Sebelum Nikah, Pengantin ini Bagi-bagi Uang ke Masjid, Mushola, Wihara, Gereja, dan Sanggar

0
64
Tamu Undangan: Beberapa tamu undangan tampak berdatangan. [Foto: Ceprudin]

Tamu Undangan: Beberapa tamu undangan tampak berdatangan. [Foto: Ceprudin]
[Semarang, elsaonline.com]- Mentari cerah serta udara sejuk menyelimuti Desa Candi Garon, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, Rabu, (26/4/17) siang kemarin. Desa makmur yang berada di Kaki Gunung Ungaran ini menyimpan cerita harmoni antar umat beragama dan kepercayaan yang dijalin sejak turun temurun.

Karena keperluan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, pagi itu penulis menyambangi kelompok dampingan Penganut Kepercayaan di desa itu. Sejak masuk gerbang selamat datang Desa Candi Garon, terdengar sayup-sayup irama lagu dangdut khas pedesaan.

Meskipun desa ini berada di dataran tinggi, namun sehari-hari tak pernah sepi. Sepanjang jalan, sejak gerbang masuk desa tampak beberapa pedagang keliling berjejeran.

Mereka mengais rizki di setiap pusat kegiatan desa. Seperti kantor kepala desa, sekolahan, bengkel motor, serta pertigaan yang sekiranya ramai lalu lalang warga melintas.

Sepanjang menyusuri jalan desa, alunan musik dangdut koplo yang begitu “ngehits” bagi para petani ini terdengar semakin jelas. “Jalan ditutup, karena ada kepentingan warga. Untuk sementara dialihkan,” begitu tulisan terpampang di drum bekas wadah aspal di pertigaan antara tiga pedukuhan itu.

Tak jauh dari petunjuk jalan tadi, tampak janur kuning melengkung. Tenda biru berhiaskan bunga, pisang kuning merona, serta aneka jajanan pasar terpampang di meja tamu. Sejumlah pria dan wanita tampak hilir mudik membawa nampan sembari senyum-senyum ceria.

Orang Dermawan
Tenda biru simpul kebahagiaan itu memenuhi bidang jalan. Sementara kediaman yang hendak dituju penulis persis berada di belakang panggung. Setelah beberapa menit terdiam, salah satu “sinoman” atau “rewang hajat” menghampiri. “Mau kemana, Mas, mohon maaf jalan ditutup semua,” terang lelaki berbaju batik bercelana jeans itu.

“Saya hendak ke Sanggar (rumah ibadah Penganut Kepercayaan),” jawabku, sembari dalam hati berharap, orang tadi mengetahui sanggar. “Oh iya dekat, jalan kaki saja, motornya di sini aman,” sahut lagi sinoman tadi. Ternyata, di antara mereka sudah sangat familiar dengan sanggar, meskipun bukan penganut kepercayaan.

Usai memarkir motor, datang lagi satu pria berbaju batik putih yang juga sedang sinoman. ”Lho.. Mas Cecep. Sama siapa, Mas? Kok ndak nelpon, apa mau kondangan?” tanya Mugio, heran. Ya, Mugio ini salah satu Penganut Kepercayaan Sapta Darma di desa itu yang selama ini kerap terlibat dalam kegiatan bersama eLSA.

Ia mengira, kedatangan saya hendak kondangan. ”Saya sengaja kesini, seperti biasa,” jawabku.

“Oh… saya kira mau kondangan. Tuan hajat ini kan terkenal, Mas. Orangnya kaya dan terkenal loman (dermawan, red), baik dan suka membantu,” jelas Mugio.

Karena terkenal itulah, Mugio mengira saya mengenal tuan hajat. ”Baik dan loman (dermawan, red) dalam hal apa mas?” tanyaku.

“Banyak, Mas. Ini saja sebelum hajatan, dia bagi-bagi uang untuk semua rumah ibadah. Ya, ke Masjid, Mushola, Wihara, Gereja, dan Sanggar juga. Orangnya itu sudah terlanjur banyak uang,” selorohnya, sembari menyuguhkan sebungkus rokok dan dua gelas teh buket, khas hajatan.

Setiap Rumah Ibadah Rp 1 Juta
Pertanyaannya, di mana rumah-rumah ibadah itu berada? Ya, di Desa Candi Garon. Di desa ini penduduknya sangat beragam. Dari jumlah penduduk sekitar 250 kepala keluarga (kk), Penganut Kepercayaan sekitar 35 kk dan penganut Budha sekitar 100-an kk. ”Selebihnya penganut agama Islam dan Kristen (dan Katolik),” jelas Mugio.

