Semarang, “Ibu Kota” Gereja Isa Almasih (2)

0
111
Gereja Isa Almasih di Jalan Pringgading, Semarang

[Semarang –elsaonline.com] Kelompok masyarakat yang mula-mula tertarik pada gerakan Pentakosta ini adalah golongan Indo Eropa. “Selama ini mereka kurang mendapat perhatian dari gereja mereka, dalam hal ini Indische Kerk atau Gereja Protestan Indonesia,” tandas Jan Aritonang dalam Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja. (Baca juga: Semarang, “Ibu Kota” Gereja Isa Almasih (1))

Kurangnya perhatian itu disebabkan karena status hukum dan sosial mereka yang serba nanggung, bukan pribumi juga bukan Eropa. Selain kelompok Indo-Eropa segmen lain yang tertarik pada aliran ini adalah masyarakat Tionghoa dan suku-suku pribumi yang sudah ataupun belum Kristen.

Sementara Indrawan Eleeas dalam Gerakan Pentakosta Berkaitan dengan Sejarah dan Teologia Gereja Isa Almasih menyebut sumber yang agak berbeda tentang sumber gerakan Pentakosta hingga kemudian sampai ke Indonesia. “Cornelis Groesbeek dan Dirk Richard Van Klaveren merupakan nama penting yang perlu dicatat dalam proses itu,” kata Eleeas.

Keduanya adalah imigran dari Belanda yang tinggal di Amerika Serikat di bawah panji Bala Keselamatan atau Salvation Army. Ketika terjadi gerakan kebangunan rohani di Amerika pada 1906-1909, Pentakosta menyebar ke seluruh Amerika dengan sangat cepat. Di Gereja Bethel Temple terlihat banyak orang mempersembahkan diri untuk menjadi missionary pada tahun 1919. Enam diantaranya berasal dari Bala Keselamatan, dan empat diantaranya adalah Groesbeek dan istrinya Marie serta Van Klaveren serta Stien. Mereka kemudian diberikan kesempatan untuk melakukan pelayanan di Indonesia.

Pada tanggal 4 Januari 1921 mereka menuju Pelabuhan Seattle untuk melakukan perjalanan ke Batavia atau Jakarta. Setelah tiba di Jakarta pada Maret 1921, mereka pergi ke Bali dengan alasan, kota itu sudah banyak dikenal oleh turis mancanegara sehingga bisa mematangkan upaya pengkabaran Injil.

Di Bali, tugas mereka terhitung berhasil karena banyak orang Bali yang kemudian menjadi Kristen dengan menyaksikan Kuasa Kristus yang datang melalui penyembuhan terhadap yang menderita sakit. Tapi muncul persoalan. Pemerintah di Bali khawatir karena di sana akan sangat mungkin kehilangan adat istiadat masyarakat setempat. Karena itu Groesbeek dan van Klaveren diminta pindah dari Bali.

Tahun 1922, Groebeek dan van Klaveren pindah ke Surabaya. Tidak lama di Surabaya, van Klaveren akhirnya pindah ke Jakarta setelah sempat berusaha masuk daerah Lawang. Sementara Groesbeek di Surabaya memberikan pelayanan dan membuahkan hasil untuk mengerek panji Pentakosta. Groesbeek tercatat pernah mengunjungi Cepu dan bertemu dengan nama-nama seperti George van Gessel dan Rev. Thiesen dan Rev. Weenink. Pada tanggal 30 Maret 1923, diadakan baptisan air dengan cara selam di daerah Pasar Soreh. Dari Cepu mereka harus naik kereta api untuk mencapai Pasar Soreh. Ada 13 orang yang dibaptiskan saat itu diantaranya adalah Jan Jeckel dan istri, van Gessel dan istri, Win Vincentie dan istri, Frits S. Lumoindong dan lain-lain. Mereka yang dibaptis itu kemudian menyatakan diri siap untuk menjadi pelayan.

Pada tahun 1923. Groesbeek kembali ke Surabaya untuk memimpin jemaat yang pernah dirintisnya. Sementara di Cepu, pelayanan diserahkan kepada van Gessel. Melihat perkembangan Gerakan Pentakosta baik di Cepu, Surabaya dan Bandung serta daerah lain di Jawa, maka didirikanlah wadah gereja yang disebut De Pinkster Gemeente in Nederlandsche Indie. Pengesahan dikeluarkan dengan SK no. 29 tanggal 4 Juni 1924. Dengan terbentuknya wadah gereja Pinkster, pelayanan bertambah di Temanggung dan Sekitarnya oleh Groesbeek.

Pada perkembangannya nama Pinkster berubah nama menjadi Gereja Pentakosta di Indonesia atau GPdI. Dalam tubuh gereja tersebut kita mengenal Tan Hok Tjoan yang memisahkan diri dari GPdI pada tahun 1946 untuk kemudian mendirikan gereja bernama Sing Ling Kauw Hwee yang dikenal sebagai Gereja Isa Almasih (GIA). [elsa-ol/T-Kh-@tedikholiludin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here