“Pesantren” Katolik, Jalan Panjang Menjadi Imam dan Cerita Para Suster

0
1004

Oleh: Tedi Kholiludin

Selasa (29/5), Romo Eduardus Didik Didik Cahyono SJ mengajak saya dan Mas Setyawan Budi ikut mengisi acara di Susteran Paroki Gereja Katolik Purworejo. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Susteran di wilayah Purworejo, Kebumen dan Wonosobo itu dihadiri oleh kurang lebih 60 orang yang terdiri dari Bruder, Suster, Romo dan Frater dari tiga kabupaten dibawah Keuskupan Purwokerto.

Kegiatan direncanakan berlangsung pukul 10, sementara kami berangkat dari Semarang pukul 05.00. Masih cukup banyak waktu tersedia karena perjalanan hingga ke lokasi hanya membutuhkan kurang lebih 3 jam saja. Romo Didik menawarkan kepada kami untuk mampir ke Seminari Mertoyudan Magelang, tempatnya dulu bersekolah. Meski sering melewatinya saat hendak bepergian ke Yogyakarta, tetapi belum sekalipun saya menginjakkan kaki disana. Makanya, tawaran Romo langsung saya iyakan.

Seminari, atau lebih tepatnya Sekolah Menengah Atas Seminari merupakan level pendidikan setingkat SMA yang dikhususkan bagi para calon imam. Sebelum masuk, ada satu tahun kelas persiapan, sehingga butuh 4 tahun hingga lulus dari SMA ini. Tidak semuanya lulus. Kata Romo Didik, kalau kelas persiapan itu ada sekitar 50 siswa misalnya, hingga lulus itu bisa saja tinggal separuhnya.

Semua siswa disana diasramakan, persis seperti pesantren. Semua pekerjaaan mereka lakukan sendiri, kecuali masak. Fasilitas untuk olahraga, teater, ranjang (lengkap dengan tingginya) dan lain sebagainya tersedia lengkap. Biayanya tentu saja tidak terlalu besar.

Menjadi imam ternyata bukan perjalanan spiritual yang enteng. Kalau memakai istilah naik kelas, dari kelas persiapan menuju kelas 1 SMA saja belum tentu bisa naik kelas. Mereka mengistilahkannya dengan melamar. Setahun setelah kelas persiapan mereka diberikan kesempatan untuk melamar kelas 1 atau kelas 10 SMA. Proses ini belum tentu disetujui, karena banyak juga seminaris yang akhirnya tidak lolos. Setelah itu mereka kemudian mengikuti pendidikan calon imam di level kampus atau universitas dan kurang lebih butuh 10-12 tahun bahkan lebih sampai kemudian ditahbiskan menjadi imam.

Betapa panjangnya jalan yang harus ditapaki seseorang sebelum kemudian memiliki otoritas berbicara tentang iman Katolik di hadapan umum. Ia tidak hadir tiba-tiba, namun hadir sebagai hasil dari sebuah proses panjang serta juga ada pengakuan umat didalamnya. Karena seperti cerita Romo Didik, beberapa bulan sebelum penahbisan, nama-nama calon imam diumumkan di paroki-paroki. Jika ada umat yang tahu bahwa latar belakang calon imam itu kurang baik misalnya, maka informasi yang valid itu bisa saja menggugurkan proses penahbisan.

Dalam perjalanan Magelang-Purworejo, saya merenung tentang kondisi terkini umat Islam. Ada banyak orang yang tiba-tiba tampil di hadapan publik, padahal tidak memiliki kapasitas untuk berbicara agama. Tidak terdengar pernah mengaji pada siapa, belajar agama dimana namun kemudian tampil garang dengan menganggap sesat ini dan itu. Celakanya, yang model begini punya ruang leluasa di media-media.

***

Kami bertiga berbicara bergantian. Romo Didik melihat bagaimana politik dalam tradisi Iman Katolik, sementara Mas Setiawan Budi berbicara pada ranah praksis dalam membangun hubungan dialogis diantara kelompok keagamaan yang berbeda di Semarang. Saya kemudian mendedah potensi konflik dalam momen-momen politik laiknya Pilkada dan bagaimana simbol agama berpeluang besar dikapitalisasi.

Karena saya mengenakan peci dan sarung, para peserta lebih mudah mengenali sebagai seorang muslim. Tidak ada materi istimewa yang saya sampaikan, karena beberapa minggu sebelumnya saya juga menyampaikan hal yang sama pada kegiatan yang kurang lebih sama temanya di Gereja Kristen Indonesia Sinode Wilayah Jawa Tengah, Magelang.

Yang menarik adalah respon mereka. Salah seorang suster bertanya tentang anatomi Islam yang sedemikian banyak sehingga sulit sekali membedakannya. Saya memakluminya, dan tidak mudah juga untuk menjelaskan hal ini dalam ruang yang sependek itu. Waktu diskusi selesai sekitar pukul 13.00.

Setelah menyantap makan siang, salah satu suster menghampiri saya. Ia bercerita banyak hal, termasuk hal yang personal. Ia lahir dari keluarga besar di kampungnya, Wonosobo. Ia anak tertua dari delapan bersaudara. Ayahnya seorang Kejawen dan ibunya Katolik. Empat orang saudaranya Katolik, dua Muslim, dan 1 orang Kristen dan Hindu. Mereka hidup rukun sebagai saudara. Bahkan salah seorang adiknya yang muslim itu haji. Saat Hari Raya Idul Fitri, adiknya tersebut pergi menunaikan Sholat Id, sementara dirinya tinggal di rumah dan memasak untuk keluarga adiknya. Begitu harmonisnya mereka berbagi peran dalam latar belakang keluarga yang beragam.

Suster lain mengajukan pertanyaan yang tak saya duga. “Mas, mengapa kok ada orang Islam yang tidak mau diajak bersalaman dengan lawan jenis?” Saya garuk-garuk kepala.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here