Semaoen, SI Merah dan Kampung Gendong

0
120
Gedung Baitul Muslimin. Dulu di tempat inilah SI Merah pimpinan Semaoen bermarkas

Oleh: Tedi Kholiludin

Kampung Gendong. Area itu adalah pemukiman padat penduduk di wilayah Mataram, Semarang. Tidak sulit untuk menemukan daerah ini. Hampir semua orang mengenalnya. Apalagi tukang parkir. Masyarakat setempat mungkin tak banyak yang tahu kalau di daerahnya memiliki sebuah bangunan bersejarah.

Mari kita buka lembaran sejarah pergerakan kemerdekaan ke belakang. Lalu berhentilah di tahun 1913. Sarekat Islam adalah organisasi yang sangat popular saat itu, terutama di kalangan rakyat. Tak lama setelah berdiri pada 1911 dengan nama Sarekat Dagang Islam (SDI) di Solo dan berubah dengan membuang kata “dagang” pada 1912, SI dengan sangat cepat menyebar ke pelbagai penjuru kota. Surabaya, Batavia, Bandung dan Semarang adalah kota-kota dimana SI berdiri sampai tahun 1913. SI sendiri menahbiskan diri sebagai organisasi “Vrije Burgers”, Kaum Merdeka.

Gedung Baitul Muslimin. Dulu di tempat inilah SI Merah pimpinan Semaoen bermarkas (dokumentasi eLSA)

Adalah Raden Moh Joesoeph, seorang klerk Semarang-Joana Stoomtram Mij yang menjadi prakarsa berdirinya SI. Joesoeph sendiri yang menjadi ketuanya. Namun, tak lama setelah terpilih, kurang lebih pada pertengahan tahun 1913 terjadi perselisihan dimana anggota SI Semarang yang membunuh beberapa orang Tionghoa. Akibatnya, Joesoeph lengser menjadi wakil ketua dan ketua dijabat Raden Soedjono, mantra Kabupaten. Pergantian itu sendiri dilaksanakan di rumah Joesoeph di Pindrikan, pada 13 April 1913. Sejak saat itu mereka mulai mensosialisasikan SI ke Jomblang, Lemah Gempal, kampung Melayu, kampung Batik dan Genuk.

Tahun 1916 SI melaksanakan kongres. Ada figur yang menarik perhatian publik saat itu. Namanya Semaoen, anggota SI Surabaya yang pada tahun 1914 sudah menjabat sebagai sekretaris. Itu artinya jabatan tersebut dipegang Semaoen kala ia berumur 15 tahun. Semaoen adalah anak pegawai kereta api rendahan. Ia juga pegawai kereta api, yang terkenal sebagai agitator ulung kalangan buruh.

Setelah kongres 1916, Semaoen dipindahkan pekerjaannya ke Semarang. Disana sudah menunggu seorang pemimpin buruh Belanda, Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet, seorang pemimpin buruh Belanda. Kelak Sneevliet memimpin Serikat Buruh Kereta Api (NVSTP) yang berada di bawah kontrol Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda (SDAP). Sneevliet sebenarnya datang ke Surabaya terlebih dahulu sebelum ke Semarang. Di Surabaya, ia membuat kelompok yang bernama Indische Sociaal-Democratische Vereniging (ISDV), cikal bakal PKI, pada 9 Mei 1914. Rupanya Sneevliet dan Semaoen adalah kawan di ISDV. Semaoen masuk ISDV Surabaya pada 1915.

Di Semarang, Semaoen mendapati cabang SI yang terorganisasi dengan sangat baik dan lebih banyak dipengaruhi radikalisme. Kata Truth McVey, “Semarang pada awal abad 20 merupakan pusat perkembangan kota yang pesat, dan kemudian menjadi ajang kegiatan radikal di Hindia Belanda. Suasana kota dirasa lebih liberal dibanding kota lainnya di Jawa”. Tentu saja ini dikarenakan Semarang menjadi pusat kepentingan komersial. Semarang juga yang menjadi pusat Serikat Buruh Kereta Api Indonesia (VSTP).

Tak lama setelah kedatangannya di Semarang, Semaoen segera bergabung di SI Semarang. Ia menjadi juru bicara yang handal. Kehadiran Semaoen menggiring kelompok muda lainnya untuk mendinamisir “SI Merah”. Tahun 1916 tercatat ada 1.700 anggota dan menjadi 20.000 pada 1917. Pikiran-pikirannya ia tuangkan dalam Sinar Djawa-Sinar Hindia, majalah terbitan SI Semarang.

6 Mei 1917, pemuda kelahiran Mojokerto itu naik pangkat jadi pimpinan SI Semarang. Perubahan kepemimpinan juga menunjukan adanya perubahan dukungan di masyarakat. Mereka yang mendukung SI sekarang adalah buruh dan petani yang berasal dari kalangan bawah, bukan lagi kelompok menengah. Soe Hok Gie menyebut inilah gerakan Marxis pertama di Indonesia. Lama kelamaan Semaoen berhasil membawa SI menjadi gerakan sosialis revolusioner. Semaoen-lah yang memelopori gerakan pemogokan buruh pada 1917 dengan tiga tuntutan; mengurangi jam kerja dari 8,5 jam menjadi 8 jam, selama mogok gaji dibayar penuh dan mereka yang dipecat diberi pesangon 3 bulan gaji. Tak ayal, pemogokan ini membuat kalangkabut para majikan yang akhirnya menerima tuntutan SI Semarang ini.

Ya, di Semarang, tepatnya di Kampung Gendonglah Semaoen dan kawan-kawan memperjuangkan kepentingan kaum buruh. Di gedung yang terhitung cukup luas itu, Semaoen kerap terlibat perbincangan panjang dengan Sneevliet. Sekarang, kita hampir sulit mengenali jejak Semaoen di Kampung Gendong itu. Pada 1965/1966 markas SI Merah itu hampir dibakar masa, karena dianggap berhaluan komunis. Setelah itu, gedung ini sempat dimanfaatkan untuk tempat ibadah umat Islam. Namanya menjadi Gedung Baitul Muslimin. Tapi, gedung yang sempat difungsikan menjadi sekolah SI pada masa Tan Malaka ini, saat ini hanyalah bangunan yang tinggal menunggu waktu untuk roboh. Yang tersisa hanyalah ubin bertulisan “SI” dan sebuah mimbar dimana Semaoen pernah melontarkan agitasi di atasnya.

Ubin bertulis “SI” yang menjadi saksi kehadiran kaum merah di Semarang (dokumentasi eLSA)

Abdulrosyid, lelaki sepuh berusia 87 yang diserahi gedung tua itu tak bisa member keterangan banyak ihwal kiprah SI. Mantan aktivis Muhamadiyyah asal Jepara itu hanya mendengar cerita tentang SI dari Amen Budiman. Ada rona penyesalan di wajah Rosyid. Tentu saja karena gedung itu tak lagi bercerita. Tak lagi menunjukkan betapa revolusionernya Semaoen dan betapa gigihnya Tan Malaka. Sekarang, hanya rimbunan rumput liar yang hampir menutupi bagian depan kantor SI Merah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here