Semangat Natal, Tebarkan Raja Damai

0
119
Tampak Uskup Agung Semarang, Mgr Johannes Maria Pujasumarta, sedang bersantai di samping goa Natal di kantornya Jalan Pandanaran 13 Semarang
Tampak Uskup Agung Semarang, Mgr Johannes Maria Pujasumarta, sedang bersantai di samping goa Natal di kantornya Jalan Pandanaran 13 Semarang
Tampak Uskup Agung Semarang, Mgr Johannes Maria Pujasumarta, sedang bersantai di samping goa Natal di kantornya Jalan Pandanaran 13 Semarang

[SEMARANG – elsaonline.com] Uskup Agung Semarang, Mgr Johannes Maria Pujasumarta, menuturkan, semangat Natal adalah mempererat persaudaraan. Sebab itu, kiranya tidak pantas jika Tuhan dikaitkan dengan dendam dan kekerasan. Pasalnya, dalam masa kekinian mengaitkan Tuhan dengan kekerasan sangat mengena. “Allah adalah kasih di tengah konflik antar agama. Jadi, Natal adalah perwujudan kasih,” ungkap Mgr JM Pujasumarta saat ditemui di Keuskupan Agung Semarang Jalan Pandanaran 13 Semarang, Senin (13/12).

Dikatakan Mgr Pujasumarta, umat Kristiani wajib membawa pesan Natal di tengah belum surutnya konflik beraroma beragama. Menurutnya, umat Kristiani perlu memberikan contoh paling sederhana di masyarakat. Contoh itu, lanjutnya, adalah mewujudkan persaudaraan antar sesama manusia dengan saling mengasihi. “Karena itu, marilah kita sambut perayaan Natal ini dengan mencari jalan untuk mewujudkanya. Marilah kita lihat Natal ini sebagai persaudaraan,” ujar anak ketiga dari delapan bersaudara ini.

Selain itu, lanjut dia, sesuai Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia sudah menyepakati pesan Natal bersama tahun 2013 bertemakan “Datanglah, ya Raja Damai”. Menurut dia, seiring dengan semangat dan tema Natal tahun ini, disadari bahwa Natal kali ini tetap masih dirayakan dalam suasana keprihatinan untuk beberapa situasi dan kondisi bangsa Indonesia. “Meski kita bersyukur bahwa Konstitusi Indonesia menjamin kebebasan beragama, namun dalam praktek kehidupan berbangsa dan bernegara, kita masih merasakan adanya tindakan-tindakan intoleran yang mengancam kerukunan. Misalnya, dengan dihembuskannya isu mayoritas dan minoritas di tengah-tengah masyarakat oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan kekuasaan,” terang lulusan Seminari Menengah Mertoyudan.

Kendati demikian, dia menilai, tindakan intoleran ini secara sistematis hadir dalam berbagai bentuknya. Selain itu, di depan mata juga tampak perusakan alam melalui cara-cara hidup keseharian yang tidak mengindahkan kelestarian lingkungan seperti kurang peduli terhadap sampah, polusi dan lingkungan hijau maupun dalam bentuk eksploitasi besar-besaran terhadap alam melalui proyek-proyek yang merusak lingkungan. “Namun, yang paling mencemaskan kita adalah kejahatan korupsi yang semakin menggurita. Walaupun usaha pemberantasan sudah dilakukan dengan tegas dan tak pandang bulu, tetapi tindakan korupsi yang meliputi perputaran uang dalam jumlah sangat besar masih terus terjadi,” beber laki-laki kelahiran Surakarta.

Lebih jauh dia menambahkan, hal lain yang juga memprihatinkan adalah lemahnya integritas para pemimpin bangsa. Bahkan, kata dia, dapat dikatakan bahwa integritas moral para pemimpin bangsa ini kian hari kian merosot. Menurutnya, disiplin, kinerja, komitmen dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat digerus oleh kepentingan politik kekuasaan. “Namun demikian, kita bersyukur karena Tuhan masih menghadirkan beberapa figur pemimpin yang patut dijadikan teladan. Kenyataan ini memberi secercah kesegaran di tengah dahaga dan kecewa rakyat atas realitas kepemimpinan yang ada di depan mata. Maka, ‘Datanglah ya Raja Dami’ semoga lekas terwujud melalui perayaan Natal 2013 ini,” pungkasnya. [elsa-ol/Munif]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here