Sejarah Gereja Katolik St Yusuf Gedangan, Semarang (6)

0
370
LUAS: Bagian dalam Gereja St Yusup Gedangan tampak luas dan megah dengan ornamen khas Eropa.
LUAS: Bagian dalam Gereja St Yusup Gedangan tampak luas dan megah dengan ornamen khas Eropa.
LUAS: Bagian dalam Gereja St Yusup Gedangan tampak luas dan megah dengan ornamen khas Eropa.

[Semarang –elsaonline.com] Pembangunan Gereja St Yusup yang megah bukan tanpa rintangan. Begitu sudah berjalan peletakan batu pertama, beberapa lama kemudian pembangunan terhenti karena panitia kehabisan uang. Pembangunan diteruskan kembali sedikit demi sedikit sesuai dengan kondisi keuangan.

Pada tahun 1873 usuk-usuk atapnya sudah mulai dipasang. Atap yang sudah terpasang sempat runtuh secara tiba-tiba pada tanggal 12 Mei sekitar pukul 08.30. Faktor runtuhnya bangunan itu karena tiang-tiang di sebelah kanan dan kiri kurang kuat untuk menahan atapnya.

Menurut cerita lain, atap sempat runtuh karena kualitas batu bata yang dipakai kurang baik, maka tembok bagian kiri runtuh. Beruntung dalam kejadian itu tak ada orang yang menjadi korban.

Setelah adanya peristiwa itu, tembok-tembok dibangun kembali dengan batu bata yang diimpor dari Belanda. Tetapi kemudian gereja dibuat lebih rendah dari rancangan semula.

Pada masa itu, kapal-kapal dari belanda kerap mengunjungi Indonesia tanpa muatan. Supaya kapal tak kosong, dimana mudah terombang-ambing oleh gelombang laut diisilah dengan batu bata. Nah, di pelabuhan itulah kemudian batu bata dijual dengan dengan harga murah.

Ubin lantai merupakan sumbangan dari perusahaan keramik Regout di Masstricht, Nederland, Belanda. Pada mulanya, direncanakan ujung menarah yang lancip dan tinggi. Namun akhirnya tak jadi dilaksanakan karena bahaya gempa bumi.

“Meskipun demikian dalam buku karangan Pater AI van Aernsbergen SJ tentang sejarah Gereja di Indonesia yang diterbitkan tahun 1934 ditulis “Gereja ini, yang dibangun dengan gaya agak gotik sedikit serta diberi menara tegap,” tulis buku Sejarah Gereja St Yusup Gedangan itu.

Gereja Megah

Hingga beberapa waktu kemudian, dalam buku itu disebutkan bahwa gereja Gedangan merupakan salah satu gereja paling megah di Indonesia. Hingga sekarang masih pantas dilihat, berkat polykromi (pengecatan yang berwarna banyak-red) indah yang dibuat oleh Pastoor van Hout SJ pada tahun 1900.

Gereja ini dapat memuat kurang lebih 800 jemaat. Sejatinya ketika hendak mendapat kesan tentang bagaimanakah gaya gotik (atau dalam hal ini lebih tepat: neo-gotik-red) kita lebih baik meninjau kapel susteran Gedangan.

Gereja Gedangan dengan Santo Yusup sebagai pelindungnya diresmikan pada tanggal 12 Desember 1875 dan diberkati oleh Pastoor Mgr J Lijnen. Seluruh pembangunannya menghabiskan f. 110.000. Biaya itu didapat dari subsidi dari pengumpulan dana terus menerus, juga di kota-kota lain di Indonesia.

Selain itu juga uang terkumpul dari lotre dan akhirnya dari hasil penjualan tanah di Jalan Cenderawasih yang tidak jadi dipakai untuk gereja. Karena tak cukup juga, bekas gereja lama di Taman Srigunting juga turut dijual. Sehingga itu, peninggalan tak meninggalkan utang. [elsa-ol/Cep-@Ceprudin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here