“Politik Ulama itu Al-Nashihatu Al-Arwaah”

0
104
KH. Abu Hapsin dan KH. Ulil Abshar Abdalla. [Foto: Alaik]

[Semarang, elsaonline.com] Dalam rangka kunjungannya ke Semarang untuk mengisi acara seminar di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Ulil, sapaan akrab KH. Ulil Abshar Abdalla menginap di kediaman KH. Abu Hapsin, pengasuh pondok pesantren (ponpes) mahasiswa At-Taharruriyah, Rabu, 20/11/2019.

Sebelum mengisi acara di pagi harinya, Ulil Abshar Abdalla ditemani KH. Abu Hapsin menyempatkan berkunjung ke eLSA Semarang untuk mengobrol ringan bersama penghuni eLSA dan santri-santri At-taharruriyah. Obrolan diawali dengan pembahasan hal-hal yang ringan mengenai kehidupan sehari-hari hingga persoalan kenegaraan. Berikut percakapan dua intelektual muslim itu yang dirangkum oleh Alaika Ridhallah dari ELSA.

Abu Hapsin : Kiai itu habitatnya masyarakat, kalau kiai mau pindah habitat ke politik, harus menerima dengan segala risikonya. Perpindahan habitat itu bukannya tidak berisiko. Habitat politik ya seperti itu, harus siap dimaki-maki, dikritik, dan sebagainya.

Mengkiaskan, perumpamaan singa kalau masih di hutan naungannya berwibawa banget. Kalau sudah dibawa ke kandang dan dijadikan singa sirkus ya begitu itu, anak kecil saja mentertawakan. Di situ harus memilih, jadi singa hutan atau singa sirkus. Kalau jadi singa sirkus ya singa yang baik. Kalau keduanya dipilih itu nggak mungkin ada.

Ulil Abshar Abdalla: Kalau dalam “At-Tibrul Masbuuk” itu, ada tipologi politik menarik yang diungkapkan oleh Al-Ghazali. Menurut saya itu datangnya dari Persia. Al-Ghazali membaginya menjadi tiga; Pertama, Siyasatun Nubuwwah (Politik Kenabian). Kedua, Siyasatul Ulama (Politik Ulama). Ketiga, Siyasatul Muluk Was Salaathin (Politik Raja dan Pimpinan).

Al-Ghazali membuat definisi atau deskripsi masing-masing siyasah ini menarik. Yang dimaksud siyasatun nubuwwah adalah siyasatul arwah (politik ruh, jiwa). Siyasatul muluk was salaatin adalah siyasatul ajsaad wal abdaan (politik jasad atau badan).

Lha, ulama itu meneruskan siyasatun nubuwwah, jadi tiga-tiganya itu berpolitik, tapi prosesnya berbeda-beda. Siyasatul ulama yang meneruskan siyasatun nubuwwah, wilayahnya adalah siyasatul arwaah. Kalau saya menerjemahkan dari istilah al-Ghazali menggunakan kata Gus Dur, ini adalah politik kebangsaan.

Siyasatul ajsaad wal abdaan, itu adalah wilayahnya siyasatul muluk was salaatin. Itu adalah politik praktis. Tapi itu semua politik. Nah, kata al-ghazali, dunia akan tertib kalau dua jenis siyasah ini (siyasatul arwah dan abdaan ini) berjalan secara seimbang, addinu wal mulku tuamaniy.

Tapi yang menarik itu, bahwa tugas nabi-nabi itu mengurusi ruh, bukan badan. Artinya bukan mengurusi negara, negara bukan bagian dari proporsinya para nabi.

Abu Hapsin : kalau kemunculan the institusi umara itu sejak kapan itu dalam Islam ?

