PGN Minta Pemkot Semarang Selektif Terima Laporan Ormas

0
402
Mediator: Suasana Audiensi yang dipimpin Muhammad Sulton (menggerakan tangan) individu yang ditunjuk Kesbangpolinmas menjadi mediator independen. Foto: Ceprudin

Semarang, elsaonline.com – Patriot Garuda Nusantara (PGN) Jawa Tengah meminta Pemerintah Kota Semarang selektif menerima laporan dari sebuah ormas. Pemkot diharapkan tidak terlalu mudah merespon laporan ormas radikal. Hal itu supaya Semarang tak mudah dikendalikan kelompok intoleran yang hendak mengganggu kerukunan umat beragama.

”Kedepan, Pemkot Semarang harus lebih selektif, jangan mudah merespon laporan dari ormas intoleran, radikal, dan berhaluan wahabi,” tegas Ketua PGN Jateng, Mustofa Mahendra, disela audiensi antara FUIS dengan Gereja JKI HTE di Kantor Kesbangpolinmas, Kota Semarang, Jumat, 29 Desember 2017.

Audiensi itu digelar karena ada laporan dari Forum Umat Islam Semarang (FUIS) terkait bagi-bagi makanan oleh jemaat Gereja JKI Higher Than Ever (HTE). Pada 19 Desember 2017, Gereja JKI HTE membagikan bingkisan Natal di Kampung Kaliasin, Kecamatan Semarang Utara.

FUIS memprotes perayaan Natal dengan bagi-bagi makanan itu karena menganggap jemaat gereja sempat memasuki musala. Selain itu, mereka juga protes perihal undangan perayaan Natal bagi umat Muslim bagi warga sekitar.

Menjaga Kerukunan

Menanggapi itu, PGN yang diwakili Mustofa Mahendra, menegaskan pentingnya menjaga hak-hak kerukunan umat beragama. Pihaknya mendesak kepada para petugas Linmas, FKUB, serta Pemkot Semarang di tiap kecamatan untuk ikut menjaga kerukunan umat beragama.

“Okelah kalau betul ada teman gereja masuk ke masjid, tegurlah mereka. Saya sendiri yang akan menegur mereka jika hal ini terulang lagi. Tapi ketika kita berkomitmen membantu keamanan negara, tolong harga hak hidup mereka. Kita harus sama-sama melindungi di bawah payung NKRI,” tegasnya.

Dalam audiensi itu, salah satu anggota FUIS Agus Triyanto mengatakan, pihaknya mendatangi Kesbangpolimnas untuk kepentingan klarifikasi soal kegiatan JKI HTE. Klarifikasi itu berkaitan dengan bagi-bagi makanan di pemukiman Muslim dan undangan perayaan Natal bagi warga Muslim.

”Ini yang memicu kehangatan, bahkan sempat panas. Dimana berkenaan dengan kegiatan gereja, mengundang umat Islam, baik secara lisan maupun undangan. Dan pada waktu hari H nya, kami punya data dan video dan bukti yang banyak perihal umat Islam yang masuk gereja,” terang Agus.

Pemukiman Muslim

Klarifikasi dari Agus disambung anggota FUIS lainnya Sulaiman. Ia mengatakan, tempat kegiatan gereja membagikan makanan merupakan pemukiman Muslim. ”Akhirnya saya tanya, gimana ini, kami itu kaum Muslimin. Kamu kalau ingin bagi-bagi (makanan) yang seiman saja,” terang Sulaiman yang dalam perkenalan pembina ratursan TPQ di Semarang ini.

”Kalau mau bagi-bagi, kalau mau cinta anak, saya berharap sesama seimannya. Jangan pada anak-anak TPQ (Taman Pendidikan al-Qur’an). Saya hanya bicara seperti itu. Tapi orang yang bagi-bagi jajanana itu tetap masih. Akhirnya sopirnya saya ajak bicara, saya harapkan untuk pindahlah, jangan disini (bagi-bagi makanannya),” lanjut Sulaiman.

Perwakilan Gereja JKI HTE, Hasto, yang hadir pada audiensi ini menjelaskan, pihak gereja benar pada 19 Desember mengadakan kegiatan bagi-bagi makanan. Namun, pihaknya hanya sebatas berbagi.

”Ya kami hanya kegiatan memberkati saja. Memberkati itu artinya bagi-bagi bingkisan. Kita itu beramal lah. Tidak ada unsur religiusnya. Ya istilahnya kita kan berbagi kebahagiaan. Jadi kita ini salah paham di istilah saja. Jika betul ada jamaah kami yang ternyata di lapangan, saat membagikan makanan memasuki masjid, kami mohon maaf,” katanya.

Mendoakan Orang Sakit

”Berkaitan dengan adanya doa, yang waktu itu saya ingat adalah kita mendoakan orang sakit. Mendoakan orang sakit dan kebetulan atas permintaan jemaat kita yang memang sakit waktu itu. Terus minta didoakan pas waktu ada acara itu. Sekalian berdoan untuk itu supaya sembuh,” sambung Hasto.

Pada audiensi itu Muhammad Sulton merupakan individu yang ditunjuk Kesbangpolinmas untuk menjadi mediator independen. Audiensi itu disaksikan pihak Polrestabes Semarang, FKUB Kota Semarang, dan Perangkat Kesbangpolimnas Kota Semarang.

Berkaitan dengan pemberitaan audiensi ini, pada mulanya Kepala Kesbangpolimnas Kota Semarang Isdiyanto meminta kepada awak media untuk tidak ada yang memberitakan. Namun, sejauh penelusuran elsaonline, hingga Senin 1 Januari ada tiga portal media online yang memberitakan. [Cep/003]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here