budha) dan Kapel (Kristen dan Katolik). Ketiga bangunan ini berdiri persis berdampingan, berjejer rapat. Patut diacungi jempol, para guru di SD Sumogawe 3 ini benar-benar menerapkan pemahaman keberagamanya dalam keseharianya sebagai seorang guru.

Bangunan tempat belajar 3 agama ini, sebenarnya mulai dirintis pada tahun 2010. Namun baru bisa diresmikan pada tahun 2011 kemarin. Latar belakangnya adalah keprihatinan dalam sistem pengajaran terhadap anak-anak, terutama dalam pendidikan agama. Para guru agama yang berjumlah 3 orang itu mencoba mengambil terobosan yang baru dengan menyediakan 3 tempat pembelajaran masing-masing agama.

Keperihatinan itu dialami langsung saat pembelajaran oleh para guru agama. Pada waktu proses belajar mengajar, siswa sering dibingungkan dengan para guru agama. Saat jam pelajaran agama tiba, dalam satu ruangan ada tiga guru agama yang berbeda, sehingga menjadikan pembelajaran tidak kondusif. Saat proses belajar mengajar, masing-masing guru agama menjelaskan pelajaran agama secara bergantian kepada murid-muridnya. Siswa kerap tidak fokus pada pelajaran.

Awalnya, ketika ada pelajaran agama, yang tersedia baru ruangan untuk pengajaran agama Islam saja. “Kemudian berangkat dari keprihatinan ini dirintislah pembelajaran tiga agama, sekaligus bangunannya. Pembangunan tiga tempat belajar agama ini dimaksudkan agar anak dalam belajar agama tidak hanya sebatas belajar teori semata, namun harus dengan praktek. Sedangkan jika praktek itu kan harus dalam ruangan agama masing-masing. Dan itu harus didasarkan atas kenyamanan,” terang Budiyanto, Kepala Sekolah SDN 3 Sumogawe. Apa yang diungkapkan oleh kepala sekolah, diamini oleh ketiga guru agama di sekolahan tersebut.

Lasino, guru Agama Buddha menceritakan awal mula ketika tiga bangunan itu dirintis. Ia mengaku, punya gagasan seperti ini karena terinspirasi oleh rekannya yang mengajar di Kabupaten Temanggung Jawa, Jawa Tengah. Diceritakannya, bahwa di Temanggung sudah ada terlebih dahulu sekolah yang menerapkan pembelajaran yang fasilitasnya tidak hanya untuk satu agama. “Awalnya kami punya ide seperti ini karena teman saya yang mengajar di Temanggung, dimana disana ada sekolah yang membuat Cetiya. Cetiya merupakan tempat pembelajaran dan ibadah agama Buddha dengan ukuran yang sederhana,” paparnya.

Lasino, Guru Agama Buddha Sedang Mengajar Murid-murdinya
Lasino, Guru Agama Buddha Sedang Mengajar Murid-murdinya

Sejalan dengan Lasino, Siti Nur Aini, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) menambahkan bahwa pembuatan tiga tempat pembelajaran agama itu didasari dengan semangat kebersamaan. “Awalnya memang Islam yang membuat Mushola pada tahun 2010, kemudian pada 2011 awal dirintislah 2 bangunan lagi. Pada waktu itu kepala sekolah masih dijabat oleh Bu Mugiharti. Dimana beliau mengusulkan dan mendukung dengan sangat kuat agar dibuatkan ruangan untuk pembelajaran tiga agama,” tutur Nur Aini. Sebagai guru mata pelajaran PAI, Nur Aini mengaku dalam memberikan materi pelajaran juga selalu menyisipkan wawasan-wawasan tentang keberagaman. “Kami juga selalu memberi masukan kepada anak-anak agar rukun dengan semua agama. Karena di lingkungan Sumogawe sangat beragam,” lanjut Aini.

