Saatnya Korban Bicara

0
134
Dewi Nova Wahyuni
Dewi Nova Wahyuni
Dewi Nova Wahyuni

[Bogor –elsaonline.com] Jika selama ini korban kekerasan atas nama agama dan keyakinan itu bersuara melalui pendampingnya, maka sudah saatnya jika sekarang korban itu berbicara sendiri. Suara dari lebih banyak korban akan memberikan tekanan yang lebih kuat lagi kepada penyelenggara negara.

Dewi Nova Wahyuni, Koordinator Pemantauan Komisi Nasional (Komnas Perempuan) 2002-2006 mengungkapkan hal tersebut, Rabu (26/3). Dewi menuturkan bahwa sekarang saatnya korban tidak lagi selalu diwakili oleh siapapun, baik pendamping maupun negara. “Menurut saya, ini adalah pertumbuhan besar bagaimana dukungan yang selama ini diberikan ternyata menumbukan keberanian untuk mengorganisir,” jelas Board di Institute Pelangi Perempuan (IPP) Jakarta tersebut. “Kita masuk pada masa dimana korban sendiri menyampaikan masalahnya,” sambung Dewi.

Peran korban menjadi dominan sekarang. Mereka mengumpulkan kekuatan untuk mengorgansir diri. Modal itu sesungguhnya sudah tertanam dalam budaya gotong royong.

Berkumpulnya korban dalam satu wadah itu tentu bukan perkara gampang. Mereka harus memaklumi keyakinan satu dengan lainnya. “Nah, bagaimana memahami keyakinan diantara mereka yang berbeda ini juga bukan hal yang mudah. Disini mereka juga dituntut untuk bersikap toleran satu dengan lainnya,” sambung  perempuan  asli Pangalengan, Bandung.

Sejak 23 Maret kemarin, korban kebebasan beragama dan berkeyakinan berkumpul untuk menyusun strategi perjuangan  di Desa Wisata Candali, Bogor. Bagi Dewi, yang juga menjadi fasilitator acara tersebut, hal ini penting agar korban memiliki rencana yang sistematis dalam menyusun advokasi untuk 3 tahun ke depan.

Taman Toleransi

Dalam kegiatan pertemuan para korban Kebebasan Beragama itu juga dilakukan penanaman pohon bersama. Tujuannya untuk membuat  monumen gerakan mereka. Penanaman dipimpin Pak Ekus dari Kepercayaan sekaligus  untuk mengenalkan bagaimana kelompok kepercayaan menghormati bumi.  “Teman-teman dari berbagai latar agama dan kepercayaan kemudian mengikuti kegiatan penanaman pohon,” ujar Dewi. Di pohon yang ditanam bersama itu kemudian mereka menyebutnya Taman Toleransi.

Engkus Ruswana, berdoa sebelum menanam pohon
Engkus Ruswana, berdoa sebelum menanam pohon

Selain sebagai usaha untuk memahami bagaimana pemahaman penghayat terhadap bumi dan lingkungan, menanam pohon itu juga sebagai simbol menanamkan gerakan. “Jadi, mungkin setiap tahun kita harus kembali ke tempat ini sebagai pengingat bahwa kita pernah memulai gerakan solidaritas itu dari sini,” tambah Dewi.

Dewi sering mencermati bahwa media mainstream kerap mengulas berita-berita tentang kekerasannya saja. Padahal sebelum terjadinya peristiwa itu ada rangkaian sesudah dan sebelum peristiwa pecahnya kekerasan. Dan itu yang kemudian sangat mempengaruhi hidupnya. “Misalnya soal stigma,” kata Dewi. Biasanya setelah ada kekerasan, masyarakat baru tahu mengenai identitas dari keyakinan korban.

 

Saat ditanya mengenai tingkat sosialisasi kelompok keyakinan keagamaan kepada publik, Dewi menjelaskan bahwa hal tersebut sangat terkait dengan kebijakan dan tingkat keamanan yang baik dari aparat pemerintah. “Kalau kepolisian dan LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, red) bekerja maksimal ditambah dengan masyarakat yang toleran, maka keterbukaan masyarakat pasti akan semakin besar,” terang penulis buku “Di Atas Kaki Sendiri.”

Dewi berkisah jika buku itu tidak ia tulis dengan bahasa akademis laiknya laporan riset. “Saya menulisnya dengan features, dengan harapan orang membaca dengan hati, bukan logika.”

Korban Perempuan

Dalam banyak peristiwa kekerasan, perempuan kerap mengalami diskriminasi ganda, bahkan multiple discrimination malahan. “Istri korban kasus Ahmadiyah di Cikeusik tahun 2011 misalnya,” tukas Dewi. Saat itu, kata Dewi, ia sedang hamil. Warga Ahmadiyah lainnya kebingungan bagaimana cara memberi tahu kepadanya bahwa suaminya meninggal karena dibunuh oleh para pelaku.

Saat informasi diterimanya, tentu ia berusaha agar kuat menerima kenyataan tersebut. “Pada awalnya saya kuat, karena ada manusia lain (dalam kandungan, red),” ujar Dewi menirukan isteri korban tersebut.

Pada gilirannya, sang ister tidak hanya berjuang utk menguatkan dirinya sendiri tapi juga manusia lain. “Saat anak itu lahir, tentu masalah yang paling berat adalah bagaimana cara ia mengasuh anaknya. Memahamkan kepada anak agar tidak ada dendam dan tidak membalas kepada pelaku pembunuhan ayahnya. Itu tantangan yang lebih berat untuk dihadapi,” kata Dewi pajang.

Masalah ekonomi juga terdampak. Kisah Dewi, mereka berdua berbisnis lele. Sehingga ketika suaminya menjadi korban ia tak hanya kehilangan suami tercinta, tapi ekonominya juga porak poranda. Ia harus berjuang sendiri dan tidak ada pemulihan korban dari negara. “Dia berjuang menata ekonominya itu sendirian,” terang Dewi. [elsa-ol/T-Kh-@tedikholiludin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here