Ulil Abshar Abdalla: Menarik kata Ghazali ya. Siyasatul ulama itu intinya nasihatul muluk, memberikan nasihat kepada muluk (raja-raja). Pertanyaan saya, kenapa Ghazali kok menggunakan istilah nasihatul muluk? Dan siyasatul muluk dan was salathin? Kenapa tidak nasihatul khulafa’? Dugaan saya, Ghazali itu hidup ketika institusi halifah itu sudah mulai merosot. Jadi al-Ghazali itu hidup dalam masa Khalifah Abbasiyyah yang saat itu terbagi menjadi dua. Khalifah saat itu sebagai jabatan simbolik saja. Kekuasaan diil itu kan para umara dan muluk, makanya ketika itu sudah mulai Raja-raja Saljuk. Siapa itu Saljuk? Dulunya mereka adalah jenderal-jenderal militer tentara. Jadi Aabbasiyyah pada era al-ghazali itu sudah terjadi pemisahan otoritas politik. Khalifah itu hanya urusan simbol, spritual, tapi kekuasaan realnya adalah muluk. Karena itu khalifah tidak punya pengaruh apa-apa dalam politik sehari-hari.

Kekuasaan politik pada saat itu dipegang oleh al-Muluk. Maka yang perlu dinasihati adalah al-Muluk bukan al-Khulafa.

Tapi, siyasatul muluk adalah siyasatul abdan, bukan siyasatul arwaah. Siyasatul arwaah adalah wilayahnya para wali-wali dan nabi-nabi. Sebenarnya secara tidak langsung ini sekularisasi kan. Pembedaan otoritas politik, antara spiritual religus dengan duniawi.

Uniknya ini teori al-Ghazali agak mirip-mirip dengan teorinya Ali Abdul Raziq yang kontroversial itu. Dia mengatakan di dalam bukunya, tugas nabi yang pertama-tama bukan politik, tapi adalah at-tabligh (menyampaikan) agama, politik itu sekunder, yang primer adalah seperti yang dikatakan Ghazali, siyasatul arwaah bukan abdaan. Abdaan itu sebenarnya tugas para muluk.

Abu Hafsin : Makanya dalam tradisi Kristen, Daud, Sulaiman, Yusuf itu lebih dikenal sebagai al-Muluk.

Ulil Abshar Abdalla: mungkin dalam Islam pemaknaan nabi itu beda: Kalau dalam Islam itu ya bisa nabi murni spiritual, seperti Musa, Ibrahim, Yahya, Isa. Itu kan murni spiritual. Tapi di situ juga ada spiritual campur politik, seperti masa Abu Bakar, pada era Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Orang itu kalau tanya tentang agama ke khalifah juga. Masalah dunia khalifa juga. Karena pada saat itu posisi khalifah di dalamnya ada unsur agama dan politik jadi satu, makanya, menurut saya, Sulaiman dan Daud dalam konsepsi Islam itu disebut nabi karena ia bisa disebut spiritual murni, dan juga spiritual dan politik. Jadi, ini mungkin perbedaan konsepsi nabi dalam Islam dan Yahudi.

Tapi setelah era Khulafaur Rosyidin itu makin terjadi pemisahan antara umara dan ulama. Penegasan Kanjeng nabi, Ulamau ummati anbiya’u Bani Israel. Itu maknanya apa coba?

Menurut saya, karena konsepsi dalam Bani Israil, nabi itu tugas utamanya adalah pengkritik kekuasaan. Mengingatkan kekuasaan supaya jangan melenceng. Jadi tugas ini diteruskan dalam umat saya oleh ulamaku. Jadi tugas ulama sebetulnya ya nasihatul muluk itu. Jadi politik ulama adalah nasihatul Muluk.

Kalau mengikuti Kuntowijoyo, saya suka Kuntowijoyo karena dia membahasakan istilah-istilah agama dalam terminologi ilmu sosial. Nasihatul muluk itu apa? itu kan harus diterjemahkan dalam istilah-istilah yang nyambung dengan konteks sekarang kan. Misalnya kritik kekuasaan, atau Judicial Review. Itu semua kan nasihatul muluk kan pada dasarnya. Nah, makanya tradisi (dalam) kitab-kitab kuning ini harusnya diterjemahkan ke aktualisasi sosial.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here