Setia Bersama Prasasti Batu Ukir Bongpay

0
244

Bong Pay (6)[Semarang –elsaonline.com] Menikmati perayaan Imlek bagi warga Tionghoa tidak hanya dengan pesta atau ibadah. Namun, ada pula yang melakukannya dalam wujud penghormatan terhadap leluhur. Ya, salah satunya dengan memasang bongpay atau batu nisan yang telah dihiasi di makam leluhur, orang tua dan saudara yang telah meninggal.

Maklum saja, bagi warga Tionghoa, bongpay yang berada di makam seseorang yang sudah meninggal merupakan gambaran perjalanan hidup. Di samping itu, ia simbol kehidupan yang dijalani oleh orang tersebut semasa hidupnya. Tidak heran, jika seorang semasa hidupnya terkenal sebagai orang kaya, ia akan dipasang bongpay yang harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah oleh keluarga yang masih hidup. Lalu, bagaimana usaha yang satu ini dapat bertahan ditengah maraknya usaha industri?

Di ujung Gang Cilik yang berbatasan dengan Jalan Gambiran terdapat sebuah usaha rumahan milik Tan Hay Ping. Suara denting pahat bertemu batu, turut serta memeriahkan. Sesekali mesin gerinda pun menghaluskan batu. Ya, begitulah usaha berupa pembuatan batu bongpay atau batu nisan ini.

Adalah Tan Hay Ping alias Pianto Sutanto meneruskan usahanya yang dirintis oleh leluhurnya. Laki-laki berkumis ini adalah generasi kelima pembuat bong pay. Meski secara hitung-hitungan tidak mencukupi, ia menganggap telah mewarisi budaya tradisi. Dengan mengandalkan Merk Hok Tjoan Hoo, ia juga melayani pembuatan prasasti, patung dan juga relief. “Untuk Hok berarti hoki, Tjoan bermakna untung dan Hoo berarti enak. Jadi, inilah filosofi kami,” ungkap Pianto, sapaan akrabnya saat ditemui dirumahnya Jalan Gambiran 25-27 Kawasan Pecinan Semarang, Minggu (2/2) siang.

Dikatakan Pianto, pihaknya mulai terjun dalam usaha pahat batu sejak tahun 1986. Menurutnya, usaha tersebut dijalankan keluarga secara turun temurun. Bahkan ia tidak tahu secara pasti kapan usaha tersebut dimulai. “Yang jelas pada tahun 1911 usaha ini sudah ada dan langsung dari China sana,” ujarnya pria kelahiran 24 April 1962 ini.

Menurut Pianto, untuk membuat batu nisan, pihaknya mendatangkan bahan secara impor dari China, India dan Italia. Sehingga kualitas barang tidak diragukan lagi. Tidak heran jika para pelanggannya berasal dari luar kota dan luar pulau. Terbukti ia banyak mendapat pesanan dari daerah Purbalingga, Jogja dan juga Jepara. “Sementara yang dari luar pulau seperti Pontianak, Samarinda dan juga Sumatra Barat. Namun, yang dari Sumatra Barat ini paling banyak pelanggannya,” terang pengidola Gus Dur.

Pianto mengaku hanya berpromosi lewat mulut ke mulut. Menurutnya, hal tersebut merupakan cara paling efektif sehingga usahanya terus meningkat. Kuncinya adalah melayani pelanggan dengan baik dan tetap mempertahankan kualitas. “Makanya, bisnis ini merupakan bisnis kepercayaan,” bebernya.

Salah satu nilai lebih dari usaha yang dijalankan Pianto adalah ia tidak mau menggunakan barang bekas. Misalnya batu nisan yang ia produksi merupakan bekas dari makam. Menurutnya, meskipun pelanggan tidak tahu, tetapi arwahnya pasti tahu. “Itu sudah menjadi amanat dari orang tua dan secara turun temurun,” ungkap pria yang memiliki empat karyawan.

Pianto mengakui, tidak hanya dari kalangan Tionghoa yang menjadi pelanggan setianya. Tetapi banyak pula dari warga pribumi. Bahkan pada saat-saat tertentu, misalnya, seperti ruwahan bagi orang Jawa dan ceng beng bagi orang Tionghoa, ia banyak menerima pesanan. “Karenanya, usaha ini dapat menjangkau lintas etnis dan juga lintas agama,” terangnya.

Meski begitu, Pianto mengakui seiring berjalannya waktu, usaha yang dijalani tidak lepas dari pasang surut. Bahkan saat ini lebih banyak penurunan dari waktu ke waktu. Menurutnya, dari pengusaha serupa yang jumlahnya mencapai tujuh kini hanya tinggal dua. Itupun yang satu tidak aktif, tinggal dirinya yang tetap bertahan. “Saya katakana, menjalankan usaha ini merupakan panggilan hati. Maka, ini tidak bisa dipaksakan. Sebab, hasil yang didapatkan belum tentu cukup untuk biaya produksi. Belum lagi untuk menggaji karyawan.  Namun saya niatkan untuk meneruskan usaha leluhur,” beber anak ke delapan dari 10 bersaudara keturunan Tan Kiem Biaw ini.

Pianto membeberkan, salah satu penyebab gulung adalah banyak lahan pemakaman yang sering digusur. Sehingga orang-orang tak mau lagi membuat batu nisan. Selain itu, banyak dari pengelola makam yang memonopoli pengurusan makan kepada pihak-pihak tertentu. “Saya menyebutnya para pengusaha batu nisan ini haknya sering dirampok,” tuturnya.

Menuru pemilik tinggi 163 meter, hal tersebut diperparah dengan kurangnya perhatian dari pemerintah. Seakan-akan pemerintah tidak peduli dan tidak mau terjun langsung ke akar bawah untuk mengetahui permasalahan yang terjadi. “Yang mereka tahu hanya menarik pajak. Padahal hanya di Indonesia orang mati ditarik pajak,” keluhnya.

Lebih jauh Pianto berharap, pihak pemerintah segera menerbitkan undang-undang yang mengatur hal tersebut. Misalnya makam tidak boleh dijadikan rumah dan tidak asal menggusur makam untuk kepentingan individu. “Iya, selain itu pemerintah harus bertindak tegas ketika ada yang melanggar siapapun itu,” pungkasnya. [elsa-ol/Munif-@MunifBams]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here