Romo Pujasumarta: In Memoriam

0
47

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

Saya kaget mendengar kabar wafatnya Uskup Agung Semarang Mgr. Romo Pujasumarta yang bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 Nopember 2015. Uskup Agung yang lahir di Surakarta, Jawa Tengah, dengan nama Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta ini adalah salah satu tokoh agama non-Muslim yang saya kagumi watak, perilaku, pemikiran, dan dedikasinya untuk umat, bangsa, dan negara. Saya juga mengagumi kesederhanaan dan kesahajaannya. Bukan hanya itu saja yang membuat saya merasa kehilangan dengan wafatnya, Romo Pujo, begitu saya biasa menyapanya, adalah tokoh agama Kristen pertama yang saya kenal. Karena itu ia sangat “spesial” buat saya.
Sekitar pada pertengahan tahun 1990-an, saya pertama kali berjumpa dengannya. Kala itu saya masih menjadi mahasiswa, jurnalis, dan aktivis kampus IAIN (sekarang UIN) Walisongo. Tidak hanya aktif di kampus, saya juga aktif di lembaga non-kampus, khususnya “Ilham”, sebuah lembaga lintas-etnis dan agama yang bergerak di bidang kajian, riset, dan penerbitan. Sebagai jurnalis sekaligus “aktivis gerakan” lintas-agama, saya dituntut untuk menjalin pertemanan dengan berbagai pihak, khususnya non-Muslim. Dari situlah asal-muasal pertemanan saya dengan Romo Pujo. Waktu itu beliau masih seorang pastor biasa, belum menjadi Uskup Agung (Archbishop). Baru pada 1998, Romo Pujo diangkat sebagai Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Semarang mendampingi Bapa Uskup Mgr. Ignatius Suharyo.

Pertemanan kami juga “disatukan” oleh visi, misi, spirit, dan tujuan kami yang kurang lebih sama, yaitu untuk saling belajar dan memahami mengenai hakikat agama kita masing-masing sekaligus untuk menciptakan “kesadaran publik” tentang pentingnya harmoni, toleransi, pluralisme, dan perdamaian antar-agama. Romo Pujo yang pernah menjadi Bapa Uskup di Bandung ini sering menuturkan (sekaligus mengingatkan) bahwa “Agama itu seperti baju. Sebagaimana baju, sebuah agama yang kita peluk belum tentu cocok, sesuai, dan pas untuk orang lain. Meski berbeda baju, kita tidak boleh lantas menganggap baju kitalah yang paling baik dan menganggap baju orang lain buruk.”
Romo Pujo yang mendapat gelar doktor di bidang Teologi Spiritual dari Universitas St. Thomas Aquinas, Roma, Italia, ini juga sering mengatakan bahwa seseorang memiliki pengalaman keagamaan dan keberagamaan yang berlainan serta dididik dalam kultur agama yang berlainan, dan oleh karena itu mereka menjadi pemeluk agama yang berlainan pula. Akan tetapi perbedaan dan keragaman itu, kata Romo Pujo, bukan berarti menghalangi kita untuk saling berdialog dan bekerja sama membangun persaudaraan sejati umat manusia. Perbedaan itu bagi Romo adalah sebuah rahmat Tuhan yang harus disyukuri dan disikapi secara bijak dengan cinta-kasih dan pengabdian tulus kepada keanekaragaman kemanusiaan bukan dengan jalan permusuhan dan penebaran kebencian.

Setidaknya ada tiga level “dialog agama” yang kami lakukan dulu bersama Romo Pujo. Pertama, adalah “dialog kemanusiaan”, yakni dengan mengadakan aneka kegiatan lintas-agama untuk membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan: para korban banjir, pengungsi kerusuhan (misalnya dampak kerusuhan di Timor Timur, Ambon, Sampit, dlsb), “anak-anak jalanan”, dlsb. Kami dulu, dibantu para suster Katolik, sering menggalang solidaritas untuk mengumpulkan dana, pakaian, buku, beras, mie instan, dll untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan, termasuk ke pesantren-pesantren di Mangkang misalnya yang sering kebanjiran. Rapat koordinasi untuk membahas dan mengevaluasi masalah ini sering kami gelar di keuskupan. Kami dulu juga membentuk Tim Relawan Kemanusiaan Semarang untuk mengantisipasi kemungkinan dampak buruk kerusuhan “berdimensi SARA” yang meletus di Jakarta pada bulan Mei 1998. Setiap terjadi kerusuhan berbau etnis maupun agama yang terjadi diluar Semarang dan Jawa, kami mesti berkumpul untuk merapatkan barisan guna mananggulangi dampak negatif kerusuhan di Semarang. Pikir kami waktu itu, Kota Lumpia ini adalah kota multietnis dan multiagama sehingga jangan sampai peristiwa kekerasan agama dan etnis diluar merembet ke Semarang.

