Radikalisme Tantangan Seluruh Umat Beragama

0
60

SEMARANG- Radikalisme bukan sekadar tantangan bagi umat Islam, melainkan seluruh umat beragama. Untuk itu, pemerintah dituntut jeli mengkonsep dan mengimplementasikan upaya deradikalisasi supaya kehidupan bermasyarakat tidak semakin rusak akibat banyaknya kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Hal tersebut merupakan beberapa butir kesimpulan seminar dan bedah buku ’’Among the Believers: Kisah Hidup Seorang Muslim Bersama Komunitas Mennonite Amerika’’ karya Sumanto Al Qurtuby, kandidat Political Anthropology and Religion di Universitas Boston, Massachusetts, Amerika Serikat di aula Keuskupan Agung Semarang Jl Imam Bonjol, Sabtu (30/4). Bertindak sebagai moderator pada acara itu, Asisten Direktur Suara Merdeka, Adi Ekopriyono.

’’Dengan seringnya perusakan oleh orang-orang beragama, dikhawatirkan membuat orang yang memiliki pemahaman lemah terhadap suatu agama, justru apatis terhadap seluruh agama sehingga menjadikan orang tersebut atheis. Ini kan tidak sesuai dengan nilai-nilai konstitusi dan Pancasila,’’ kata Ketua Sinode Gereja Kristen Muria Indonesia, Paulus S Widjaja.

Ada Kebebasan

Ketidakpahaman seseorang terhadap agama, kata Paulus, menimbulkan prasangka buruk terhadap agama tersebut. Misalnya, dalam kasus terorisme yang diidentikkan dengan agama Islam. Adanya hal itu, membuat seluruh umat Islam diprasangkakan sebagai teroris. ’’Padahal, sebetulnya kan tidak begitu. Dalam agama Kristen juga banyak berkembang paham radikal yang merusak Kristen sendiri, tapi memang tidak terekspos secara massif terutama di media massa seperti terorisme,’’ tegasnya.

Menurut dia, untuk mengubah hal itu, pemuka agama harus berada di garda terdepan dalam memberikan pemahaman agama yang kuat kepada seluruh umat agama masing-masing.
Dalam acara itu, terungkap bahwa masing-masing umat beragama masih keras kepala mengklaim agama atau kepercayaan pilihannya itu paling benar, sehingga mengakibatkan konflik masih terus terjadi.

Harus Ditepis

Sumanto Al Qurtuby menuturkan, pembedaan agama dalam kehidupan masyarakat, harus segera ditepis. Untuk mendukung hal itu, pendidikan jangan terlalu mementingkan hal-hal sepele daripada yang substansif. ’’Seperti, mewajibkan seragam berkerudung bagi para siswa Islam, padahal ini merupakan hak asasi tiap siswa. Hendaknya ada kebebasan pemahaman dan berpikir dalam hal agama,’’ ujar dia yang juga Sekretaris Jenderal Komunitas NU Amerika dan Kanada.

Proses pendidikan, kata Sumanto, sangat penting menanamkan pemahaman ideologi agama sehingga jangan sampai pendidikan agama berperspektif salah. Menurutnya, kalau sejak dini siswa diajarkan Islam atau Kristen sebagai agama yang unggul, ke depan siswa tersebut jadi alergi terhadap pemeluk agama lain karena adanya saling klaim keunggulan agama masing-masing.

Ketua Komisi HAK Keuskupan Agung Semarang, Romo Aloysius Budi Purnomo mensinyalir perlakuan merusak yang dilakukan sekelompok umat agama, merupakan by design dengan sasaran utama rusaknya ketenangan hidup berbangsa dan menghancurkan NKRI. ’’Perlakuan itu juga menyalahi visi misi pendiri bangsa yang mengedepankan keharmonisan dan moderat,’’ imbuhnya. (H70-14)

Sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/05/01/145072/Radikalisme-Tantangan-Seluruh-Umat-Beragama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here