Semarang Relatif Minim Konflik

1
167
Tubagus P. Svarajati (baju merah)

Tubagus P. Svarajati (baju merah)
Tubagus P. Svarajati (baju merah)
[Semarang –elsaonline.com] Dilihat dari intensitas konflik, baik yang bernuansa agama maupun etnis, Kota Semarang bisa dikatakan sebagai wilayah dengan potret kehidupan sosial yang relatif aman. Bahkan ketika transisi kekuasaan politik banyak mengorbankan masyarakat sipil, di Semarang hal itu tidak terjadi.

Demikian diungkapkan oleh Tubagus P. Svarajati pengamat masalah kebudayaan dalam sebuah obrolan ringan di kediamannya, Kampung Jambe Semarang, Rabu (17/9). “Dari pengalaman reformasi 1998, saya memotret di Gubernuran Jawa Tengah. Saya satu-satunya (keturunan) Cina yang memotret tanggal 20 Mei. Lalu tiba-tiba ada 3 orang Cina yang kemudian berorasi. Yang satu Alvin Lie, lalu pengusaha reklame, namanya Anwar Mujahid atau Adi Trisnanto. Sekarang ia salah satu ketua di ikatan periklanan Indonesia. Yang ketiga Ignatius Edi Cahyono. Tiga orang ini saya kenal,” terang Tubagus.

Pemilik ex-Rumah Seni Yaitu tersebut kemudian menambahkan, Alvin Lie yang pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia ini adalah anak pemilik toko serba ada Micky Mouse yang berubah menjadi Micky Morse. Sementara Adi Trisnanto, adalah orang yang sangat dia kenal baik dalam komunitas fotografi, termasuk Edi Cahyono.

“Saya tidak tahu bagaimana mereka bisa muncul di panggung dan berorasi. Artinya, tanggal 20 Mei itu siang hari, hanya kami orang Cina disitu. Di tengah kumpulan pelajar, mahasiswa dan orang-orang kampung di Gubernuran,” lanjut Tubagus. Fenomena itu menurutnya menarik untuk dicermati. Meski keturunan Cina, tetapi pada saat itu, mereka berempat tidak dianggap sebagai orang lain. “Meski saat saya datang dengan seorang kawan ya sempat ada mahasiswa yang melotot,” kata Tubagus mengenang. Ketiganya, kata Tubagus berorasi untuk tidak membuat huru-hara di Semarang. Termasuk seluruh mahasiswa yang berorasi di panggung, juga menyuarakan hal yang sama.

Fenomena lain juga menuncukan bahwa konflik di Semarang tidak banyak terjadi. Di Pecinan Semarang, kata Tubagus, tidak pernah bergolak dengan lingkungan di sekelilingnya. Padahal di sekitar Pecinan sebenarnya banyak lorong dan perkampungan kumuh. Pecinan juga berjejer persis dengan Kauman, mesjid yang tua di Semarang. “Dan menariknya, disana ada pasar tradisional (Pasar Gang Baru, red) yang penjualnya hanya dua etnis; Cina dan Jawa. Dalam pergaulannya di pasar mereka sering cekcok, tapi ya selesai,” kata Tubagus menjelaskan.

Hal yang sama juga dijumpai pada tahun pertengahan abad 18. Pada tahun 1740 Batavia cukup bergolak, dan kemudian banyak Cina terbunuh. Pemerintah kolonial di Semarang sangat ketakutan bahwa hal itu akan berdampak di Semarang. Maka, kata Tubagus, Cina yang ada di pinggiran seperti Simongan, itu kemudian dikumpulkan di Pecinan. Pusat pemerintahan Kolonial itu di Kota Lama dan Pecinan satu garis lurus sehingga mudah mengawasi.

“Kalau melihat sejarah itu, aneh juga sebenarnya karena Cina tidak pernah bergolak di Semarang. Ketika di Batavia ditindas, di Semarang tenang-tenang saja. Semarang pernah menerima dampak (konflik) dari Solo. Pada saat persinggungan antara tukang becak dan seorang Cina, tahun 1980. Dampaknya sampai ke Semarang, dan itu adalah terakhir konflik etnis,” kata penulis buku Pecinan Semarang dan Photagogos tersebut. [elsa-ol/TKh-@tedikholiludin]

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here