Penolak Pabrik Semen Rembang Bukan Warga Samin

0
175
Budi Santoso (tengah) mendedah sejarah perkembangan Sedulur Sikep di Kudus dalam sarasehan Sedulur Sikep di Blora, Minggu (31/5). [Foto: Salam]

[Semarang –elsaonline.com] Beredarnya film Samin vs Semen yang berisi tentang penolakan pabrik semen di Kabupaten Rembang memberi pemahaman kepada banyak orang bahwa yang menolak pembangunan pabrik yang menjadi pro kontra itu adalah warga Sedulur Sikep atau biasa disebut dengan Samin.

Menurut sesepuh penganut agama Samin Kabupaten Kudus, Budi Santoso, pelibatan nama Samin dalam aksi penolakan pabrik semen sangat merugikan warga Samin. Pasalnya, terlepas dari pro dan kontra pembangunan tersebut, potret penganut samin yang ditayangkan dalam film tersebut sangat kontras dengan keadaan warga Samin yang sebenarnya. “Dalam film digambarkan perempuan Samin memakai kerudung, padahal tidak. Samin itu punya pakaian sendiri,” katanya kepada elsaonline.com, Jumat (14/8).

Sebab dicatutnya nama Samin dalam film video tersebut, Budi Santoso pernah didatangi sejumlah anak muda muslim yang meminta supaya wanita-wanita berjilbab yang ditayangkan dalam film kampanye penolakan pabrik semen itu dihapus. “Anak-anak muda muslim Rembang datang kepada saya, katanya itu yang berjilbab bukan Samin,” jelasnya.

Berkaitan dengan sikap Sedulur Sikep sendiri terhadap pembangunan pabrik semen, Budi tidak ingin terlibat dalam pendapat yang menyetujui atau menolak. Budi hanya meminta supaya gerakan penolakan pabrik semen itu jangan melibatkan nama Samin. “Samin itu agama, jadi jangan dibawa-bawa dalam aksi itu. Orang Samin tidak suka demo, tapi kenapa yang demo-demo itu mengatasnamakan Samin? Itu sebenarnya bukan warga Samin. Kita (warga Samin, red) tidak pernah musyawarah untuk menolak atau menyetujui pembangunan pabrik semen,” jelasnya.

Kendati demikian, Budi mengakui bahwa di antara orang yang menolak pembangunan pabrik semen ada yang dari Sedulur Sikep, tapi itu hanya satu keluarga. “Orang Samin memang ada yang terlibat, tapi itu hanya satu orang dan keluarganya. Itu Sedulur Sikep Pati. Jadi tidak bisa diatasnamakan Samin. Mengatasnamakan Samin dalam penolakan, apalagi dibikin film, itu sangat merugikan kami (warga Samin, red),” tuturnya. [elsa-ol/KA-@khoirulanwar_88/001]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here