Pulihkan Kondisi Damai di Aceh Singkil

0
91
Berjaga: Seorang polisi berjaga-jaga tak jauh dari lokasi pembakaran gereja di Aceh Singkil beberapa waktu lalu. Sumber Foto: beritagar.id
Berjaga: Seorang polisi berjaga-jaga tak jauh dari lokasi pembakaran gereja di Aceh Singkil beberapa waktu lalu. Sumber Foto: beritagar.id
Berjaga: Seorang polisi berjaga-jaga tak jauh dari lokasi pembakaran gereja di Aceh Singkil beberapa waktu lalu. Sumber Foto: beritagar.id

[Semarang-elsaonline.com]– Pegiat Aliansi Sumut Bersatu Ferry Wira Padang menyampaikan duka mendalam atas terjadinya penyerangan terhadap gereja-gereja dan perkampungan masyarakat Kristen di Kabupaten Aceh Singkil, Selasa (13/10/2015). Peristiwa ini diawali pada Selasa (6/10/2015), oleh sekelompok massa yang mengatasnamakan Aliansi Pemuda Peduli Islam.

“Aliansi ini melakukan demo menuntut Bupati Aceh Singkil atau Pemkab Aceh Singkil supaya menutup dan membongkar gereja yang tidak sesuai dengan kesepakatan tahun 1979. Isi kesepakatan tersebut yakni hanya memperbolehkan satu gereja dan empat undung-undung di Aceh Singkil,” katanya, dalam siaran pers yang diterima eLSA, beberapa waktu lalu.

Jika pemerintah tidak menghiraukan tuntutan dalam kurun waktu satu minggu setelah demo, maka pembongkaran gereja akan dilakukan sendiri oleh Aliansi Pemuda Peduli Islam tersebut. Merespon tuntutan dari Aliansi Pemuda Peduli Islam, pada tanggal (8/10/15), Pemkab Aceh Singkil mengadakan rapat bersama dengan Muspida, SKPD Aceh Singkil, FKUB, MPU. Pertemuan tersebut membahas tentang perjanjian tahun 1979 dan tahun 2001. Hasilnya, pemkab meminta masyakarat Kristen di Aceh Singkil agar konsisten mematuhi perjanjian tahun 1979 dan tahun 2001.

Selanjutnya, Selasa (13/10/2015) sekira pukul 10.00 WIB atau tepat satu minggu setelah demo dilakukan, ratusan pemuda dan masyarakat yang mengatasnamakan Pemuda Aceh Singkil Peduli Islam melakukan penyerangan dan pembakaran terhadap dua gereja di Desa Gunung Meriah.

”Dua gereja itu Gereja Huria Kristen Indonesia (HKI) Gunung Meriah dan Gereja Katolik. Dari Desa Gunung Meriah, massa melanjutkan penyerangan ke Desa Dangguren dengan tujuan ingin melakukan pembakaran Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD). Pada saat penyerangan itulah terjadi konflik yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia,” lanjutnya.

Ketakutan
Peristiwa tersebut membuat ribuan masyarakat Aceh Singkil ketakutan dan mengungsi. Saat ini sekitar 2000 an masyarakat Aceh Singkil mengungsi di Desa Seragih, Kecamatan Manduamas Kabupaten Tapanuli Tengah dan 1000 an warga dari Kecamatan Sibagindar Kabupaten Pakpak Bharat.

Sementara itu ribuan masyarakat Aceh Singkil juga mengungsi di Gereja-Gereja dan teriolasi di Aceh Singkil karena jalur keluar masuk ke Aceh Singkil telah diblokade dan di sweeping. Atas kondisi demikian, ia mengajak seluruh masyarakat Aceh Singkil untuk dapat menahan diri agar tidak melakukan tindakan yang mengganggu keharmonisan antar masyarakat.

“Terhadap pemerintah kami mendesak aparat keamanan Aceh Singkil memberikan perlindungan terhadap masyarakat khususnya umat Kristen dan Islam di desa–desa tujuan penyerangan serta melakukan penyidikan dan penyelidikan untuk mengungkap aktor dan pelaku–pelaku penyerangan,” pintanya.

Aliansi Sumut Bersatu juga mengapresiasi respon cepat Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kabupaten Pakpak Bharat yang menerima dan memberikan makanan serta layanan kesehatan kepada masyarakat Aceh Singkil yang mengungsi di Kecamatan Manduamas Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kecamatan Sibagindar Kabupaten Pakpak Bharat. [elsa-ol/@Ceprudin-Cecep/003]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here