Seandainya Gereja Tidak Memordernisasi Diri

0
17
sumber foto : Bintang.com


Denni H.R. Pinontoan

Dosen Universitas Kristen Indonesia Tomohon Sulawesi Utara

sumber foto : Bintang.com
sumber foto : Bintang.com
Dalam sejarahnya, gereja (agama Kristen) pernah memberlakukan apa yang disebut exkomunikasi atau pengucilan. Ini adalah hukuman yang dijatuhkan oleh gereja kepada umat yang dianggap melakukan pelanggaran berat, misalnya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran resmi gereja. Galileo Galilei, astronom besar itu merupakan salah seorang yang pernah dikenai hukuman exkomunikasi.

Di Spanyol, gereja juga memberlakukan hukum inkuisisi. Inkuisisi adalah institusi pengadilan gereja yang didirikan oleh pasangan Monarki Katolik Raja Ferdinand II dari Aragon dan Ratu Isabella dari Kastilia, yang bertujuan untuk memelihara ortodoksi gereja. Hukum inkuisisi dikenakan kepada individu atau kelompok yang dituduh bidaah. Bentuk hukumannya adalah hukum mati dengan cara disiksa.

Sistem hukuman versi gereja itu adanya di abad pertengahan, zaman kegelapan dalam sejarah kekristenan. Masa di mana gereja begitu berkuasa dan memiliki hubungan intim dengan kekuasaan kaisar.

Itu semua adalah masa lalu bagi kekristenan. Reformasi Martin Luther dan kawan-kawan yang dilancarkan pada abad 16 telah mengubah wajah gereja. Perbedaan paham, doktrin dan pengajaran di antara kelompok di dalam gereja dan di luar gereja ditanggapi secara cerdas dan bijak. Saya kira, humanisme, renaisans dan reformasi di Eropa sebagai pusat dari gereja di masa itu telah memungkinkan negara-negara di sana mengembangkan peradabannya.

Ilmu pengetahuan, cara beragama yang rasional dan sistem demokrasi yang menghargai keragaman, kesetaraan dan HAM telah membuat orang-orang Eropa dapat mencapai puncak kejayaannya. Gereja bagaimanapun telah berperan memajukan peradaban Eropa dengan keterbukaannya pada ilmu pengetahuan dan demokrasi. Seandainya gereja tidak direformasi, tidak terjadi modernisasi atau pembaruan radikal di dalam gereja melalui reformasi Luther, dkk di abad pertengahan, mungkin saja hukum ‘gigi ganti gigi, mata ganti mata’, eksklusvisme dan kebodohan serta kekonyolan teologi di kalangan elit agama masih terjadi hingga kini.

Dengan melakukan modernisasi, kekristenan tidak lenyap, namun juga kekasaran dan keberingasan berjubahkan agama dapat ditekan semaksimal mungkin. Justru dengan beragama atau bergereja secara rasional dan terbuka kekristenan makin menemukan hakekatnya bagi manusia dan peradaban. Pada banyak hal, menjadi orang Kristen adalah untuk merayakan keselamatan dan perdamaian dengan kasih.

Bersyukurlah atau pencapaian-pencapaian terutama upaya-upaya gereja membaharui dirinya. Seandainya pembaharuan gereja itu dulunya ditolak atas nama kemurnian iman Kristen, bisa saja hari ini umat Kristen masih akan menghayati kekristenannya dengan kebencian, kebodohan dan ketakutan.

Tahun 2017 nanti, gereja-gereja Kristen sedunia akan merayakan 500 tahun Reformasi. Artinya, pembaharuan di dalam gereja sudah berusia setengah milenium. Kita sementara merasakan hasilnya, salah satunya adalah, secara cerdas tidak membalas diskriminasi atau penghinaan terhadap kekristenan dengan kebencian serta ekspresi-ekspresi vulgar yang bodoh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here