Penduduknya yang beragam agama dan kepercayaan ini tak membuat hubungan sosial menjadi renggang. Antara satu keluarga dengan keluarga lain tampak sangat akrab dan dekat. Kebersamaan yang sudah dijalin turun temurun itu mereka tetap lestarikan sehingga kedamaian dan ketentraman tetap terjaga.

”Yang sedang hajatan keluarga besarnya, agamanya apa?” tanyaku. ”Mereka Muslim, Mas. Keluarga besarnya semua menganut agama Islam. Tapi mereka memperlakukan orang itu semua sama. Meskipun mereka orang kaya, tapi baik kepada semua orang, semua umat beragama,” paparnya.

Bukti tuan hajat itu baik kepada sesama, Mugio membeberkan relasi keseharian dengan warga sekitar. Menurutnya, tuan hajat ini menyumbang bukan kali ini saja. Namun, setiap ada perayaan hari-hari besar agama, tuan hajat selalu menyumbang.

“Khusus untuk yang ini saja, masing-masing rumah ibadah diberi Rp 1 Juta. Kurang lebih ada 10 rumah ibadah (berbeda) yang disumbang. Bukan hanya kali ini saja, biasanya kalau ada peringatan-peringatan hari besar keagamaan juga nyumbang,” lanjutnya.

Tuan hajat ini rumahnya tak jauh dari sanggar. Mugio sebagai anak muda yang kerap terlibat dalam beberapa kegiatan kerap mengetahui sumbang-sumbangan dari tuan hajat itu. ”Saya sampai malu, terkadang. Misalnya ya, kami kalau sedang sanggaran itu kan belanja keperluarnnya ke warungnya tuan hajat. Nah itu biasanya ndak mau kalau dibayar. Pengennya nyumbang. Entah gula atau apalah jajanan,” paparnya.

Konflik Kota Masuk Desa
Iya, tuan hajat ini rupanya ”pengusaha desa”. Ia mempunyai warung klontong yang cukup besar dan pengepul segala jenis sayuran dari petani untuk disalurkan ke pasar. Dalam menjalankan usahannya, tuan hajat ini sangat egaliter dan tak tebang pilih. Tentunya, soal modal usaha pun jor-joran.

”Para petani di desa ini hampir merata dimodali oleh dia. Sebelum menanam, para petani dipinjami modal termasuk benih dan pupuknya. Ketika panen, para petani harus menjual ke orang itu. Meskipun diwajibkan, petani tidak keberatan, karena harganya sama saja dengan bakul-bakul yang lain,” jelasnya.

Begitulah cerita dari tuan hajat yang dermawan itu. Sayangnya, penulis tak bisa berbincang-bincang langsung dengan tuan hajat karena sedang menerima undangan. Begitu besar hati orang ini, ia beragama Islam, agama mayoritas di Indonesia dan juga orang paling kaya di kampungnya.

Namun, ia tak menjadi jumawa dan sombong pada sesama. Justru sebaliknya ia menjadi simpul pemersatu, kedamaian, dan ketentraman di desanya. Semua orang, tak peduli agama dan kepercayaannya, ia bantu untuk modal pertanian. Ia juga tak segan membantu peringatan-peringatan besar agama dan kepercayaan selain agama yang dianutnya.

Pantas jika ”tuan hajat” ini disebut pahlawan perdamaian. Di bumi yang kaya raya ini banyak orang yang hartanya melebihi ”tuan hajat” ini. Bahkan hingga berpuluh-puluh kali lipatnya. Namun, orang-orang kaya di perkotaan tak bisa berperan seperti ”tuan hajat” ini yang mampu menggerakan kehidupan di desanya.

Mampu menyambung modal para petani untuk tetap bekerja dan berusaha. Jauh dari itu, ia sebagai orang kaya dan pemeluk agama mayoritas tak membeda-bedakan dalam membantu dan mendermakan hartanya. ”Di sini rukun banget, Mas. Ini saja yang sinoman campur, hampir dari semua agama dan kepercayaan ada,” tuturnya.

Kedamaian dan keharmonisan antarumat beragama dan kepercayaan di Desa Candi Garon yang sudah mengakar di masyarakat ini harus tetap dilestarikan. Konflik berlatar agama yang dipolitisasi yang baru saja terjadi di ibu kota bukan tak mungkin masuk desa. Mari kita jaga kebhinekaan, keutuhan NKRI, serta hidup bersama mulai dari desa. [eLSA-Ceprudin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here