“Promosi” Agama Kerap Timbulkan Konflik

0
10

[Bandung, elsaonline.com] – Direktur Yayasan Pemberdayaan Komunitas eLSA Semarang, Tedi Kholiludin menyampaikan promosi atau dakwah dalam setiap agama sering menimbulkan konflik. Sisi promosi inilah yang sering membuat gesekan di ruang publik.

“Agama itu selalu berkelindan dengan empat “P” yakni produk, place, price, and promotions. Nah, dari sisi promosi inilah yang kerap mengalami gesekan. Karena semua agama sejatinya punya misi dakwah,” kata Tedi saat menjadi fasilitator pada Konferensi Jaringan Antar Iman Indonesia (JAII) di Hotel Yehezkiel, Bandung, Kamis (3/8/17) sore, kemarin.

Dosen Pascasarjana Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang ini menambahkan, kondisi pluralisme di Indonesia dalam kondisi pesimis, meski ada ruang yang menunjukkan optimisme. Maksudnya, keberagaman yang ada sejak dulu kala sedang keadaan terancam.

“Pluralisme di Indonesia sedang mengalami kehawatiran bahkan cenderung pesimis. Apa dasarnya, sekarang Indonesia menjadi negara terbesar kedua yang mengirimkan orangnya untuk jihad di Irak dan Syiria. Meskipun ini bukan ukuran satu satunya,” kata Tedi.

Hemat Tedi, saat ini Indonesia memang sedang dipertanyakan apakah masih bisa dikatakan sebagai negara yang bisa memupuk keragaman. Ini sangat tergantung pada konteks mana itu ditanyakan. Pasalnya, kata Tedi, masing-masing daerah berbeda-beda dalam menyelesaikan konflik berlatar belakang agama.

“Apakah Indonesia sekarang masih bisa dikatakan sebagai model negara yang bisa menjaga keragaman, jawabannya Indonesia yang mana? Karena masing masing daerah kemampuan menyelesaikan konfliknya berbeda-beda. Di Poso, kasus yang mengakibatkan korban jiwa sudah tidak ada, tapi di tempat lain kasus diskriminasi masih ada,” tambahnya.

Pada kesempatan itu juga Tedi mengkritik kelompok-kelompok yang kerap membawa konflik negara lain ke Indonesia. Kelompok tersebut lazimnya mengatasnamakan solidaritas agama untuk memarik konflik agama ke negara ini.

“Akhir-akhir ini ada kecendrungan yang dinamakan dengan “negative solidarity”. Nah, contoh mudahnya konflik di Miyanmar, Palestina dibawa ke Indonesia. Ini kerap terjadi belakangan ini dengan aksi aksi solidaritas korban sesama Muslim,” tukas Tedi.[Cep-@ceprudin-elsa-ol/003]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here