Pembicaraan antar ketiga guru agama itu menjadi menarik, karena satu dan lainnya seolah saling menguatkan. Lasino mengatakan bahwa dalam proses belajar mengajar, mereka kerap mengadakan acara secara bersamaan. Meskipun itu memperingati hari besar salah satu agama. Selain belajar tentang mata pelajaran sesuai kurikulum, para guru SD Sumogawe 3 juga kerap mengadakan acara ekstra kurikuler lintas agama. “Kami memang mengajar fokus pada kurikulum. Tapi disamping itu kami juga mengajarkan kepada siswa-siswa kami agar bisa hidup berdampingan dengan agama yang lain. Salah satunya dengan mengadakan pesantren kilat bersama untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan bisa saling menghargai,” tambah Lasino. Saat pesantren kilat, siswa Muslim memperdalam ajaran Islamnya, yang Buddha tentu mendalami ajaran Buddhanya. Begitu juga yang Kristen dan Katolik. Hasilnya, para siswa untuk saat ini masing sangat mengharai keberagaman. Tidak hanya antar sesama siswa, melainkan kepada guru mereka juga sangat sopan.

Perlakuan terhadap guru yang tidak seagama juga sangat baik. “Perlakuan siswa juga sangat baik sekali terhadap guru. Contoh ada siswa yang sudah keluar dan itu masih menghormati saya dengan cara Buddha, dengan anjali” tambah lagi Lasino.

Dalam kesempatan pembicaraan terakhir, Sunaryo Yunianto guru agama Kristen menambahkan hal yang seirama. “Pertama saya ingin luruskan bahwa bangunan itu bukan tempat ibadah, seperti halnya yang diberitakan di media. Namun itu merupakan ruangan pembelajaran agama. Kami sudah di dukung oleh masyarakat. Masyarakat disini juga sangat rukun. Hal ini juga ditopang oleh wali murid yang juga mempunyai wawasan keberagama. Kami juga menekankan kepada siswa kalau agama itu urusan pribadi kepada siswa. Pemahaman demikian agar para siswa tidak menjadi fanatik dalam beragama. Jika di rumah sudah dibekali dengan wawasan keberagaman, di masyarakat juga dibangun wawasan keberagaman” ungkap Sunaryo panjang lebar.

Dalam substansi yang disampaikan ketiga guru agama tersebut juga sangat menekankan kepada siswa agar tetap saling menghargai antar sesama. “Dalam hal pengajaran kami juga tidak membolehkan siswa hanya memahami hanya satu dogma agama. Dalam Kristen dan Katolik contohnya, jika puji-pujian kan berbeda, dari itu kita menggunakan pujian “Kidung Ceria” yang sudah disahkan oleh Dirjen. Hal ini dikarenakan untuk mempersatukan para siswa dalam belajar” tambah Sunaryo.

Memang selama ini siswa Katolik masih mengikuti pelajaran agama Kristen. “Tapi ketika berdoa kita berikan kebebasan untuk berdoa dengan keyakinan masing-masing. Jika untuk ujian saat ini yang Katolik masih masih menginduk kepada kristen,” lanjut Sunaryo. Diceritkan guru agama Islam, Nur Aini, bahwa siswa-siswa kerap melakukan aktifitas keagamaan bersama. “Pada saat kegiatan agama, misalkan pada waktu menjelang ujian kita juga mengadakan doa bersama. dalam peringatan halal-bihalal juga diadakan kegiatan bersama. Pada saat Idul Adha kemarin juga kami menyembelih hewan kurban bersama. Daging kurban kita makan bersama dengan para siswa tanpa memandang agamanya apa,” pungkasnya.

Inilah potret keharmonisan yang dibangun di SD 3 Sumogawe. Para siswa sejak dini ditanamkan rasa toleransi antar umat beragama. Sehingga mereka tidak fanatik terhadap satu agama semata. Siswa akhirnya mempunyai pandangan yang luas tentang keberagaman. Sehingga tidak turut terjebak dalam kejumudan sempit salah satu agama. [elsa-ol/T-Kh dan Ceprudin]

 

*Dengan sedikit penambahan, liputan ini pernah dimuat di Majalah Harmonia, FKUB Jawa Tengah

1 COMMENT

  1. Terima kasih, telah berkenan mewartakan kerukunan, kebersamaan, persaudaraan yang berusaha kami bangkitkan, kami kembangkan di SDN Sumogawe 03.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here