Peter Carey: Perlu Sejarah yang Sehat tentang Diponegoro

0
255
Peter Carey (memegang mik) sedang menyampaikan materi tentang perjalan hidup Pangeran Diponegoro. [Foto: Munif]

Peter Carey (memegang mik) sedang menyampaikan materi tentang perjalan hidup Pangeran Diponegoro. [Foto: Munif]
Peter Carey (memegang mik) sedang menyampaikan materi tentang perjalan hidup Pangeran Diponegoro. [Foto: Munif]
[Semarang –elsaonline.com] Saya pikir, orang Indonesia harus menciptakan suatu sejarah yang sehat mengenai Diponegoro. Jangan sekali-kali menyandera Diponegoro hanya sebagai milik golongan Islam, kaum santri dan nasionalis. Caranya, bebaskan semua orang menulis apapun tentang Diponegoro, baik itu sisi kemanusiaan, militer, kesatria, patriot maupun sisi mistiknya. Semua ini harus dibedah.

Pandangan demikian ditegaskan Peter Brian Ramsey Carey, selaku penulis buku ‘Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855’, Sabtu (4/7) sore. Buku setebal 453 halaman ini dibedah di ruang rapat Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Gedung Mikael lantai 3 Kampus Unika Soegijapranata Jalan Pawiyatan Duwur, Semarang.

Pria kelahiran Rangoon, Myanmar, 30 April 1948, ini, menjelaskan, sosok legendaris itu lahir di Keraton Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785 dengan nama Bendoro Raden Mas Mustahar. Menurut dia, ayahnya adalah putra sulung Sultan Hamengku Buwono II dari permaisuri Ratu Kedaton. Adapun kakek buyutnya ialah Sultan Mangkubumi, pendiri Kesultanan Yogyakarta yang bergelar Hamengku Buwono I (bertakhta 1749-1792). “Dari garis keturunan ini, semestinya membuat Sang Pangeran berhak atas takhta Kerajaan tapi dia memilih menjadi penasehat bagi keponakannya yang diangkat menjadi Raja Hamengku Buwono III hingga V,” ujarnya.

Selain itu, dia menyampaikan, Pangeran Diponegoro juga merupakan korban intervensi bangsa asing pada abad ke-19. Diungkapkan, dia memberontak terhadap Belanda karena kebijakan Daendels dianggap merendahkan kasultanan Yogyakarta dan rakyatnya. Pada zaman itu, Daendels dibawah kekuasaan Napoleon Bonaperte di Perancis yang akhirnya diganti adik Napoleon, Raja Louis Bonaparte. “Dan pada zaman itu pula di Keraton banyak intrik politik dari dalam maupun luar,” terangnya.

Meskipun demikian, dia menyebut bahwa Jenderal De Kock, panglima perang Belanda di Perang ini, mengupayakan Sang Pangeran menyerah dengan cara diplomasi. Lantas, siasat dijalankan yang membuat Sang Pangeran bersedia datang ke perundingan di Magelang pada 28 Maret 1830. “Usai perundingan Sang Pangeran ditangkap Belanda dan hukuman segera dijatuhkan,” bebernya.

Lebih jauh, dia menambahkan, Diponegoro dan keluarga ditahan di ruang perwira dekat dengan pos jaga utama. Di samping itu, imbuh dia, Sang Pangeran juga menghabiskan waktu dengan melahap banyak bacaan dan menulis. “Setelah Sang Pangeran wafat, istri dan anak-anak Sang Pangeran meminta untuk tetap tinggal di Makassar agar tetap dekat dengan makam almarhum,” pungkasnya. [elsa-ol/Munif-@MunifBams/001]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here