Sedulur Sikep, Pewaris Tradisi Nenek Moyang (1)

0
397

sikep kudus[Kudus, elsaonline.com] Di usia yang belum tergolong dewasa, Dwi Winarti (16) nampak girang ketika dipersunting oleh kekasihnya, Anteng Wijanarko (17), warga Dukuh Kaliyoso, Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Pernikahan dua remaja itu terjadi tengah pekan lalu, Selasa, 17 Februari 2015 malam, di sebuah desa terpecil yang ada di Kota Kretek tersebut.

Sekilas tak ada yang unik ketika keduanya menikah. Adat lokal setempat masih dipakai dalam prosesi pernikahan. Pun pasangan muda-mudi yang menikah setelah melalui proses “pacaran” adalah sesuatu yang wajar. Menjadi agak aneh, ketika pasangan pengantin itu berasal dari penganut Sedulur Sikep, sebuah komunitas lokal yang memegang teguh tradisi nenek moyang.

Komunitas Sedulur Sikep ini tidak beragama laiknya mengikuti ajaran agama negara. Mereka mempunyai agama sendiri, agama adam atau agama nenek moyang. Tradisi pernikahan yang digelar pun dengan adat mereka sendiri, disesuaikan dengan tata cara pernikahan yang mereka yakini.

Tak seperti pernikahan dalam tradisi Islam yang memakai naib atau penghulu, ritual pernikahan Sedulur Sikep melalui pasangan Dwi Winarti dan Anteng Wijanarko itu agak berbeda. Sebelum proses perkawinan dimulai, Dwi Winarti harus dilakukan upacara adat dengan “cukur gombak”. Beberapa pucuk rambut Dwi dipotong oleh tokoh Sikep perempuan. Usai memotong rambut, mereka memberikan persembahan uang di tempat “bakul” yang disediakan.

Prosesi perkawinan Sikep tidak memakai penghulu. Peran penghulu langsung diambil pihak orang tua laki-laki yang berbicara pada keluarga perempuan disertai saksi dari masing-masing keluarga. Uniknya, hanya pihak orang tua yang diperbolehkan berbicara, sementara sang pengantin dihadap-hadapkan untuk saling berpandangan. Kendati demikian, mereka tidak lanjut bersalam-salaman atau sungkeman pada pihak orang tua. Janji dari mempelai laki-laki kepada pihak perempuan di depan orang tua mereka pun tak diucapkan. Semuanya dipasrahkan kepada orang tua mereka.

“Itu tadi tradisi Pasuwitan. Pihak keluarga laki-laki bertanya kepada keluarga perempuan, sang anak itu masih sendiri atau tidak. Ketika sendiri, yang laki-laki minta izin untuk menikahinya,” tutur Solin (42), anggota Sedulur Sikep Kudus, saat ditemui elsaonline.com di rumah mempelai wanita di Desa Larikrejo, Kudus, Selasa malam kemarin.

Setelah pasuwitan selesai, sang istri tidak bisa langsung digauli. Ada proses selanjutnya yang disebut Nyuwito. Pihak mempelai laki-laki tidak bisa langsung menggauli istrinya. Suami harus membantu keluarga perempuan terlebih dulu untuk bekerja sehari-hari. Sembari pengantin laki-laki bekerja, mempelai perempuan menyiapkan kondisi psikis untuk siap digauli. Jarak waktu antara proses pernikahan dengan menggauli istri bisa lama, tergantung dari kesiapan pihak perempuan.

“Kalau saya dulu satu bulan baru boleh gauli istri. Setelah menggauli baru lapor kepada orang tua untuk upacara adat Paseksen (Penyaksian) dari Tokoh Sedulur Sikep,” seru Solin.

Dua Jam

Tradisi adat nikah warga Sedulur Sikep atau Samin itu merupakan khazanah budaya nusantara. Jika anda ingin sesekali menengok, perlu waktu kira-kira dua jam perjalanan dari Kota Semarang untuk menjangkau tempat ini, Desa Larikrejo, Kabupaten Kudus. Jangan kaget nantinya, jika ketika masuk ke jalan area persawahan terhalang jalan yang tak begitu mulus.

Jika Anda dari Kota Kudus, cukup menuju arah Kabupaten Purwodadi, nanti berhenti di Undaan. Barulah di sana, jalan persawahan itu harus dilewati puluhan kilo meter. Hanya beberapa rumah warga di sela-sela perjalanan area sawah itu.

Di tengah kepencilan desa itu, ternyata sebuah komunitas manusia yang sudah sejak lama memegang tradisi leluhur itu hidup dan bersampingan dengan masyarakat sekitar. Mereka Sedukur Sikep memakai baru hitam dan celana hitam di atas mata kaki. Kepalanya terikat selendang, dan menggunakan alas kaki berbahan karet ban. Identitas mereka digunakan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Pegawai Negeri Sipil di Jawa Tengah sebagai seragam resmi adat di tiap tanggal 15 tiap bulannya.

Saat upacara Pasuwitan itu, warga setempat tampak guyub mendatangi rumah Budi Santoso-Tianah, orang tua Dwi Winarti. Warga setempat sudah tahu kalau Budi Penganut Sedulur Sikep. Namun, perbedaan keyakinan tak lantas jadi penghalang untuk modal keharmonisan sosial.

Tetangga Budi yang rata-rata beragama Islam terlihat saling bertegur sapa dengan warga Sedulur Sikep yang lain. Identitas mereka sangat terlihat ketika yang perempuan Islam memakai kerudung, sementara perempuan Sikep tak berkerudung. Di ujung rambutnya dibungkus atau ditandai dengan tusuk konde. Busana perempuan Sikep juga memakai kebaya.

Kepala Desa Larikrejo, Riswoko memuji sikap kedewasaan warganya dalam menerima perbedaan. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang berarti dalam aktivitas kemasyaratan, untuk saling bantu terhadap sesama.

Meski Adat pernikahan berbeda dengan keyakinan umum masyarakat setempat, Kades menghargai bahwa itu adalah kekayaan budaya. Atas hal itulah, dia mengapresiasi jika budaya adat yang diyakini warga Sedulur Sikep masih bisa dipraktekkan hingga kini, terutama dalam hal perkawinan.

“Nanti kalau ada keperluan apapun, tolong saya dihubungi. Pemerintah Desa biar bisa ikut membantu kegiatan Sedulur Sikep,” kata Rismoko, tengah pekan kemarin. (elsa-ol/Nazar-@nazaristik/002)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here