Preman Jakarta dan Revolusi Indonesia

0
173

Oleh: Tedi Kholiludin

Judul    : Gangsters and Revolutionaries: The Jakarta People’s Militia and the Indonesian Revolution 1945-1949
Penulis: Robert Cribb
Penerbit: University of Hawaii Press (1991) dan Singapore Equinox Publishing (2009)
Tahun terbit: 1991 dan 2009
Halaman: 222+xiii

“Gangsters and Revolutionaries” ini merupakan karya yang secara mendalam membahas mengenai keterlibatan laskar rakyat yang muncul dari kekacauan di akhir Perang Dunia II di Indonesia dan bergabung untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia 1945. Buku merekam jejak dari cerita tentang laskar rakyat Jakarta dari yang asalnya sebagai kelompok preman (jago) rendahan yang kehilangan jaringan dan pimpinan buruh di Jakarta.

Robert Cribb, penulis buku ini menelaah soal yang selama ini tidak terlalu diperhitungkan para penulis-penulis riwayat kemerdekaan Indonesia, yakni keterlibatan para preman, jago atau jawara. Para preman, gangsters atau bandit itu sendiri, kata Cribb merupakan salah satu feature kuno dari lanskap sosial tanah Jawa. Ken Arok, pendiri Kerajaan Singosari misalnya, memulai karirnya sebagai seorang bandit.

Sejarah tentang jago di Jakarta juga bisa dilihat ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berada di bawah komando Alimin pada 1923 memiliki hubungan erat dengan jawara dari Banten. Bagi para jawara, kekuatan PKI saat itu adalah yang paling memungkinkan untuk melawan kekuatan Belanda.

Yang penting digarisbawahi dalam sejarah revolusi Indonesia menjelang kemerdekaan adalah koalisi antara para preman Jakarta dengan para nasionalis muda sayap kiri sungguh memainkan peran yang sangat penting. Relasi yang memuncak pada tumbuhnya “People’s Militia of Greater Jakarta (Laskar Rakyat Jakarta Raya/LRJR)” kemudian menghasilkan sebuah hubungan yang tak biasa. Bahar Rezak, atau Sutan Akbar adalah pemimpin pertama LRJR. Di Karawang mereka menggunakan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai corong untuk mengkampanyekan programnya dan menerbitkan buletin Godam Djelata (Hammer of the Poor).

Salah satu sebab adanya relasi antara para nasionalis kiri dan jago berlangsung karena mereka sama-sama memiliki kepentingan untuk keluar dari cengkeraman Belanda. Sebab lain adalah para nasionalis ini melihat kelompok gangster punya modal dalam kemampuannya untuk melakukan perlawanan fisik (karena mereka pada umumnya adalah alumni PETA), sementara para bandit berharap kelompok nasionalis akan menawarkan masa depan dimana mereka akan diakui dan dihormati sebagai pemberi legitimasi atas kekuasaan dalam komunitasnya.

Nama-nama laskar seperti Pasukan Siluman (Ghost Squad), Serigala Hitam (Black Jackal), Pemotong Leher (Neck Cutters) dan Garuda Putih (White Eagle). Kelompok ini yang berada di bawah komando Wahidin Nasution, salah seorang pendiri Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang kemudian mendirikan LRJR. Nama lain yang memiliki pengaruh besar dalam revolusi 1945 adalah Muhammad Arif dari Klender dan Haji Darip. Tersebutlah nama Imam Syafe’i atau Sapei alias Bang Pi-ie, pemimpin jago dari Senen dan kemudian menjadi dalam kabinet 100 menteri Soekarno.

Pada akhirnya, studi yang dilakukan Cribb ini menunjukkan bagaimana akar sosial dari revolusi Indonsia yang sangat kompleks dan tidak hanya semata-mata soal sejarah intelektual dari gerakan nasionalis.

Mereka yang hendak memahami mengapa kelompok preman di Jakarta (baik yang berakar pada simbol agama maupun etnis) begitu eksis dan memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap pemerintahan ada baiknya jika menyimak buku ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here