Selain “dialog kemanusiaan” atau oleh Leonard Swidler, Professor of Catholic Thought and Interreligious Dialogue di Tempel University, Philadelphia, disebut “practical dialogue,” kami dulu juga mengadakan “dialog intelektual,” yakni membangun dialog agama dengan jalan mengembangkan aneka kegiatan intelektual seperti diskusi, workshop, menulis, dan seminar. Romo Pujo dulu juga salah satu “tim redaksi” Jurnal Ilham yang kami kelola dimana saya sendiri sebagai Pemimpin Redaksi-nya. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali kami dulu menggelar diskusi: di keuskupan, seminari, gereja, masjid, kampus, kantor NU, kantor Ilham, pesantren, dlsb. Cukup banyak dulu tokoh-tokoh Muslim dari berbagai daerah yang kami undang untuk berbagi pengalaman intelektual-keagamaan-kebangsaan. Jika Romo Pujo tidak bisa hadir, ia biasanya mewakilkan kepada Romo Edi Purwanto, Pr (Romo Edi) yang kini sebagai sekretaris Konferensi Waligereja Indonesia). Memang selain Romo Pujo, saya juga dekat dengan Romo Edi karena sama-sama memiliki komitmen serupa untuk membangun peradaban kemanusiaan yang melintasi batas-batas primordial keagamaan.

Dialog agama selanjutnya yang kami lakukan adalah “dialog teologis,” yakni berbagi wacana, pengetahuan, dan pengalaman teologi keagamaan baik melalui diskusi formal maupun konversasi informal. Tujuan dari level dialog ini adalah untuk saling mengetahui dan memahami keunikan konsep-konsep dan gagasan teologis masing-masing agama yang menjadi “inti” sekaligus ruh sebuah agama. Banyak konflik dan kekerasan berdimensi agama karena bermula dari kesalahpahaman dan kurangnya wawasan keagamaan tentang komunitas lain. Kurangnya wawasan tentang agama-agama lain ini berpotensi memunculkan “etnosentrisme teologis” yang pada tahap selanjutnya bisa berpotensi menimbulkan kekerasan individual dan sosial. Berbeda dengan “dialog intelektual” yang bermuara pada pembebasan diri dari belenggu pemikiran sempit, “dialog teologis” ini lebih bertujuan untuk membebaskan diri dari praktek “spiritualitas eksklusif”. Dalam konteks “dialog teologis” ini misalnya kami saling mempelajari makna-makna terdalam dari konsep-konsep dan simbol-simbol keagamaan (baik kekristenan maupun keislaman) seperti Trinitas, penyaliban Yesus, Salib, serta aneka ritual kekristenan maupun beragam konsep teologi, simbol, dan ritualitas Islam (syahadat, salat, haji, puasa, malaikat, alam akherat, surga-neraka, dlsb).

Hubungan saya dengan Romo Pujo tidak sebatas hubungan formal tapi juga informal. Saya sering “keluyuran” ke kantor beliau untuk sekedar ngobrol ringan. Terkadang kami ngobrol tidak mengenal waktu: siang maupun malam. Tidak ada pikiran sedikitpun di benak kami untuk saling mengkristenkan atau mengislamkan. Kami sama-sama bekerja karena ada asumsi dan keyakinan yang sama di antara kita bahwa agama harus melayani umat manusia karena itulah tujuan utama agama “diturunkan” ke muka bumi ini.

Selamat jalan Romo. Karena jarak yang terlalu jauh, mohon maaf saya tidak bisa ikut menghadiri upacara pemakamanmu. Tetapi doaku mengiringi kepulanganmu. Semoga engkau damai di alam baka dan bahagia berjumpa dengan Bapa di Surga.

13 November, 2015,

Jabal Dhahran, Arab Saudi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here